Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 55


__ADS_3

Astaghfirullah … bener kan dia datang lagi," gumam Sari nelangsa.


Sosok hantu penari dengan topeng yang sama kembali hadir di tengah para penari. Ia menatap lekat Sari dengan mata nyalang. Sari berusaha untuk mengendalikan dirinya. Gumaman yang terdengar ditelinga Sari seolah semakin terdengar dekat dan semakin dekat.


Sari gemetar dan hanya bisa memejamkan matanya. Sejurus kemudian ia hanya merasakan sepi dan sunyi, tidak lagi terdengar suara gaduh dari orang-orang yang meributkan bunyi Gong. 


Perlahan Sari membuka matanya, ia terkejut karena dirinya telah berada ditempat lain. Kabut tipis turun menyelimuti tanah, dingin sekali rasanya. 


Dimana ini … batin Sari


Ia berusaha memanggil Bagas dan yang lainnya, nihil. Tak seorang pun menjawab panggilannya. Bulu kuduknya meremang tubuhnya kembali diserang rasa tidak nyaman. Terdengar suara tabuhan musik pengiring tari, semakin lama bunyinya semakin jelas. Sari berjalan mencari sumber suara.


Tak jauh dari tempatnya berdiri, sebuah pagelaran tari sedang dimainkan. Ada lima penari dengan mengenakan topeng yang berbeda. Para penari mengenakan pakaian tari berwarna merah dan kain batik khas Cirebon, Mega Mendung. Masing-masing penari memiliki gerak dan pola tari yang berbeda sesuai dengan topeng yang dipakainya.


Sari tidak memahami tarian apa yang sedang dilihatnya. Salah seorang penari yang memakai topeng merah tiba-tiba ditarik oleh seorang wanita dengan kasarnya. Tarian pun terhenti. Para penabuh menghentikan tabuhan alat musiknya.


Terjadi perdebatan di antara sang penari dan wanita cantik bertubuh sintal yang menariknya. Seorang pria paruh baya berusaha melerai mereka, tapi wanita itu sudah terlanjur kalap dan terbakar emosi. Didorongnya dengan kuat si penari hingga membentur tiang penyangga bangunan. Seketika penari itu terkulai lemas di tanah.


Semua orang yang melihat kejadian itu langsung berteriak dan memaki maki ke arah wanita cantik yang pemarah. Seorang pemuda berinisiatif membawa tubuh wanita yang masih mengenakan topeng itu ke dalam mobil. Sementara wanita pemarah itu terus memakinya.


Sari tidak bisa jelas mendengar suara mereka, bahasa yang digunakan terdengar tidak asing baginya. Campuran Sunda dan Jawa khas Cirebon. 

__ADS_1


Tiba-tiba Sari merasakan tubuh nya ditarik kekuatan besar yang membawanya keluar dari tempat itu. Ia hanya mendengar suara berat Pak Koswara memanggil namanya.


"Mbak Sari … mbak, bangun jangan terlalu lama disana?!"


Perlahan Sari membuka matanya, dan mendapati dirinya ada diantara para penari dan Bagas yang menatapnya khawatir.


"Kamu nggak apa-apa?" Tanya Bagas


"Iya, nggak apa-apa kok bisa minta air nggak haus nih?" Pinta Sari


Bagas menyodorkan air mineral dalam botol pada Sari. Ia menunggu Sari tenang agar bisa bercerita. Sari berdiri dibantu dengan Ratih dan seorang penari lain. 


Ratih memandang pada penari lain dan juga Bagas sebelum menjawab,


"Ehm, iya mbak bisa dibilang begitu." Jawab Ratih


"Kok jawabnya ngambang, pingsan atau trance nih?" Tanya Sari lagi penasaran


"Perpaduan keduanya deh mbak, bingung saya jelasinnya!" Jawab Ratih.


"Apa yang kamu lihat disana mbak Sari?" Tanya Pak Koswara tiba-tiba.

__ADS_1


"Saya juga bingung pak, ada penari pake topeng merah dia …" 


Sari tidak melanjutkan perkataannya kepalanya tiba-tiba pusing dan terdengar suara berbisik di telinganya.


"Diam … jangan …!"


Seketika Sari terdiam, ia merasa harus mengikuti bisikan itu.


"Penari apa maksud mbak Sari?" Tanya Pak Koswara semakin mencecarnya


Sari menatap ke arah Pak Koswara, pertanyaaan nya seolah mengintimidasi dirinya. Sari tidak suka itu.


"Entah, saya lupa pak maaf!" Jawab Sari tegas


Pak Koswara menatap tajam ke arah Sari, ia ingin memaksa Sari bicara tapi jawaban yang diberikan Sari membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa.


"Gas, antar aku pulang badanku nggak enak?!" Pinta Sari pada Bagas


Bagas mengangguk dan membantu Sari berdiri. Sebelumnya Bagas meminta Doni dan yang lainnya untuk melanjutkan liputan mereka.


Selama perjalanan pulang, Sari hanya terdiam dan memikirkan apa yang ia lihat. Sari yakin itu adalah petunjuk. Dan sosok gaib berwujud penari itu hanya ingin berkomunikasi dengan caranya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2