
Mang Aa berusaha meyakinkan Sari untuk mau menerima sarannya. Ia merasa tidak selamanya bisa menjaga Sari. Ditambah lagi Sari masih harus memecahkan misteri menghilangnya Tante Danique.
Sari akan berhadapan dengan orang-orang yang memiliki kemampuan dalam ilmu hitam. Akan sangat berbahaya jika ia menghadapi mereka tanpa persiapan. Sari belum memutuskan apa yang akan dia pilih. Mang Aa meminta Sari untuk memikirkan perkataannya.
Melihat Sari sudah membaik Kang Malik dan kedua asistennya berpamitan pulang. Tak lupa ia membuatkan air ruqyah yang disarankan Kang Malik untuk digunakan Sari mandi.
Sari ditemani Tante Kurnia dan Annisa dikamar. Tante Kurnia berusaha membujuk Sari untuk menerima saran Mang Aa.
"Mbak Sari, udah turutin aja saran Mang Aa demi kebaikan mbak Sari juga. Mang Aa nggak mungkin jerumusin keponakannya sendiri."
"Iya Tante, Sari tahu tapi gimana ya Sari belum yakin Tante!"
"Kenapa? Harus dijelaskan lagi secara logika? Apa semua ini belum cukup buat mbak Sari?" tanya Tante Kurnia beruntun.
Sari terdiam, ia bingung. Tangannya mengusap cincin merah delima di jari manisnya, pemberian Mang Aa.
"Sari nanya mom dulu deh."
Sari meminta tolong pada Tante Kurnia untuk mengambilkan ponselnya di atas meja. Mom Adeline selalu tahu apa yang terbaik bagi Sari. Selama ini ia selalu meminta petunjuk dari Mom Adeline setiap menghadapi masalah sulit.
Jam menunjukkan pukul 4 sore ini berarti di Amsterdam sekitar pukul 10 pagi.
"Goedemorgen mam, ik mis je."
(Selamat pagi Mom, aku merindukanmu)
"Hallo lieverd, ook goedemorgen... Wat is er met de telefoon zo vroeg?"
__ADS_1
(Hallo sayang, selamat pagi juga … ada apa nih telepon sepagi ini.)
"Mam, er is iets waar ik met je over wil praten, het is belangrijk!"
(Mom, ada yang mau aku bicarakan denganmu, penting!)
"Penting? Kenapa mom curiga, apa ada sesuatu yang terjadi sayang?"
"Ehm, nggak ada apa-apa mom. Sari cuma butuh saran aja." kata Sari berusaha menutupi dari ibundanya tercinta.
"Terus, apa dong kalo gitu." tanya Mom Adeline penasaran.
"Apa Sari boleh belajar tentang sesuatu dengan Mang Aa, mom?" tanya Sari sedikit ragu.
Mom Adeline sebenarnya telah mendapatkan laporan dari Mang Aa dan Tante Kurnia perihal putri semata wayangnya. Ia tahu Sari sedang memecahkan misteri menghilangnya Danique, adik iparnya. Ia juga tahu kalau Sari juga sudah membuka mata batinnya. Tapi ia menunggu Sari mengatakannya sendiri, dan memilih memberi kepercayaan pada Sari.
Mom Adeline tahu cepat atau lambat Sari akan membutuhkan bantuan Mang Aa untuk mengendalikan kemampuannya. Ia tahu putri cantiknya adalah salah satu pewaris trah Siliwangi.
"Kan Sari dat leren?"
(Apa boleh Sari belajar hal itu?)
"Tentu sayang, dan memang kamu harus mempelajarinya. Demi kebaikan kamu juga, dan mom akan dukung kamu dari jauh!" Mom Adeline memberikan saran terbaiknya sebagai seorang ibu pada Sari.
"Entahlah mom, Sari nggak yakin!"
"Sari, kamu putri Mom satu satunya. Putri dari Barend Janssen Van Leeuwen, mom nggak mau terjadi apa-apa sama kamu, turuti Mang Aa!"
__ADS_1
Sari diam, mom Adeline benar ia harus bisa menjaga dirinya. Apalagi besok ia harus menghadapi pemilik galeri seni yang notabene pemuja setan.
"Baiklah Mom, Sari ikuti saran mommy. Sari mau belajar ke Mang Aa, setidaknya hanya untuk berjaga-jaga karena besok …" Sari tidak meneruskan perkataannya, nyaris saja ia mengatakan rencananya pada ibunda tercinta.
"Besok? Ada apa dengan besok? Kamu mau pergi kemana?" tanya Mom Adeline memancing Sari untuk bicara.
Sari mengelak dan menjawab, "Eeh, lupain Mom Sari cuma salah ngomong aja."
Sebelum semuanya jelas Sari memang belum berencana memberitahukan hal itu pada mom dan juga Daddy nya. Sari takut akan memberi harapan kosong pada Daddy Barend karena beliau sangat ingin bertemu Danique, adik kesayangannya.
"Mom, Daddy sehat kan? Sari kangen deh, kalo semua urusan Sari disini sudah selesai Sari mau pulang ke Amsterdam. Ik mis jullie allebei."
(Aku merindukan kalian berdua)
"Mom mist jou ook Sari. Baik-baik disana ya, jaga diri kamu. Jaga kesehatan, Mama houdt van je."
(Mom juga rindu kamu Sari … mom sayang kamu.)
"Pasti mom, udah dulu yaa. Dah sore, Sari mau mandi gerah banget!"
"Ya … ya, mom bisa bayangin panasnya kota Cirebon. Oke, mandilah tapi ingat jangan kelamaan nanti masuk angin kamu!" kata mom Adeline mengingatkan.
Sari tertawa mendengar peringatan mom Adeline, ia memang paling tahu kalau Sari betah berlama-lama dikamar mandi hanya untuk mandi saja.
"Ja mam, dat herinnert Sari zich nog. Dag mama, ik hou van je!"
(Iya Sari ingat itu, bye mom, i love you!)
__ADS_1
Sari menutup sambungan teleponnya, dan berpikir sejenak.
Baiklah, sudah saatnya aku belajar. Demi mom, dad, and Tante Danique … Mang usep, kamu berhutang penjelasan pada kami!