Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 92


__ADS_3

Di dalam kamar, Kang Malik beserta kedua asistennya bersiap untuk melakukan proses ruqyah. Mang Aa memberikan ruang bagi ketiganya, ia duduk bersila di sudut kamar. Tante Kurnia dan Annisa membantu Sari untuk duduk bersandar.


Sari masih belum siuman, tubuhnya yang terkulai lemas dijaga oleh Tante Kurnia dan Annisa.


Mas Hendra meletakkan tembikar berisi air dan daun Bidara di depan Kang Malik. Ia kemudian mendekati Mang Aa dan duduk di sebelahnya. Mang Aa memejamkan mata dan mulai berdzikir, begitu juga dengan Mas Hendra. Ruqyah pun dimulai. 


Diawali dengan membaca shalawat dan dilanjutkan dengan membaca ayat-ayat inti ruqyah mulai dari Al-fatihah, diikuti beberapa ayat dari Al Baqarah, Ali Imran, An Nisa, Al Araf, Yunus, dan beberapa suratan lain yang biasa digunakan untuk mengobati sihir dan santet.


Sari mengerang, ia seolah terbangun dari pingsannya. Matanya masih tertutup tapi tubuhnya terus menggeliat, gelisah, meronta, dan mengamuk tanpa bisa dikendalikan. Tante Kurnia dengan sabar terus menjaga Sari.


Sesekali Sari mengeluarkan cairan bening bercampur darah dari mulutnya. Berkali-kali Sari memuntahkan sesuatu hingga akhirnya ia benar-benar terdiam dan tenang.


Kang Malik menutup ruqyah dengan bacaan Al-Mu'awwidzat yang terdiri dari Al-Ikhlas, Al Falaq, dan An-Nas sebanyak 3 kali pada masing-masing surat. Meniupkannya dalam air di tembikar. Kang Malik mengambil sedikit air dalam tembikar dan memercikkan air ke wajah serta tubuh Sari.


Sari mulai membuka matanya perlahan. Tubuhnya masih lemas, Tante Kurnia memberikan Sari minum yang sudah dibacakan ayat ruqyah oleh asisten Kang Malik. Ia merasa jauh lebih baik, rasa sakit di perutnya berangsur reda meski belum sepenuhnya hilang.


"Gimana, udah enakan belum?" tanya Kang Malik setelah Sari sedikit tenang.


"Lumayan, nggak sesakit tadi."

__ADS_1


"Memang nggak bisa sepenuhnya menghilang setidaknya berkurang kan?" tanya Kang Malik.


Sari mengangguk lalu ia bertanya, "Saya kenapa sebenarnya? Kok tiba-tiba aja sakit begini?"


Mang Aa mendekati Sari, lalu duduk di sebelahnya.


"Maaf Mamang lengah buat jagain kamu. Seharusnya Mamang nggak pergi semalam." Mang Aa meminta maaf pada Sari menyesali kelalaiannya menjaga keponakan cantiknya.


"Kenapa harus minta maaf mang, Sari nggak nyalahin Mamang kok. Ini bagian dari takdir." ujar Sari menyikapi hal yang baru saja dialaminya.


"Untung aja khodam kamu ikut ngelindungin kalau nggak bakalan lebih parah dari ini." kata Mang Aa lagi.


"Kau bisa mati Sar!" jawab mang Aa


Sari merasa ngeri, bulu kuduknya meremang membayangkan kematian. Pada saat yang bersamaan Sari merasa beruntung karena memiliki khodam yang menjaganya. Ia juga bersyukur memiliki Mang Aa dan Mas Hendra yang memahami hal gaib sehingga mereka dengan sigap bisa menolongnya.


"Semalam Sari mimpi dikejar bola api besar mang. Sari juga denger suara yang bilang kalo ini kali ketiga ia menyerang Sari."


"Kali ketiga?" tanya Mang Aa heran.

__ADS_1


"Iya, suara itu bilang begitu mang. Kemarin waktu di Kasepuhan bola api jg datang tapi Bayu nolong Sari." Sari kembali melanjutkan ceritanya.


"Bayu? Kamu ketemu dia?" tanya Mang Aa lagi.


"Iya, dia nemuin Sari dan bilang kalo seseorang tahu Sari datang ke Kasepuhan."


Mang Aa terdiam, ia lalu menatap Kang Malik. Mereka seolah sedang berdialog dalam diamnya. Sari menatap Mang Aa dan Kang Malik bergantian.


"Sar, yang mengirim teluh ini dukun terhebat di daerahnya. Mamang yakin dukun ini juga sekarang sedang kesakitan karena kamu sendiri selamat, tapi …" Mang Aa seperti ragu untuk melanjutkan kata-katanya lagi.


"Tapi?" tanya Sari penasaran.


"Kejadian ini bisa terulang lagi, kamu hati-hati jangan lengah. Latih kepekaan diri kamu mulai sekarang, untuk berjaga-jaga!" pinta Mang Aa


"Tapi Sari nggak bisa Mang! Sari nggak tahu harus gimana juga!" Sari menolak secara halus meski hatinya mengatakan setuju dengan permintaan Mang Aa.


Ia merasa belum siap menerima hal itu. Sari masih takut jika kekuatannya akan membawa dirinya pada hal yang tidak baik. Menjadikannya manusia yang sombong dan lupa akan kekuasaan Gusti Allah.


Disisi lain Sari juga khawatir akan mengalami hal sama seperti hari ini. Kata-kata Mang Aa bahwa khodam yang dimilikinya telah membantu Sari untuk melawan santet, membuatnya juga merasa membutuhkan kekuatan itu.

__ADS_1


Sari dilema antara keyakinan dan kebutuhan.


__ADS_2