
Mereka tiba di kediaman Tante Kurnia. Raut wajah tegang masih tampak jelas terlihat di wajah keempatnya. Tante Kurnia menyambut mereka dengan membuatkan es jeruk dan cemilan.
"Kok tegang semua gitu mukanya, gimana hasilnya tadi?" tanya Tante Kurnia penasaran.
Keempatnya masih terdiam dan memilih duduk sambil menikmati minuman segar buatan Tante Kurnia. Menghilangkan rasa panas dan ketegangan yang baru saja mereka lalui.
"Besok kita mulai liputan Tante." jawab Sari sambil menerawang gelas yang mengembun di tangannya.
"Bagus kalo gitu, jadi mbak Sari bisa ketemu sama si Usep." kata Tante Kurnia.
Sari menatap kearah Tante Kurnia, ia memajukan tubuhnya tiba-tiba ke arah Tante Kurnia membuat Tante Kurnia terkejut dan memundurkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Tante?!"
"Eeh, mbak Sari kenapa ni Tante mpe kaget lho?"
"Apa yang terjadi sama Tante Danique setelah dia ketemu Imran? Tante pasti pernah ketemu Imran kan? Dia pernah kesini nggak?" tanya Sari beruntun sambil menatap wajah Tante Kurnia Sari jarak yang cukup dekat.
"Imran? Iya dia pernah kesini waktu itu, menginap malah. Dia juga sempat nemenin Danique ke galeri. Seingat Tante begitu." jawab Tante Kurnia.
"Apa ada yang aneh, maksud Sari setelah mereka bertemu atau sesudah pulang dari galeri?" tanya Sari lagi.
Tante Kurnia diam,ia mencoba mengingat kejadian yang hampir 15 tahun berlalu.
__ADS_1
"Duuh Tante agak lupa mbak Sari, tapi … Tante inget mereka bertengkar hebat di pendopo, abis itu Imran pergi begitu saja tanpa pamitan ke Tante."
"Bertengkar? Tentang apa?"
"Mana Tante tahu mbak, mereka bertengkar pakai bahasa Belanda! Lha puyeng Tante dengernya." jawab Tante Kurnia sambil tersenyum.
Sari lemas, itu jawaban yang kurang memuaskan dari Tante Kurnia. Ia kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi. Gelas yang kini hanya berisi es batu terus diputar putar dengan tangannya.
Bagas yang melihat hal itu kemudian mendekati Sari.
"Kenapa, ada petunjuk lain?" tanyanya
"Hhmm, nggak juga cuma penasaran."
"Stooop!"
"Eh, kenapa Lo?" tanya Ahmad keheranan
"Lo gila Sar mo buka tu buku?! Gue baru aja lemes lho ni badan abis ngadepin si Juna, nanti keluar lagi dah tu demit penari! Tutup gak, horor bener sih tu buku!" sahut Doni panik
"Lah, emang kenapa tu buku Don, kok horor?" Ahmad tidak mengerti maksud Doni tentang buku tua itu.
"Lo kagak tau sih Mad, buku itu tuh yang bikin kita ngeri selama ini! Tiap Sari buka tu buku jreeeng … hantu nya keluar, serem kan!"
__ADS_1
"Lah masa iya sih, kan kita ramean disini Don? Lagi mana mungkin tu demit keluar siang-siang, ngaco aja Lo?!" ujar Ahmad
"Heem, ni anak dibilangin kagak percaya! Buka dah Sar biar si Ahmad tahu rupanya tu demit!" pinta Doni pada Sari sambil melenggang meninggalkan mereka
"Eeh, mau kemana Lo? Malah kabur!" tanya Ahmad yang tidak terima ditinggalkan Doni begitu saja.
"Pipis, mau ikut Lo?!"
"Iiish, najis masa terong liat terong!" sahut Ahmad kesal.
Sari dan yang lainnya tertawa melihat pertengkaran mereka. Akhirnya ia memilih untuk tidak membuka buku tua itu, dan meletakkannya di meja.
"Ada bagian yang sobek di buku ini, setelah Tante ketemu sama Juna. Kesobeknya buru-buru lagi kelihatan dari sisa kertas yang tertinggal." Sari melanjutkan cerita temuannya.
"Kamu buka ni buku sendiri? Kapan?" Tanya Bagas.
"Tadi, waktu kalian masuk ke dalam galeri?"
"Hantu itu datang?"
"Iya, dia cuma berpesan ke aku … hati-hati mereka menunggu!"
" … "
__ADS_1