Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 159


__ADS_3

Sari kembali harus berhadapan dengan para lelembut penjaga villa Mang Usep. Villa itu telah lama tidak digunakan lagi tentu saja dengan mudah dikuasai oleh para roh gentayangan yang bersemayam di sana.


Sari bersiaga, ia tidak ingin kecolongan dan mendapat serangan dari roh-roh gentayangan itu. Sari menghitung banyaknya roh yang muncul di hadapannya, ada lebih dari sepuluh. Bisa kalah telak jika mereka menyerang bersamaan. 


Ia berusaha melakukan komunikasi dengan mereka. Dan rupanya itu tidak mudah. Mereka hanyalah bagian dari komunitas kecil penunggu villa. Sari kembali berkomunikasi dan mengatakan maksud kedatangannya.


Ia tidak berniat mengganggu, ia hanya ingin mengambil jasad Danique Van Leeuwen. Rupanya niatan Sari itu ditanggapi dengan serius, dan mereka pun mendatangkan sang pemimpin.


"Ada apa kamu berani datang kemari?" tanya makhluk tinggi besar hitam berbulu dan bermata merah itu.


"Saya datang dengan damai, untuk mengambil jasad Danique. Tolong beri saya jalan." pinta Sari.


"Tidak semudah itu cah ayu! Kau harus memberi sesembahan pada kami terlebih dahulu!" gertak makhluk itu.


"Sesembahan? Maaf tapi saya nggak menyembah kamu! Jadi lupakan itu." jawab Sari enteng.


"Kalau begitu kau mengantarkan nyawa padaku cah ayu!"


Tiba-tiba saja muncul di belakangnya dua orang makhluk lain dengan wujud yang hampir serupa.


"Saya tidak bermaksud mencari keributan disini." Sari mulai bersiap lagi menghadapi sang pemimpin yang kini telah menduplikasi dirinya.


"Kalahkan kami dulu, dan kau akan mendapatkan jasad mereka!" ujar makhluk jelek berbulu dengan menunjukkan pada segerombolan roh gentayangan di depan Sari.


Jadi mereka juga korban-korban Mang Usep? Baiklah jika itu mau kamu makhluk jelek. Demi Tante Danique siapa pun yang menghalangi akan berhadapan denganku!


Sari mengeluarkan energinya dengan maksimal, aura merah kehitaman muncul dari tubuh Sari. Ia memanggil para penjaganya. Keempat maung bodas datang dan mengaum keras memekakkan telinga siapa pun yang bisa mendengar mereka.

__ADS_1


Makhluk hitam berbulu itu segera menyebar dan mengelilingi Sari dengan keempat maungnya yang siap siaga.


Aku serahkan yang dua pada kalian, kalahkan mereka bila perlu habisi saja!


Sari memerintahkan pada keempat maungnya untuk berpisah dan menghadapi kedua makhluk kejadian itu. Sementara Sari menghadapi sang pemimpin. Sari kembali mengeluarkan kujang sang prabu miliknya. Kujang itu diliputi energi kemerahan yang siap membakar siapa pun yang berani mendekatinya.


"Kau pikir aku takut? Kau telah mengalahkan saudaraku yang bodoh itu! Aku tidak akan mengulangi kesalahannya lagi!"


"Jadi makhluk bodoh itu saudaramu, pantas saja kamu juga nggak lebih bodoh dari dia!" Ucapan Sari tentu saja membakar amarah makhluk itu dengan seketika makhluk itu melompat dan menyerang Sari menggunakan kukunya yang tajam. 


Sari berhasil berkelit ke kanan menghindari tubuh penuh bulu itu yang berjarak hanya beberapa inci saja. Sari tidak menyia nyiakan kesempatan dan segera menghujamkan kujangnya di perut si makhluk. Serangan Sari berhasil melukainya tapi tidak cukup untuk merobohkannya. 


Makhluk itu cukup kuat, ia bahkan tidak terlihat sakit sedikitpun dengan tusukan Sari. Ia menyeringai dengan giginya yang tajam dan lidahnya yang berkali-kali menjulur seperti ular.


"Aku tidak akan kalah dengan mudah cah ayu?!" 


"Bagus kalau begitu!" Sari kembali menyerang.


"Sar, Sari!" Suara panggilan Bagas mengacaukan konsentrasi Sari.


Bagas? Iiish, sial kenapa dia disini?


Ia lengah dan mencari dari arah mana sumber suara. Sari tidak menyadari tipu muslihat yang dilakukan makhluk itu. Ia menirukan suara Bagas agar Sari bingung. Trik nya berhasil. Dan dengan cepat makhluk itu menggigit bahu Sari dari belakang.


Sari menjerit, ia berusaha melepaskan gigitan makhluk itu dari bahunya. Berkali-kali dia melayangkan pukulan ke kepala makhluk itu tapi nihil. Makhluk itu semakin menancapkan giginya di bahu Sari. Darah segar mengalir dari lukanya.


"Patih!" Ia memanggil salah satu maung bodas miliknya.

__ADS_1


Maung itu seketika mengaum keras, menggeram dan menyelamatkan Sari dari makhluk hitam berbulu itu. Sang Patih menerkam dan menggigit makhluk itu tepat di perutnya. Makhluk itu berteriak kesakitan. Kedua makhluk duplikasinya juga ikut ambruk. 


Jadi begitu, habisi aslinya yang lain akan kalah …, batin Sari sambil memperhatikan pergumulan dua makhluk alam gaib itu.


Ia tidak bisa menggerakkan tangan kanannya. Gigitan makhluk itu meninggalkan lubang besar menganga di bahu Sari. Darah mengucur dengan deras. 


Gawat, kalau begini terus aku bisa mati ….


Luka baru yang didapatkan Sari cukup besar, berbeda dengan pertarungannya yang pertama. 


Cabikan dan gigitan maung pemimpin membuat makhluk itu kewalahan. Sang Patih melemparkan makhluk itu kesana kemari seperti sebuah mainan. Dan menghempaskannya ke dinding. Ia masih bisa berdiri meskipun dengan luka yang cukup parah.


Sari merapalkan mantra rahasia, melapisi kujang sang prabu dengan energi berlipat ganda. Kesempatan emas datang.


Patih, bantu aku!


Sari berlari meloncat dengan bertumpu di punggung maungnya dan dengan cepat menghujamkan kujang diatas kepala makhluk berbulu hitam itu. Suara retakan terdengar jelas dari kujang yang menancap.


Makhluk itu menyeringai untuk yang terakhir kalinya pada Sari. Sari mundur meninggalkan kujang itu menancap di kepala makhluk penuh bulu hitam itu. Perlahan tapi pasti retakan dari kujang tampak jelas meninggalkan warna kemerahan dan membakar tubuhnya habis menjadi abu.


Dua makhluk duplikatnya melolong dan jatuh berdebam ke lantai. Mereka juga mati sama seperti inang aslinya berubah menjadi abu.


Sari jatuh terduduk, tangannya terasa nyeri. Darah masih terlihat keluar dari bekas gigitan tadi. Keempat penjaganya mendekat dan membawa Sari kembali ke tubuhnya.


...----------------...


...authornya lagi miring ini, mohon maaf klo banyak typo dimana mana......

__ADS_1


...flu berat plus demam melanda😷🤧...


...keep save and healthy semuanya...


__ADS_2