
Sari lebih banyak diam selama dalam perjalanan. Otaknya berpikir keras bagaimana cara menghadapi Mang Usep dan juga Juna anaknya. Ia harus memikirkan cara untuk bisa mendekati mereka untuk mengetahui keberadaan Tante Danique, dengan meminimalisir resiko.
Bagas dan Doni saling berpandangan, mereka tahu apa yang dipikirkan sahabat cantiknya itu.
"Sar, kok diem aja sih dari tadi? Lo mikirin apa sih?" tanya Doni berpura-pura.
"Hhmm, mikirin perkataan pak Koswara nih. Aku bingung gimana caranya ngadepin kakaknya tanpa resiko?" jawab Sari dengan nada sedikit tertekan.
"Iya juga sih, gimana kalo gue ma Bagas aja yang masuk kesana. Dia kan ngincer cewek cakep kayak Lo Sar, nah Lo pantau aja dari jauh kita yang maju. Aman kan?" Usul Doni pada Sari dan Bagas.
"Nah bener juga tu saran Doni, Sar! Kamu liat dari jauh aja, biar kita yang masuk nanya nanya tentang Tante kamu!" Bagas membenarkan usulan Doni pada Sari.
Sari terdiam dan berpikir sejenak. Ia kemudian berkata, "Nggak deh, aku yang bakal hadapin Mang Usep sendiri!"
"Eh jangan gila Lo, Sar! Bahaya lho, nti kalo dia nandain Lo gimana kan gue bakal kehilangan sahabat tercantik gue!" seru Doni
"Doni! Kamu tega banget siih, sama aja kamu doain aku mati jadi tumbal kalo gitu. Dasar nggak ada akhlak, sembarangan deh kalo ngomong!" ujar Sari kesal sambil memikul ringan lengan Doni.
Doni tertawa lalu menjawab, "Bukan gitu Sar, tau ndiri peringatan pak Koswara kan? Dia suka wanita cantik, nah Lo kan paripurna banget sampe disukai dunia nyata dan dunia goib lho! Daripada jadi tumbal ya mending jadi istri gue lah?!"
__ADS_1
"Heeeem, bilang apa Lo, Don? Coba sekali lagi yang bagian akhir diulang!" sahut Bagas kesal.
"Astaga, khilaf gue Gas kirain Lo dimobil sebelah!" kata Doni cengengesan.
"Awas aja lo berani nikung gue Don, langsung gue mutasi ke Papua ketemu temen Lo disana!" ancam Bagas pada Doni.
"Waduh anceman Lo Gas, kagak sekalian mutasi ke pedalaman Amazon aja niih biar dapet Harem banyak gue disana?!" sahut Doni dengan wajah cemberut.
"Enak di elo kagak enak di mereka, asem liat muka pas-pasan Lo, Don!"
"Nasib dah, Sar emang nggak ada kesempatan nih buat gue jadi penjaga hatimu?" tanya Doni penuh harap.
Sari tertawa melihat tingkah mereka berdua, celotehan pertengkaran mereka berdua selalu bisa menghibur dirinya.
"Udah deh, becanda melulu!"
"Gas, kita langsung ke Keraton ya mumpung masih siang. Semoga yang aku cari mau menunjukkan dirinya." kata Sari dengan penuh harap.
Sari berharap Bayu mau menemuinya. Ia membutuhkan petunjuk mengenai buku tua dan juga galeri seni itu. Sari yakin Bayu mengetahui sesuatu dan akan membantunya memecahkan misteri.
__ADS_1
Selepas Dhuhur, mereka tiba di kota Cirebon. Bagas meminta Ahmad dan Rara untuk menunggu mereka di kediaman Tante Kurnia melalui pesan singkat. Sari pun menghubungi mas Hendra perihal rencananya.
Awalnya mas Hendra tidak menyetujui tindakan Sari tapi ia berjanji pada Mas Hendra untuk berhati-hati dan tidak terbawa emosi hingga akhirnya mas Hendra pun mengijinkan Sari kembali ke Keraton Kasepuhan dan juga mencari galeri yang dimaksud.
Mereka tiba di Keraton Kasepuhan Cirebon, suasana sedikit ramai karena memang bertepatan dengan liburan sekolah dan juga akhir Minggu. Kang Yana kembali menyambut kedatangan mereka, rupanya Mang Aa sudah menghubungi Kang Yana melalui ponselnya perihal kedatangan Sari.
"Siang mbak Sari?!" sapanya dengan ramah.
"Eeh, Kang Yana ya kok tau Sari kesini?" jawab Sari
"Mamang kamu tadi telepon minta tolong buat jagain dan nemenin kamu disini." jawab Kang Yana sambil tersenyum.
"Mang Aa is the best mah pokoknya!" sahut Sari.
"Ayo masuk mba, Den Bayu sudah menunggu di dalam!" ajak Kang Yana diikuti anggukan dari Sari.
" ... "
Bagas dan Doni hanya bisa saling berpandangan dan mengekor Sari memasuki pelataran halaman Keraton Kasepuhan.
__ADS_1