
Siang menjelang Tante Kurnia, Sari, Rara, juga kedua putri Tante Kurnia menyiapkan makan siang untuk yang lainnya. Sementara para lelaki termasuk Mang Aa masih sibuk mengobrol di pendopo.
Sesekali Sari mencuri pandang ke arah pendopo, jujur Sari penasaran dengan sikap Tante kurnia dan Mang Aa saat mereka bertanya tentang buku tua milik Sari. Mang Aa terlihat sesekali saja berkomentar di sela pembicaraan yang lain selebihnya ia asyik terdiam sambil menghabiskan rokoknya.
Entah bagaimana Sari merasa diamnya Mang Aa itu sedang melakukan sesuatu yang diluar nalar. Sari bisa merasakan aura berbeda yang terlihat dari Mang Aa.
Rupanya Mang Aa menyadari jika Sari memperhatikan dirinya, ia pun menatap Sari dari kejauhan sambil tersenyum. Sari bagaikan pengintip yang kepergok korbannya, ia langsung salah tingkah dan kembali membantu Tante Kurnia memasak.
Rasa penasaran Sari membuatnya bertanya pada Tante Kurnia,
" Tan, boleh nanya sesuatu?"
" Boleh dong, kenapa mbak Sari?" Tanya balik Tante Kurnia sambil memotong motong oncom untuk digoreng
" Tante kenal Deket sama adiknya Daddy?" Tanya Sari
Tante Kurnia sedikit terkejut dengan pertanyaan Sari, ia menghentikan kegiatannya dan mengalihkannya pada Nisa putri nya.
" Tante Danique, maksud mbak Sari?"
" Iya Tan, Sari cuma dengar dari mom kalau tante Danique pergi sama pacarnya tapi anehnya sampai sekarang nda pernah ada kabar dari dia...kadang Dad sedih kalo cerita tentang Tante Danique."
__ADS_1
Tante Kurnia tidak memberikan jawaban, ia hanya menatap Sari dari wajahnya tampak Tante Kurnia memendam sesuatu yang belum bisa dia ungkapkan.
" Tante Danique pernah kesini dulu banget sebelum Mom and Daddy kamu menikah, tapi cuma sebatas dia menyewa rumah Abah dan Tante juga nda terlalu dekat sama dia." Jawab Tante Kurnia
Abah adalah panggilan kesayangan keluarga besar Sari untuk kakek sementara nenek dipanggil dengan Mimih. Abah Ibrahim nama kakek Sari telah meninggal ketika Sari masih berusia 5 tahun begitu juga dengan Mimih. Mereka berdua dimakamkan di area pemakaman Sunan Drajat yang berada persis di depan rumahnya.
" Kenapa mbak Sari nanyain?" Tanya Tante Kurnia
Sambil membantu menyiapkan peralatan makan Sari menjawab,
" Buku tua itu Tante...ada nama Tante Danique dan juga fotonya,"
Praaaang….,
" Astaghfirullah…ni piring licin amat, pecah deh," ujar Tante Kurnia terkejut
Namun yang tertangkap di mata Sari, Tantenya menyembunyikan sesuatu tentang Tante Danique.
Tangan Tante Kurnia bergetar halus saat Sari menyebut nama Tante Danique begitu juga dengan wajahnya yang tidak bisa menyembunyikan rasa panik dan ketakutan.
Sari jadi semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Mang Aa dan Tante Kurnia pasti mengetahui tentang buku tua itu. Sari berniat mencari tahu lagi nanti setelah makan siang.
__ADS_1
Sari membantu membersihkan pecahan kaca yang berserakan di lantai agar tidak melukai kaki. Tante Kurnia sesekali memperhatikan Sari, ia sebenarnya tahu kalau keponakannya sudah menyadari hal aneh yang berkaitan dengan buku tua itu. Tapi karena janjinya Tante Kurnia enggan mengatakan yang sebenarnya.
Akhirnya makan siang siap, dengan lauk seadanya khas Sunda. Cuaca hari ini kurang mendukung, awan mendung tebal memayungi kota Cirebon membuat udara sedikit gerah. Sari dan yang lainnya menikmati makan siang bersama di pendopo tanpa merasakan kegerahan karena memang sirkulasi udara yang cukup bagus.
" Bagas, kamu ketua timnya kan?" Tanya Mang Aa disela menikmati makan siang
" Iya mang," jawab Bagas
" Habis ini ikut saya ke rumah," kata Mang Aa
" Siiiap mang, Sari juga ni?" Tanya Bagas
" Jelas, dia harus ikut kan dia jagoannya," jawab Mang Aa tersenyum.
Sari yang disebut namanya sebagai jagoan tersedak karena terkejut,
" Uhuk...uhuk...jagoan apaan?" Tanya Sari di tengah batuknya
" Jagoan penakluk demit," sahut Doni sembarangan
" Huuush...sembarangan lu kalo ngomong," seru Bagas
__ADS_1
Doni dan yang lainnya pun hanya tertawa. Sari sebenarnya geli dengan celetukan Doni barusan. Mungkin saja kata Doni benar mengingat dia dan juga kedua sahabatnya berniat memecahkan misteri hantu penari sembari membuat liputan Sintren.
Niatan nekat yang didasari dari sebuah mimpi untuk menguak misteri.