
Sari mencoba memahami petunjuk yang baru saja ia dapatkan. Seno, kekasih Ratih yang bekerja di sebuah galeri seni di Cirebon. Dia petunjuk baru bagi Sari. Bagas dan Doni menunggu penjelasan dari Sari yang masih terdiam.
"Sar, maksud kamu gimana ini kok nggantung sih kasih taunya. Siapa si Seno itu?"tanya Bagas.
"Seno muncul dalam kenangan si hantu penari."
"Eeh, maksud kamu si Seno terlibat?" tanya Bagas lagi, perkataan Sari dirasa tidak masuk akal baginya.
"Aku belum tahu pasti, yang jelas Seno ada di dalam mobil yang sama dengan pria yang membunuh penari itu."
"Sar, sorry nih gue mau nanya lo yakin hantu itu Tante Danique? Darimana lo tahu dia Tante kamu, kan belum ada kabar apapun lho dari Tante kamu. Bisa aja dia masih hidup Sar, di suatu tempat mungkin?!" Doni bertanya seolah menyangsikan kebenaran siapa sosok hantu penari itu.
Sari menatap Doni yang duduk di kursi tengah, lalu ia menjawab.
"Mang Aa bilang dia sudah nggak bisa lagi ngrasain keberadaan Tante Danique yang ada hanya keberadaan Tante Danique terselubung oleh aura jahat."
"Maksudmu Tante Danique sudah meninggal?!" tanya Bagas sedikit bingung.
Sari mengangguk, Bagas dan Doni terdiam mereka bertiga bingung harus bagaimana selanjutnya.
"Apa rencana kamu, lusa kita dah balik ke Cirebon. Kita nggak bisa lama-lama disini karena Pak Arya sudah minta aku kembali ke kantor?"tanya Bagas.
"Aku perlu bicara sama Seno, gimana kalo malam ini kita janjian ketemu dia di rumah Ratih?"
"Eh Sar, buru-buru amat mau ketemu Seno ya kalo dia dah balik kalo belum gimana?"
"Ya kita kan janjian dulu Gas ma dia, makanya aku minta nomor handphone nya tadi!"
"Oke fine, you call him! Kita akan nemenin kamu malam ini!" perintah Bagas pada Sari.
__ADS_1
Mereka tiba di rumah Abah Hadi sebelum Maghrib. Mas Hendra dan Mang Aa rupanya sudah menantikan kedatangan Sari.
"Akhirnya pulang juga kamu, dari mana Sar?" tanya Mas Hendra
"Jalan-jalan sebentar mang, ada apa nih kok kayaknya pada nungguin Sari?"
Mas Hendra dan Mang Aa saling berpandangan, "Ada yang harus kita omongin bentar, bisa ikut?"
Sari langsung mengekori mas Hendra dan Mang Aa, mereka masuk ke dalam kamar Mas Hendra.
Sementara itu Bagas dan Doni membersihkan diri mereka masing-masing dan bergabung dengan Ahmad dan Rara yang masih sibuk dengan tugas mereka.
"Dah kelar?" tanya Bagas
"Dikit lagi bos!" jawab Ahmad
"Kamu Ra, gimana?"
"Oke, sorry aku nemenin Sari dulu buat nyelesain masalah disini. Urusan liputan aku serahin ke kalian berdua dulu ya sementara?"
"Siap Bos, yang penting pengertiannya lah ya nda Ra?" kata Ahmad memberi kode pada Rara. Tentu saja yang dimaksud Ahmad tambahan bonus.
"Yoi Mad," sahut Rara mengiyakan
"Tenang semuanya bisa aku atur." Kata Bagas memberikan kepastian.
...----------------...
Di lain tempat, Pak Adit sedang berjuang melawan rasa sakit yang luar biasa. Ia menjerit dan mengerang, berguling sambil memegangi perutnya. Wajahnya pucat pasi keringat membanjiri seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Pak Ghani berusaha menenangkan Pak Adit. Teluh yang dikirimkan Pak Ghani kembali kepada si pengirim. Pak Ghani sendiri juga terkena imbasnya, ia terkena luka dalam dan sempat muntah darah.
Pak Adit bersedia membayar mahal Pak Ghani untuk mencelakai Sari, sayang mereka tidak mengetahui bahwa Sari merupakan salah satu keturunan dari trah Siliwangi.
Pertarungan gaib antara Ghani dan khodam milik Sari sudah cukup membuat Ghani kewalahan ditambah lagi dengan bantuan dari Mang Aa dan Mas Hendra membuatnya kalah telak.
"S*** awas kamu Sari … aku belum kalah!" teriak pak Adit sambil menahan sakitnya.
"Kamu, cepat kerjakan lagi saya mau dia mati!" perintahnya pada pak Ghani
"Itu bisa diatur, kita sudah tahu kekuatan dia … anak itu pasti punya kelemahan, yang penting sekarang pak Adit sembuh dulu!"
"Cepat kamu sembuhkan saya, berapapun akan saya bayar!"
Pak Ghani membantu pak Adit untuk duduk, ia kemudian memposisikan dirinya di belakang pak Adit. Mulutnya merapalkan mantra pemanggil Danyang pengikutnya. Kedua telapak tangannya diletakkan pada punggung pak Adit, tak berapa lama kepulan asap tipis keluar dari kedua tangannya.
Pak Adit memuntahkan sesuatu dari perutnya. Darah kental bercampur barang-barang kiriman seperti jarum dan paku berkarat keluar melalui mulutnya. Pak Adit pingsan. Darah segar juga keluar dari hidung pak Ghani, luka dalamnya semakin parah. Membuatnya limbung, pandangannya kabur dan tubuhnya seolah tak memiliki tulang lagi lemas tak berdaya.
"Kurang ajar, baru kali ini aku kalah. Aku akan membuat perhitungan dengan mu nona cantik. Tunggu pembalasan dariku!"
...****************...
...Happy Monday morning everyone.....
...Selamat bekerja lagi, selamat bersibuk ria lagi......
...Tetap semangat yaaa meski harinya tidak terlalu baik menurut kalian......
...Keep healthy and stay save...
__ADS_1
...Have a nice day... love u all🥰🥰...