Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 54


__ADS_3

Sari merasa ngeri dengan apa yang dibayangkannya, entah mengapa firasatnya mengatakan Pak Adit membenci Sari setelah ia mengingat kelakuan Pak Adit saat terakhir membaca buku tua.


"Don, jangan-jangan yang dibenci pak Adit aku ya?" Tanya Sari tiba-tiba saat menunggu keluarnya uang dari mesin ATM.


"Iiish, jangan mikir gitu deh Sar ngeri gue jadinya, positif thinking aja beb jangan dipikirin gak baik suudzon ma orang. Ya kalo bener ke lo lha kalo ke orang lain, dosa dah jadinya." Sahut Doni


Sari menatap lekat sahabatnya itu, 


"Tumben omonganmu bener, lagi kumat?" 


"Lo Sar, kalo ngomong seenak jidat lo ndiri … ni bukan kumat, tapi jiwa gue yang sebenarnya." Jawab Doni sambil tersenyum penuh arti.


Sari tertawa mendengar perkataan Doni, mereka segera keluar dari ruang ATM dan menghampiri Bagas yang asik membalas pesan lewat ponsel nya di luar mobil.


"Yuk, balik dah mo magrib ni?!" Ajak Sari


"Udah? Balik ni?"


"Nginep!" Jawab Sari dongkol, Bagas pun tertawa melihat ekspresi Sari.


Mereka kembali di rumah Abah Hadi tepat saat adzan magrib berkumandang. Bersamaan dengan kedatangan Pak Adit.


Sari, Bagas, dan Doni saling berpandangan sebelum keluar dari mobil.


"Bersikap seperti biasa aja, hati-hati kalo ngomong sama dia. Kita harus waspada bisa jadi sasarannya salah satu diantara kita." Kata Bagas mengingatkan


Sari dan Doni mengangguk tanda mengerti. Mereka turun bersamaan dengan Pak Adit dan kedua asistennya.


"Eh pak Adit, bisa samaan kita … oh ya pak nanti malam kita mau liputan pasca pagelaran di rumah Pak Koswara, bapak mau ikut juga atau gimana?" Kata Bagas berusaha menyapa dan memberitahukan pada Pak Adit. Sekedar berbasa basi.


"Jam berapa ya, saya ada perlu juga soalnya ni?" Tanya Pak Adit


"Selepas magrib, telat-telatnya bada' isya lah pak biar enak ngobrol sama Pak Koswara." Jawab Bagas

__ADS_1


"Ehm kayaknya nda bisa deh, kalian aja sendiri nggak papa kan?!" Sahut Pak Adit sambil sesekali melirik Sari.


"Nggak apa-apa kok pak, saya cuma memberitahukan saja kalau bapak mau ikut silahkan nggak juga gak apa-apa." Jawab Bagas


Sari yang mulai bisa merasakan sesuatu hal ganjil, mulai merasakan aura gelap yang diperlihatkan Pak Adit.


Fix deh kayaknya aku yang dibenci Pak Adit, tapi kenapa coba? Setega itu apa dia mo bikin aku mati, liat aja kalo berani macam-macam… batin Sari


"Yuk masuk, nda baik dah adzan masih diluar." Ajak Sari pada yang lain


Pak Adit masih menatap Sari dengan tajam. Rasa suka nya telah berubah menjadi benci pada Sari hanya karena sebuah dendam yang salah sasaran.


...----------------...


Bagas memutuskan untuk ke rumah Pak Koswara selepas isya supaya lebih enak mengobrol. Mobil mereka memasuki pelataran rumah Pak Koswara, aroma dupa dan kemenyan menyambut kedatangan mereka.


Sari kembali merasakan sesuatu yang menyakitkan menyerang dirinya. Berkali kali ia menghela nafas berusaha menenangkan dirinya. Masih jelas terlihat di matanya kejadian tempo hari dimana hantu penari bertopeng menghampirinya.


Pak Koswara yang mendengar deru mesin mobil segera keluar menyambut Sari dan tim. Rupanya beliau sudah menyiapkan tempat untuk mereka di pendopo. 


"Selamat datang kembali mas Bagas dan timnya," Sapa pak Koswara


"Terimakasih pak, maaf merepotkan lagi ini." Sahut Bagas


"Tugas saya membantu mas Bagas belum selesai, saya justru berterima kasih pada mas Bagas dan yang lainnya yang sudah mau mengangkat seni sintren sebagai tema liputan kalian."


"Sama-sama pak, terimakasih kami juga sudah disambut baik selama disini." Ujar Bagas.


Sari tersenyum kepada pak Koswara meski ia sebenarnya merasa tersiksa karena benturan aura yang berbeda. Telinga Sari mulai berdengung dan kembali merasakan sensasi seolah berada dalam ruang hampa.


Gawat, kok merasa gini lagi pasti ada yang aneh lagi ini … Gusti, kuatkan saya semoga nggak serem lagi … batin Sari


"Ohya pak, ini kompensasi yang saya janjikan … sekali lagi saya mohon maaf atas kekacauan yang terjadi kemarin." Kata Sari sambil menyerahkan sebuah amplop butuh kepada Pak Koswara.

__ADS_1


Pak Koswara menerima dan menghitung jumlah uang di dalamnya. Ia tersenyum,


"Pas ya mbak Sari?!"


Sari hanya tersenyum dengan terpaksa, tiba-tiba terdengar suara gong yang berbunyi keras sekali hingga mengagetkan Sari dan yang lainnya.


"Astaghfirullah …" teriak beberapa orang yang ada disana termasuk Sari


Para penabuh dan Pak Koswara saling berpandangan, sesuatu hal yang aneh telah terjadi. Gong itu kembali berbunyi, kali ini bahkan sampai bergerak kencang menandakan pukulan yang cukup keras.


Sari mendengar suara gumaman tidak jelas dari arah penari yang berkumpul, seketika ia memandang ke arah suara itu berasal, jantungnya serasa berhenti.


"Astaghfirullah … bener kan dia dateng lagi," gumam Sari nelangsa.


...****************...


...Happy Monday everyone 🥰🥰...


...Tinggal menghitung hari 2021 bakal kita tinggalin, masih semangat kan di akhir tahun...


...Yang lagi bikin laporan Akhir Tahun saya ucapin selamat berjuang melawan angka🤭...


...Yang lagi ngebut kejar setoran episode, smangaaat yaaa...💪...


...Yang lagi semangat bikin novel baru, aku padamu dah...🥰...


...Yang masih kejar setoran buat kawin, eeh nikah saya ucapin ganbatte kamu pasti bisa...😋😋...


...Yang butuh bacaan baru pas liburan Nataru, Monggo jika berkenan mampir ke 2 novel yang sudah tamat lainnya. ...


...Terimakasih, having fun and have a nice day everyone 🥰🥰😋😋...


__ADS_1



__ADS_2