Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 121


__ADS_3

Untuk beberapa saat Sari larut dalam kesedihannya. Tangan dan wajahnya terkena darah dari tubuh Mang Aa yang telah membujur kaku.


"Kurang ajar, kalian benar-benar bukan manusia! Aku akan menghukum kalian sekarang juga! Darah dibayar darah, nyawa dibayar nyawa!"


Sari kalut dan terbawa emosi. Kehilangan Tante Danique cukup membuatnya sedih ditambah lagi kini Mang Aa harus meregang nyawa dihadapannya. Sari  berniat melawan dan menghukum orang-orang yang telah mengusiknya, ia mulai bermeditasi, memusatkan pikiran dan memanggil para penjaganya.


Tak butuh waktu lama Sari sudah pergi melintasi dimensi bersama maungnya mengejar laki-laki berwajah seram yang sudah menghabisi Mang Aa.


Di sebuah kamar dalam galeri seni, suara gelak tawa Mang Usep terdengar bahagia dan bangga. Keris yang dikirimnya telah kembali ke tangan Mang Usep dengan berlumuran darah. Korban telah jatuh.


"Tingali, Jun! Sesulit apapun masalah yang mengganggu bisa kita atasi dengan mudah." Mang Usep mencium keris di tangannya dan membersihkan darah yang menyelimuti luk dengan kain hitam.


Mang Usep kembali meletakkan keris pusaka kebanggaan itu di atas bara, menaburinya dengan kemenyan dan kembali tertawa.


Arjuna ikut tertawa, "Abah mah bener-bener sakti, tea aya tandingna! Hebat euuy!"


Arjuna menunjukkan sifat aslinya, ia melupakan rasa sukanya pada Sari. Arjuna menganggap perasaannya hanya sebuah intermezo belaka. Yang ada dalam pikirannya hanya satu, menyingkirkan Sari yang telah lancang memasuki kenangannya bersama Danique Van Leeuwen.


Angin keras tiba-tiba saja menghempaskan meja yang berisi sesaji dan memporak porandakan ruangan tempat Mang Usep dan Arjuna berada. Membuat tawa mereka berdua terhenti seketika. Hempasan angin keras itu membuat Mang Usep terjengkang, Arjuna pun tak luput dari hempasan angin keras itu. Kepalanya terluka akibat membentur lantai dengan keras.

__ADS_1


"Ada apa ini? Abah nggak apa-apa?" Arjuna mengusap keningnya yang berdarah dan mengernyit menahan sakit. Ia membantu Mang Usep yang kesusahan berdiri.


"Serangan balasan, selamatkan dirimu Jun! Gancang kaluar ti dieu!" perintah Mang Usep sambil memegangi perutnya yang mendadak mual hebat.


(cepat keluar dari sini!)


Dari balik bayangan muncul perempuan cantik dengan empat maung putih yang siap menyerang mereka. Sari datang menuntut balas. Wajah cantiknya yang selalu ramah pada siapa saja berubah menjadi dingin dan penuh kebencian. Sorot mata yang tajam menatap hina pada kedua orang manusia berhati iblis. Arjuna dan Mang Usep.


Tanpa banyak bicara Sari memerintahkan kepada keempat maung bodas penjaganya,


"Cabik mereka berdua tanpa sisa!"


Suara teriakan dan jerit kesakitan keduanya tidak membuat Sari iba. Maung bodas seolah mengerti keinginan tuannya, mereka tanpa ampun menggigit dan mengoyak tubuh Arjuna dan Mang Usep. Mengalirkan darah hina mereka ke tanah.


Bayangan Mang Aa yang mengerang kesakitan terus menari di mata Sari. Belum lagi dengan kematian Tante Danique yang juga karena perbuatan keduanya. Mereka berteriak memohon ampun, tapi Sari sudah tidak peduli lagi. Mereka pantas mendapatkan ganjaran yang setimpal. Kematian yang menyakitkan.


Sari mengambil keris yang terjatuh dari atas bara dan menggenggamnya erat. 


"Kembalilah pada tuanmu, tugasmu mengambil nyawa untuk tuanmu dan sekarang ambil nyawa tuanmu sebagai penutup tugasmu!"

__ADS_1


Ucapannya bertepatan dengan datangnya kesempatan emas. Saat Mang usep tengah berjuang dari terkaman dan gigitan maung bodas penjaganya, Sari maju dengan cepat dan menusukkan keris milik Mang Usep tepat di tenggorokan pemiliknya.


Mang Usep meraung pendek, darah membanjiri leher dan lantai ruangan tersebut. Matanya melotot ke arah Sari sambil terus memegangi lehernya yang tertusuk keris andalannya sendiri. Tubuh rentanya limbung, dan jatuh ke lantai meregang nyawa.


"Abaah …!" Teriakan pilu Arjuna hanya ditanggapi senyum sinis penuh kemenangan oleh Sari.


Maung milik sari sama sekali tak memberi ampun, cakar dan taringnya menancap di seluruh tubuh Mang Usep dan Arjuna. Mereka mati dengan kondisi mengenaskan. Sang dukun santet yang ditakuti banyak orang itu akhirnya dikalahkan oleh seorang wanita cantik keturunan trah Siliwangi 


Para penjaga Sari mengaum keras menandakan kemenangan atas pertarungan mereka. Sari menatap kedua tubuh tak bernyawa yang tergeletak bersimbah darah di depannya. Ia mengusap air mata yang hampir jatuh.


Sari sama sekali tidak berpikir akan begitu tega menghabisi dukun santet itu beserta anaknya. Kalau saja Mang Aa tidak jadi korban, Sari pasti tidak akan berubah menjadi begitu kejam.


"Andai kalian tidak bermain-main dengan nyawa orang yang aku sayangi aku pasti akan memberi kalian ampunan!"


Sari pergi meninggalkan ruangan yang kacau balau itu setelah memastikan Arjuna dan Mang Usep mati. Sari mengusap lembut keempat maung bodas miliknya.


"Kerja bagus kawan, ayo kita pulang untuk mengantarkan Mang Aa ke peristirahatan terakhirnya!"


Sari kembali ke rumah tante Kurnia setelah melintasi dimensi. Air matanya terus mengalir membayangkan harus kembali kehilangan orang yang disayanginya.

__ADS_1


Maung Bodas mengantarkan Sari dengan selamat tepat di depan mayat Mang Aa. Tubuhnya seketika lemas, ia tak mampu lagi menahan tangisnya. Suara jeritan tangis Sari akhirnya membangunkan seisi rumah.


__ADS_2