
"Kujang?" Tanya Sari linglung.
Selia bercerita tentang mimpinya juga kunjungan mereka ke keraton kasepuhan Cirebon.
Rupanya mereka juga ketemu dengan Bayu ... kenapa dia gak kasih aku macan juga kan keren tuh, heem aku jadi sangsi nih jangan-jangan mereka yang keturunan Siliwangi bukan aku... batin Sari
Sari terus mendengar kan cerita Selia tentang bagaimana maung putih itu menuntun mereka dari Cirebon sampai ke rumah Pak Koswara untuk bertemu dengannya.
Gosh, unbelieveble…ni seriusan cerita mereka apa cuma mo ngerjain aku ya .... batin Sari
Rasa penasaran membuat Sari bertanya pada Al,
"Kenapa harus saya yang menariknya mas dan bukan orang lain... saya bahkan nda paham hal-hal seperti itu lho?
"Kujang itu hanya mau mujud di tangan orang berdarah Siliwangi. Saya sendiri heran kenapa kujang itu diberikan pada kami yang notabene bukan trah dari pemilik sebelumnya. Bukan hanya kujang, tapi Beliau juga menitipkan empat khodamnya pada anak kami yang masih dalam kandungan ibunya," terang Al singkat.
"Eeh, khodam? Apa itu khodam saya gak paham sejenis makanan pa gimana itu?"
Sari kelihatan sulit menerima penjelasan dari Al, dia benar-benar keturunan yang lepas dari jalur dan tak tau apa-apa.
"Groarrr … big cat," kata Pandji menirukan auman macan putih yang duduk di lantai sebelah Cakra.
"Big cat? Pandji sayang, Tante cuma liat big cat on the zoo dan tidak berkeliaran bebas kemana mana!" seru Sari sedikit kesal dengan penjelasan Al yang masih tidak bisa masuk di akal sehatnya.
"Mas Pandji mau tunjukkan 'big cat itu' biar Miss Sari bisa melihat?" Pinta Ayah Pandji pelan.
Pandji turun dari pangkuan Ayahnya dan mendekati Sari. Memanggil maung hanya dengan lambaian tangan dan menyuruhnya duduk di dekatnya.
"Pandji mau apa, kok melambaikan tangan gak ada kamera lho disini kok dah nyerah?" tanya Sari sedikit gemetar, sebenarnya ia sedikit percaya tapi nuraninya masih terus menolak kenyataan itu.
Dalam mata yang bisa memahami Pandji sedang mengelus kepala maung itu, ia menarik tangan sari untuk ikut mengusap kepala hewan dari alam gaib itu.
__ADS_1
Macan putih itu mengaum lirih saat tangan Sari tepat menyentuh bulunya, Sari berjingkat dan melotot kaget karena pandangannya terbuka. Dia berusaha menarik tangannya, rautnya rumit dan takut.
"Astaghfirullah ... i-ini bahaya nda, tante takut kucing lho mas Pandji duuh Gusti bisa gak ni kucing suruh pergi aja?" gerutu Sari
Mendengar gerutuan Sari, Pandji tetap memegang tangan Sarii dan memaksa untuk memberi salam pada kucing besar itu hingga kucing itu menghilangkan diri.
"Mas Pandji, don't do like that again oke ...it's so scary for me!" pinta Sari
Sari mulai mempercayai bahwa makhluk gaib itu ada dan nyata meskipun tadi ia sempat sangat ketakutan memegang si maung putih.
Sejenak Sari berpikir dan akhirnya mengatakan kesanggupannya pada Al dan Selia,
"Saya akan membantu mengambilkan pusaka itu,"
Al tersenyum lebar, "Terima kasih banyak, saya akan mengatur penarikannya malam ini juga agar tidak mengganggu waktu Mbak Sari lagi."
Sari tersenyum tapi sejenak ia berpikir,
"Sebelum itu saya ingin menanyakan sesuatu, saya selalu dikejar dan diganggu oleh hantu penari seperti yang Mas lihat tadi. Saya benar-benar dibuat ketakutan, bisa dijelaskan kenapa itu bisa terjadi?"
"Ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh penari itu tapi Mbak Sari nggak ngerti-ngerti juga, jadi dia jengkel."
Gimana mau ngerti mereka juga nda ngomong apa-apa mas...batin Sari jengkel
"Tapi dia tidak bicara apa-apa saat menghantui saya, Mas!"
"Mungkin ada sesuatu yang sebenarnya sudah dia coba sampaikan tapi Mbak Sari mengabaikannya? Bisa lewat mimpi atau apa?"
"Buku tua itu …," gumam Sari lirih seperti bicara pada dirinya sendiri.
Bisa jadi buku itu sumber masalahnya, ya...ya ... sedikit paham deh sekarang...batinnya lagi
__ADS_1
"Saya rasa itu arwah gentayangan, arwah yang terjebak di dunia lain yang bukan tempatnya," kata Al memperjelas siapa penari dengan topeng berlumuran darah yang baru saja menerkam Sari.
Bagus, arwah gentayangan berasa di film horor saya...batin Sari
"Hantu itu benar-benar membuat saya ketakutan, saya seperti sedang diteror olehnya. Begitu juga dengan tim liputan."
"Itu karena Mbak Sari tidak peka dan kurang percaya dengan kehadiran mereka di dunia ini, pasti ada sesuatu dibalik hantu yang terus datang pada Mbak Sari. Karena kalau saya lihat tadi, sebenarnya penari itu menampakkan diri bukan untuk mencelakai Mbak Sari."
Gak bikin celaka sih tapi bikin saya spot jantung mas... untung jantung saya kuat coba kalo nda mati muda saya mas...mas... batinnya lagi
"Tapi … ada sesuatu yang ingin Mbak Sari ketahui."
"Ya, tapi apa?"
"Ya saya juga nggak tau, Mbak. Kan hantunya sudah pergi dari tempat ini gara-gara dipukuli anak saya tadi."
Ya... ya... You're right sir you're boy do that...
"Lalu apa yang harus saya lakukan, Mas?"
"Menyelesaikan misterinya!"
Sari termangu sebelum mengangguk, "Iya, mungkin hantu penari itu memang ada hubungannya dengan saya."
"Apa Mbak Sari mulai percaya dengan sesuatu yang ada tapi tak tak tampak oleh mata? Sesuatu yang tidak bisa dilogika tapi bisa dirasa?" Tanya Al beruntun.
"Iya, Mas." Sari menjawab lemas seraya memperhatikan Pandji.
Mungkin mereka benar, perkataannya sama seperti Mang Aa dan Mas Hendra… semua itu ada dan nyata serta hidup berdampingan dengan manusia, sudah waktunya aku membuka pikiranku … batin Sari sendiri
***
__ADS_1