Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 50


__ADS_3

Sari kembali pada Bagas melanjutkan tugasnya meliput Sintren. Bagas yang sudah menantinya segera memberikan tugas untuk menggantikannya.


"Dah balik mereka?" Tanya Bagas


"Uhm, udah … gimana lancarkan acaranya?"


"Kayaknya sih gitu sudah dibuka ranggapnya, liat aja ndiri?!" Jawab Bagas


Sari beralih menatap ke arah Pak Koswara. Sepertinya semua kembali berjalan normal sang penari sudah berubah dan siap menari diiringi para panjak (pemain musik).


Sari takjub melihat penari sintren seperti bermain sulap dalam sekejap di ruangan sempit tanpa penerangan sang penari bisa berganti pakaian, memasang perlengkapan di kepalanya, bahkan merias dirinya sendiri.


Sebagai wanita Sari tahu bagaimana rasanya merias diri tanpa kaca dan penerangan tapi penari itu bisa merias wajahnya sempurna tanpa cela. Its amazing.


Sang penari mulai menari dalam keadaan trance. Dua orang pendamping dan seorang pawang dengan setia mengawal dan menjaga sang penari sintren. 


Awal pertunjukan dinamakan Turun Sintren, dengan gemulai penari melakukan gerakan yang didominasi seperti sembahan, lembehan, geol bokong, kosoki, belulukan, ngoyok dan juga lengkung.


Syair lagu seketika berubah ketika penari pertama kali melakukan gerakan tarian. Sari terus memperhatikan perubahan syair lagu dan setiap gerakan yang dilakukan sang penari.


Seseorang melemparkan Uang ke arah penari hingga sang penari lemas tidak berdaya. Sari terkejut,


"Eeh, Gas tu kenapa lagi penarinya ya gagal lagi ritualnya apa gimana itu?" Tanya Sari

__ADS_1


"Lha iya kenapa ya Sar, tapi kayaknya memang gitu deh liat aja tuh Pak Koswara nggak kenapa-kenapa mukanya."


"Iya juga sih, lempeng gitu ya berarti memang seperti itu prosesnya … aku dah panik dulu ini Gas."


"Kenapa, takut nambah?" Tanya Bagas sambil tertawa


"Iyaaaa …" jawab Sari ikut tertawa.


Sang penari yang lemas tak berdaya setelah dilempar uang telah disadarkan oleh pawang. Ini adalah bagian dari inti pertunjukan yang disebut ritual Balangan atau temohan.


Uang yang dilemparkan kepada penari sebagai perlambang harta dan nafsu duniawi. Ketika sang penari terjatuh lemas tak berdaya merupakan wujud sebagai manusia yang sering lupa diri sebagai orang hebat.


Setelah ritual Balangan, penari mengeluarkan nyiru sebagai tempat menaruh uang saweran sukarela dari penonton. Nyiru itu kemudian diberikan kepada Pak Koswara.


Ratih kembali dimasukkan dalam ranggap tanda pagelaran akan segera berakhir. Sinden menyanyikan syair lagu diiringi para panjak.


...Paman Bibi aja maras...


...Dalang sintren jaluk waras...


...Kembang srengenge surupe wayahe sore...


...Sawise kan sedurunge kesuwun Ning kabehane...

__ADS_1


Sang pawang kembali membacakan mantra, ia berjongkok di depan ranggap dan kemudian memutarnya kembali. Tak lama ranggap pun dibuka, Ratih telah kembali mengenakan pakaian sehari harinya kembali. One word, ajaib.


Sari dan Bagas terus dibuat takjub selama pertunjukan sintren berlangsung. Pengalaman pertama bagi mereka melihat dan juga meliput seni budaya dan magis yang menyatu sempurna.


Meski sudah tergerus dengan modernisasi tapi sintren masih bisa eksis hingga saat ini dilestarikan dengan apik oleh para budayawan.


"Dari awal sampai akhir kita ngeliput selalu dibuat takjub rasanya." Kata Sari sambil membereskan beberapa peralatan.


"Kenapa emangnya?" Tanya Bagas


"Gimana nda takjub Gas dari persiapannya, ritualnya mpe pelaksanaan tariannya selesai semuanya mengandung unsur magis." Jawab Sari


"Iya, semistis dirimu Sar?!" Sahut Bagas tersenyum


"Nah kenapa jadi saya dibawa bawa?" Sari keheranan mendengar perkataan Bagas


"Lho menurut kamu dari awal kita berangkat sampai detik ini apa coba yang terjadi sama diriku, kamu, juga tim kita, kebetulan?!" Kata Bagas 


"Hhmm, iya juga sih bukan kebetulan deh kayaknya Gas." Keluh Sari dengan mata memandang lurus ke depan


"Kalo bukan kebetulan terus apa dong?" 


"Apes Gas … tu liat aja," Jawab Sari sambil memberi kode pada Bagas untuk melihat ke arah yang ditunjuknya

__ADS_1


Bagas pun mengikuti arah pandangan Sari, sejurus kemudian ia tertawa.


" … "


__ADS_2