
Makhluk seram itu menyeringai pada Sari dengan gigi-giginya yang tajam, lidahnya setengah menjulur meneteskan liur berwarna merah, matanya melotot seolah hendak keluar dari rongga matanya, ditambah dengan rambut menjuntai panjang hingga hampir menyentuh tanah. Sari tidak bisa melihat tubuhnya di kegelapan malam. Sepintas jika dilihat lebih mirip kepala yang terbang.
Jelek amat sih kamu, kenapa mirip sama hantu-hantu di Bali ya? Kebetulan mungkin.
Doni melirik Sari, ia juga melihat makhluk yang sama tapi Doni berusaha diam dan memberi kode pada Sari.
"Sar…hati-hati!" bisiknya
"Hhmm, ini urusanku Don! Kamu jagain aja Bagas ma Pak Ujang."
"Inget, kalo nggak perlu banget jangan pake kekerasan!" Doni mengingatkan.
"Eeh, kenapa gitu? Ngapain lembut sama mereka, apalagi kalo udah niatan menghalangi aku, no Mercy!"
"Terserah kamu aja dah kalo gitu, be careful oke Beib?!"
Sari diam tidak menjawab, dia sudah memasuki dimensi lain menjaga dan mengawasi mereka dari niat buruk sosok menyeramkan itu. Pelindung gaib yang dipasang Sari cukup kuat, makhluk halus biasa tidak bisa menembusnya. Tapi sosok ini berbeda dia.memiliki kekuatan yang lumayan besar. Sari hanya berharap dia tidak mengganggunya.
Sosok itu masih menunggu waktu yang tepat untuk menyerang Sari. Ia terus mengikuti Sari, sesekali menampakkan dirinya di depan dan terkadang berada di belakang. Menggoda Sari untuk segera menghadapinya. Sari menyeringai, dalam sekejap mata ia telah berhadapan dengannya.
"Akhirnya kau mendekat cantik!"
"Kenapa kamu ngikutin saya terus, mau jadi fans?"
Makhluk itu tertawa keras membuat telinga Sari sakit. "Iiish, suaramu jelek banget berhenti ketawa! Apa yang lucu?"
__ADS_1
"Kamu punya kekuatan yang saya mau, maukah kamu bergabung denganku neng geulis? Saya akan berikan kamu harta dan kejayaan."
"Hhmm, menarik." jawab Sari
"Apa kau tertarik, aku akan menjadi sekutumu jika kau menerima tawaranku?!" Sosok itu berada diatas angin karena Sari sepertinya tertarik dengan tawaran yang diberikan.
"Sekutuku? Jelaskan?!"
"Aku akan menjadi bagian dari dirimu, kita akan bersama sama dan mendapat kebahagiaan duniawi bersama. Kau mendapatkan kemewahan dan aku mendapatkan bayaran pantas untuk itu. Bagaimana adil kan?!"
Sari mengerutkan keningnya, ia kembali mengajukan pertanyaan.
"Apa bayaran pantas untukmu?"
"Nyawa manusia dan juga … dirimu?" jawabnya menyeringai pada Sari.
"Maaf tapi diriku bukan barang untuk dimiliki? Pergilah aku sama.sekali tidak tertarik dengan tawaran mu itu!"
"Aku tidak menerima penolakan neng geulis, dan ini penghinaan bagiku!"
"Lucu sekali, kamu yang datang dengan sendirinya kenapa kamu marah?! Saya nggak minta kamu datang kan, pergi sebelum kesabaran saya habis!"
"Unik, disaat orang lain mencariku kau malah menolak ku!"
"Yah sekali kali anggap aja kamu apes ketemu saya." jawab Sari santai.
__ADS_1
Sari siaga, makhluk itu tampak kesal dan siap menyerangnya.
"Saya kesini nggak berniat mengganggu apalagi memintamu jadi sekutu, jadi lebih baik kita akhiri dengan damai." kata Sari lagi.
Makhluk itu menggeram dan dalam sekejap menyerang Sari tanpa peringatan. Sari yang sedari tadi telah bersiaga mampu berkelit dan menghindar cepat.
"Kamu yang menantang ku!"
"Saya sudah ingatkan kamu kan, jangan salahkan saya kalau membalas!" Sari menggertak.
Makhluk itu kembali menyerang Sari. Kuku panjang tajam layaknya sepuluh bilah pisau terus menyerangnya tanpa ampun. Ia berhasil melukai tangan dan kaki Sari.
Sari kehabisan nafas, ia mengambil jarak aman menarik kujang Siliwangi pemberian Bayu. Makhluk itu terperangah.
"Kujang sang Prabu …"
Kujang di tangan Sari mengalirkan energi yang cukup besar, ia masih harus terbiasa mengendalikan energi itu. Sari menunggu waktu yang tepat. Makhluk itu kembali menggeram dan menyerang Sari, ia melompat dan tiba-tiba saja menghilang saat berada didepan Sari membuat Sari terkejut.
Ia kembali muncul dari arah belakang menghilangkan kewaspadaan Sari sesaat. Makhluk itu berhasil mencekik Sari dengan kuat. Kukunya yang tajam menggores perlahan leher Sari, darah keluar dari lukanya.
"Seandainya kamu menerima tawaranku nona cantik, saya biarkan kamu hidup."
Sari berusaha menahan cekikan dengan kedua tangannya, melepaskannya bukan perkara mudah makhluk itu begitu kuat. Cincin pemberian Mang Aa berpendar, mengalirkan energi pada kujang yang berada ditangan Sari.
Dengan sekuat tenaga Sari memutar kujangnya dan menghujamkan ke tubuh makhluk berbadan hitam itu. Makhluk itu mengerang kesakitan, cekikannya mengendur tanda serangan Sari berhasil. Sari memanfaatkan keadaan tangannya berhasil mengurai cekikan dan melepaskan diri dari kungkungan makhluk itu.
__ADS_1
Sari berbalik, ia kembali menghujamkan kujang ke perut dan menebas lehernya dengan cepat. Makhluk menyeramkan itu mengerang kesakitan. Luka yang ditimbulkan oleh Kujang milik Sari tampak meninggalkan luka menganga yang perlahan membakar tubuhnya hingga habis.
Sari mengatur nafasnya menetralkan energi yang berlebihan dalam dirinya. Kujang Siliwangi kembali menghilang, dan Sari kembali ke raganya.