Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 155


__ADS_3

Sari benar-benar memantapkan niatnya untuk pergi ke villa rahasia milik Mang Usep. Keinginan kerasnya bahkan tidak bisa dibendung lagi oleh mom Adeline. 


"Apa nggak bisa ditunda besok sayang?" 


"Geen mam, Sari hoeft nu weg te gaan!"


(Nggak bisa mom Sari harus berangkat sekarang juga.)


"Tapi ini sudah larut malam Sari, jalanan ke Cigugur itu ngeri lho. Mom khawatir sayang." 


"Mom Bagas juga Doni kan jagain Sari. Mom tenang aja, mereka lihai kok." Sari membereskan beberapa barang yang ia perlukan lalu memasukkannya dalam tas punggung.


"Sari berangkat mom, i love you mom." Sari berpamitan dan mencium tangan ibundanya.


"Bagas, Doni … hati-hati ya, tolong jagain Sari!" 


"Siap Tante, kita pergi dulu … assalamu'alaikum!" Doni berpamitan.


Mereka bertiga berangkat menuju Cigugur menembus gelapnya malam dan dinginnya hawa pegunungan yang menggigit. Jalanan terasa lengang dan sepi. Doni dan Bagas sengaja mengajak sopir pribadi tante Kurnia yang mengerti arah jalan.


"Cckk, Sar… Sar, kamu itu kalo udah punya keinginan mbok ya dipikir dulu. Segala menembus malam  gelap begini dijabanin!" Bagas mengeluh.

__ADS_1


"Nggak ada waktu lagi Gas, Tante Danique datang tadi. Aku harus segera cari jasadnya. Dia mau pulang."


"Iya sih, aku juga paham itu. Tapi kan bisa di nego bilang aja besok Tante … ini dah malem, kan bisa?!" 


"Eh Gas, Lo pikir beli tanah pake nego segala!" Doni menyahut.


"Ya kali aja Don, bisa nego. Ini dah malem banget, berasa jadi ghost Hunter gue!" 


"Sama Gas, eh Sar gimana kalo kita buka jasa ghost Hunter keren kayaknya tuh. Lo kan sakti Sar kita jadi asistennya!" Doni mengeluarkan ide konyolnya.


"Lumayan juga ide Lo, kerjaan sampingan sambil nyari liputan. Kita pasang tarif, side job keren niih!" Bagas menimpali ide konyol Doni.


"Kan ada Lo, kita mah tinggal ngikutin aja Sar." sahut Doni santai.


"Heem, trus nti kalo hantunya ketangkep emang mau diapain?" tanya Sari lagi.


"Bisa nggak sih kita jual Sar?" tanya Bagas yang berhasil membuat Sari membelalakkan matanya.


"Eh, dijual? Lah kamu kira mereka barang dagangan? Kita bukan dukun model si Usep kali?!" jawab Sari kesal.


"Nggak bisa ya? Wah trus diapain apa kita jadiin mereka karyawan?!" Bagas kembali membuat Sari kesal.

__ADS_1


"Bagaaas!" hardiknya


"Gas, Lo ganteng, pinter, tapi oon bener! Demit dijadiin karyawan, niat amat! Pengen susah matinya Lo?!" Doni mengingatkan sahabatnya itu.


"Iya … iya, kan becanda Don. Gue juga tahu lah. Masih punya cita-cita bahagia dunia akhirat gue!" ujar Bagas.


"Eh Sar, ngomong-ngomong Lo dah dapet alamatnya kan dari Seno?" tanya Doni


"Udah kok, pak Ujang udah dah paham. Ya kan pak?"


"Insyaallah neng Sari, tapi jalan kesana agak ngeri memang. Kalo bisa nih jangan pada tidur yak, takut saya khilaf nyetirnya!" pinta pak Ujang.


"Tenang aja pak, kita temenin. Kalo capek istirahat dulu aja, ngopi dulu." Sari menyanggupi permintaan pak Ujang.


Sari diam-diam memasang pelindung gaib untuk mereka, sedari tadi Sari merasa ada yang mengikuti dan memperhatikan dari luar. Ia berharap mereka tidak akan mengganggu pencariannya.


Perjalanan menuju daerah Cigugur jika dilakukan pada siang hari memang tidak terlalu menyulitkan, berbeda jika dilakukan malam hari. Jalanan berkelok dan tikungan tajam harus bisa dilewati dalam gelapnya malam. Untungnya pak Ujang cukup lihay mengemudi, sejauh ini belum ada kendala berarti.


Sari terus berjaga memperhatikan sekitar sementara Doni dan Bagas terus mengajak pak Ujang bicara agar tidak mengantuk. Hingga pada sebuah tikungan Sari melihat sesosok makhluk seram dengan nekatnya berdiri di pinggir jalan mencoba menghalangi mobil yang ditumpangi Sari.


Mau apa dia, awas aja kalo berani macam-macam!

__ADS_1


__ADS_2