Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 114


__ADS_3

Sari menggunakan kekuatannya untuk mempengaruhi Arjuna. Sosok penari hantu yang muncul tiba-tiba seolah membantu dan berpihak pada Sari. Tatapan Arjuna kosong, ingatannya yang melayang pada masa lalu membuatnya tak bergeming sedikitpun dari tempatnya.


Sari perlahan melepas topeng Kelana yang dikenakannya dan menyeringai pada Arjuna yang masih tidak sadar dan tenggelam dalam pengaruh pikiran Sari. 


"Sakti darimana, cuma dipengaruhi dikit aja langsung keok." sarkasnya sambil berjalan menghampiri Arjuna.


Sosok penari hantu itu kini berdiri tak jauh dari Sari. Tidak ada lagi rasa takut yang dirasakan Sari pada penari hantu itu. Ia yakin sosok itu adalah roh dari Tante Danique yang akan membantunya.


"Mas Juna, mas … mas Juna kenapa diem aja gitu?" Sari berusaha menyadarkan Arjuna dengan menyentuh tangannya.


"Eh, tadi … "


"Tadi kenapa?" tanya Sari tersenyum mengejek Arjuna.


"Kamu … tadi itu?"


"Saya kenapa, mas Juna aneh ni lagi diajak ngobrol malah ngelamun. Emang ngelamunin apaan sih sampe saya dicuekin gitu, pacarnya ya? Atau istrinya?" goda Sari sambil mengerlingkan matanya membuat Arjuna berdesir menatap gadis cantik di depannya.


Sari sengaja menggoda Arjuna dengan mendekatkan wajahnya pada iblis tampan yang berdiri di depannya.

__ADS_1


"Apa saya kurang cantik ya sampai mas Juna malah ngelamun?!"


Mata indah Sari yang berwarna coklat beradu dengan mata Arjuna. Sari bisa melihat ada sesuatu yang bersemayam di mata Arjuna dan ia yakin itu bagian dari mustika yang tertanam di tubuh Arjuna untuk memikat mangsanya.


"Jangan memancing singa yang sedang tidur mbak!" sahut Arjuna dengan senyuman iblisnya.


"Singa? Saya sukanya kucing!" balas Sari dengan senyuman sinis.


Tatapan keduanya seolah berubah menjadi ajang adu kekuatan antara hitam dan putih. Arjuna mendapat lawan tangguh. Wanita cantik yang ia kira hanya gadis biasa ternyata bukan wanita sembarangan. 


Dia punya kekuatan yang lumayan, pantas mereka menginginkan wanita ini …, batin Arjuna


"Mbak Sari memang luar biasa, saya akui kalah." 


"Eh, memangnya kita lagi ngapain kok kalah, main suit? Mas Juna ada-ada aja nih?!" sahut Sari dengan santainya.


Arjuna tertawa mendengar perkataan Sari yang masih berpura-pura tidak terjadi apa-apa, "Mbak Sari, you're amazing! Baiklah saya pergi dulu, silahkan menikmati galeri seni ini sebelum mbak Sari pergi." 


Arjuna menatap Sari dan maung bodas yang masih sesekali menggeram padanya bergantian. Ia baru saja mau berbalik dan melangkahkan kakinya ketika Sari mengajukan pertanyaan yang membuatnya terkejut,

__ADS_1


"Lima belas tahun lalu, wanita periset seni asal Belanda! Apa Mas Juna ingat?!"


Arjuna berhenti, tangannya mengepal keras. Dugaannya benar Sari mengenal wanita dalam ingatannya barusan. Ia pun berbalik menatap Sari dengan tatapan mengancam,


"Apa maksud mbak Sari?"


"Danique Van Leeuwen, mas Juna kenal dia kan?" jawab Sari


"Maaf sepertinya mbak Sari salah, saya nggak kenal siapa Danique?" jawab Arjuna datar, matanya terus menatap tajam pada Sari.


"Serius mas Juna nggak kenal? Nama mas Juna tertulis dengan jelas di buku harian Danique Van Leeuwen, itu kamu kan?!"


"Banyak yang punya nama Arjuna mbak Sari, bisa juga itu orang lain?" jawab Arjuna menahan amarahnya.


Maung bodas kembali menggeram memperingatkan Arjuna. Mata Arjuna melirik ke arah makhluk gaib berbulu yang telah siaga di samping Sari.


"Ada berapa yang bernama Arjuna di galeri Dewangga? Jawab saya dengan jujur, mas Juna ingat kan nama Danique?"


Arjuna masih terdiam, ia merasa seperti pencuri yang tertangkap basah.

__ADS_1


"Dia, Tante saya dan dia menghilang setelah melakukan riset disini! Tell me, where is she now?!"


__ADS_2