
Sari merasa terlalu berani mengambil keputusan untuk membuka mata batinnya. Meski ia tahu ini hanya salah satu jalan untuk membuka tabir misteri Tante Danique.
Keanehan mulai dirasakan sejak gayung pertama mengguyur tubuhnya. Air bercampur bunga yang telah berisi mantra itu terasa lebih dingin ketika mengenai tubuhnya. Sari berusaha mengabaikan perasaan itu dan ia merutuki keputusannya.
Usai mandi Sari kembali membaca mantra pembuka yang diberikan Mang Aa. Sari merasakan dirinya semakin peka, suara-suara aneh mulai terdengar dan berbisik di telinga Sari. Kelebatan bayangan mulai bermunculan.
Tubuh Sari gemetar menghadapi situasi baru ini, ia bergegas keluar kamar dan menemui Mang Aa. Sari ketakutan, tubuhnya lemas lututnya seolah terlepas dari tubuhnya. Baru saja ia keluar kamar, ia kembali dikejutkan oleh hal gaib yang kembali ia lihat.
"Mang, astaghfirullah … apalagi itu!" Sari memalingkan wajahnya ketika melihat beberapa orang berpakaian mirip kerajaan jaman dahulu berdiri di samping Mang Aa.
Mang Aa tersenyum melihat Sari keluar dengan wajah pucat pasi. Ia tahu Sari mulai bisa melihat barang halus alias lelembut.
"Kenapa?" Tanya Mang Aa sambil tertawa kecil
"Aduh mang, kaki Sari lemes ini mata maunya nangis mulu. Takut!" Jawab Sari sambil menutupi kedua matanya.
Mas Hendra dan Mang Aa tertawa,
"Nanti juga terbiasa Sar, kalo nggak lihat kamu malah nyariin lho." Kata mas Hendra dengan santainya pada Sari.
"Mang, Sari nggak kuat bisa kembali lagi nggak nih!"
__ADS_1
"Katanya mau nolongin Tante Danique, masa mundur … tadi kan ada tulisannya mantra yang sudah dibeli tidak bisa ditukar atau dikembalikan lagi!" Sahut Mas Hendra meledek Sari, ia tertawa dengan puasnya melihat sang sepupu yang cantik itu gemetar hebat.
"Mas Hendra jahat iiih, mana Sari tahu kalau mantranya pake garansi toko. Tahu gini Sari nda bakal beli!" Seru Sari sambil meneteskan air mata
Mang Aa kembali tertawa, ia seperti sengaja membiarkan Sari beradaptasi dengan kemampuannya sendiri.
"Sar, buka coba tanganmu jangan ditutup terus matanya. Coba pelan-pelan kamu lihat apa yang ada disekitar kamu!" Perintah Mang Aa
" Nggak, Sari takut!"
"Nggak apa-apa kan ada Mamang ma mas Hendra, biasakan diri kamu Sar!" Kata Mang Aa setengah memaksa.
Ia mendekati Sari dan meraih tangan keponakannya itu yang sekarang sudah sedingin es karena takutnya. Mang Aa tersenyum saat memegang tangan Sari,
"Sari takut!"
Mang Aa tetap bersikeras membuka tangan yang menutupi mata Sari. Ia membimbing tangan Sari untuk menyentuh sesuatu di depannya. Sari masih memejamkan matanya, dengan sedikit gemetar ia menuruti kemauan Mang Aa yang menarik tangannya perlahan.
Tangan Sari menyentuh benda halus seperti bulu, awalnya ia ngeri dan menarik tangannya tapi perlahan Mang Aa kembali menyentuhkan tangan Sari pada benda itu.
Lembut, halus banget … bulu, eeh bulu?
__ADS_1
Sari melonjak kaget dan membuka matanya,
"Aaah … kucing?"
Tangan Sari rupanya menyentuh kepala kucing besar berwarna hitam dengan matanya yang merah menyala. Si macan kumbang duduk dengan santainya tepat di kaki Sari. Sontak Sari gemetar, ia takut kucing. Meski tempo hari pernah dikenalkan si kecil Pandji pada maung bodasnya Sari tetap saja ketakutan.
Ia menoleh pada Mang Aa berharap minta bantuan tapi Mang Aa menggelengkan kepalanya.
"Biasakan Sar, sentuh dia. Itu salah satu penjagamu!"
"Penjaga ya … tapi dia gigit nggak Mang, Sari takut kucing?!"
"Nggak gigit, paling makan jempol kakimu dikit nggak apalah amal ma kucing?!" Ledek Mas Hendra pada Sari. Ia geli melihat sepupunya masih saja ketakutan.
"Mas Hendra! Aku suruh dia gigit mas Hendra aja nih!" Balas Sari kesal
"Eiits, satu perguruan dilarang saling menyerang … udah latihan keburu pagi ntar pada bangun semua!" Kata mas Hendra mengingatkan.
Sari menunjukkan wajah kesal, tapi apa boleh buat ia memang harus membiasakan dirinya. Mang Aa kembali membimbing Sari untuk menyentuh si macan kumbang sekali lagi. Sari yang awalnya takut lama-lama menjadi terbiasa untuk menyentuh dan membelai kepala si macan kumbang penjaganya.
Baru saja Sari terbiasa dengan penjaga eksotiknya, ekor mata Sari menangkap sosok lain yang tengah berdiri tak jauh darinya. Dengan sedikit takut Sari mencoba melihat siapa sosok yang berdiri di dekatnya itu. Sari lega ternyata itu adalah pria paruh baya yang mengenakan sorban. Pria itu tersenyum ramah pada Sari, kini Sari mengerti bahwa pria itu juga salah satu penjaganya.
__ADS_1
Adzan subuh berkumandang, para penjaga Sari pun menghilang. Rasa kantuk yang teramat sangat menyerang Sari. Ia memutuskan untuk mengistirahatkan tubuh lelahnya dan bersiap menghadapi petualangan baru dengan mata batinnya. Selepas sholat subuh berjamaah Sari pun terlelap dalam tidurnya.