
Mbak Diah dan Mas Hendra yang sedang bersantai di teras rumah terkejut melihat kedatangan Sari yang terlihat pucat, apalagi Sari enggan berbicara. Ia memilih segera masuk ke dalam kamar. Mas Hendra yang penasaran menanyakan perihal Sari pada Bagas.
"Ada apa, kok pulang cepat dia?" Tanya Mas Hendra
"Biasa mas penyakit Sari kambuh." Jawab Bagas
"Heem, nda kaget dah saya, kemasukan lagi dia?" Tanya Mas Hendra lagi
"Saya juga nggak paham dibilang kesurupan nggak juga, pingsan juga nggak,"
"Eh, kok gitu gimana ceritanya tuh nggak paham saya?" Tanya Mas Hendra meminta penjelasan
Bagas lalu menceritakan yang terjadi. Diawali dari Gong yang tiba-tiba berbunyi sendiri dan membuat heboh semua yang ada disana, lalu Sari yang tiba-tiba berdiri menghampiri para penari dalam kondisi kehilangan kesadarannya.
Sari berjalan dengan tatapan kosong dan tiba-tiba terjatuh di tengah para penari sintren. Mata Sari tertutup tapi mulutnya memanggil manggil semua teman timnya. Seperti layaknya orang yang tertidur dan mengigau.
Mas Hendra mendengarkan dengan seksama dan menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Biarin dia istirahat dulu, mungkin dia kecapekan besok pagi kita tanya dia." Kata Mas Hendra
Bagas menganggukkan kepalanya dan berpamitan untuk kembali ke rumah Pak Koswara. Disana Doni dan yang lainnya masih membicarakan Sari dan juga gong yang berbunyi sendiri.
__ADS_1
Suasana agak sedikit lebih tenang setelah Pak Koswara dan sesepuh Seca Branti melakukan ritual khusus. Ini bukan kali pertama gong itu berbunyi sendiri, pada malam-malam tertentu suara gong terdengar dari dalam ruang penyimpanan. Hanya saja kali ini bersamaan kejadian Sari yang mengalami kondisi trance.
"Mbak Sari gimana mas Bagas?" Tanya Pak Koswara ketika melihat Bagas datang dan duduk di sebelahnya.
"Masih shock sepertinya pak, dia langsung tidur nggak banyak bicara tadi." Jawab Bagas lirih
Bagas tidak ingin mengganggu sesepuh Seca Branti yang sedang melakukan ritual.
"Mereka sedang apa ya pak?" Tanya Bagas
"Ritual mas, tadi sepertinya ada yang ingin menyapa mungkin merasa terganggu dengan sesuatu." Jawab Pak Koswara.
"Sering pak kejadian begini, maksud saya gong itu berbunyi sendiri?" Tanya Bagas lagi
"Eeh, kok Sari pak?" Bagas pun dibuat keheranan dengan pernyataan pak Koswara.
"Saya mau nanya nih agak sedikit pribadi ke mas Bagas, mbak Sari itu siapanya mas Bagas ya temen,sahabat, pacar, atau calon istri nih?"
Bagas tertawa mendengar pertanyaan Pak Koswara ia lalu menjawab,
"Semuanya dah pak, paket komplit!" Jawab Bagas sekenanya
__ADS_1
Pak Koswara ikut tertawa kecil mendengar jawaban Bagas,
"Emang kenapa nih bapak pengen tahu hubungan saya sama Sari?" Tanya Bagas
"Saya cuma mau tau mbak Sari itu … duh gimana ya ngejelasinnya, ehm apa dia punya kekuatan supranatural?" Tanya Pak Koswara
" … " Bagas hanya bisa membuka mulutnya lebar, bingung.
"Saya yakin mbak Sari punya linuwih, mengingat kejadian kemarin dan yang baru saja terjadi. Mas Bagas tahu nda dia dapat dari mana asli keturunan atau belajar?" Tanya Pak Koswara
"Eeh, waduh saya nggak paham masalah itu pak. Itu urusan pribadi Sari sendiri, dia punya privasi yang harus saya jaga juga pak jadi maaf saya nggak bisa jawab tentang hal itu!" Jawab Bagas dengan tegas
Bagas merasa kurang suka dengan sikap pak Koswara, ia harus memberikan jawaban tegas karena ini sudah menyangkut privasi anggota tim yang harus dijaganya. Untungnya pak Koswara bisa menerima dan memahami hal itu. Ia tidak menanyakan kembali masalah Sari dan beralih membahas yang lain.
"Lusa kami juga ada pertunjukan di desa sebelah, mau ikut juga?" Tanya Pak Koswara.
"Masih ada lagi ya pak, wah boleh tuh buat melengkapi liputan yang pertama kemarin pak!" Jawab Bagas
"Bagus, setidaknya uang yang dikeluarkan mbak Sari untuk kami berguna kan mas?"
Pak Koswara mengerlingkan matanya ke Bagas, dan Bagas hanya bisa tersenyum masam.
__ADS_1
Berguna sih, tapi yo melas Sari mbok peres pak …,batin Bagas
Proses liputan pasca pergelaran selesai. Malam itu mereka langsung kembali ke rumah Abah Hadi. Rencana menginap di rumah Abah Hadi diperpanjang karena lusa mereka akan kembali bersiap meliput pagelaran sintren kedua sebagai bahan pelengkap liputan.