
Bagas begitu frustasi menghadapi situasi yang cukup memusingkan kepalanya. Bayangan kenaikan promosi hanya tinggal kenangan. Tepat jam 1 siang Bagas, Doni, dan Sari pergi meninggalkan Indramayu untuk kembali ke kota Cirebon menjemput Mang Aa. Sebelumnya Mas Hendra sudah menghubungi Mang Aa untuk bisa membantu Bagas dan timnya.
Sepanjang jalan Bagas lebih banyak diam, ia harus memutar otak agar bisa memenuhi target dari Pak Arya. Doni melirik pada Sari dan memberikan isyarat untuk menghibur Bagas.
"Gas, jangan dipikir dalem nti malah stres ndiri." Kata Sari mengingatkan
Bagas menghela nafas panjang, tangannya mengacak rambutnya.
"Gimana gak dipikir coba hari ini kita rencana bikin preview awal paling edit dikit sambil tunggu tambahan besok lha ini ulang semua dari awal. Tanggung jawab kita gimana Sar, ma Pak Arya?"
"Ya mau gimana lagi, siapa yang menyangka ada kejadian gini kan? Berdoa saja semoga besok lancar, nanti Mang Aa bantuin kok." Ujar Sari menghibur Bagas.
"Eh Gas, lagian Lo dah berapa lama kerja di tv masa kayak gini aja langsung down. Come on bro, semangat lo gak sendiri ada kita, tim andalan Lo!" Sahut Doni
"Ya gimana nda down Doni, gue kan pengen dipromoin ma Pak Arya abis itu mau ngelamar Sari. Nah kalo begini kejadiannya gimana coba masa iya mundur lagi gue kawinnya?!" Kata Bagas kesal
"Eeh, ulangi sekali lagi ngelamar Sari? Gak salah denger gue kan, trus si cewek penyanyi itu gimana ceritanya?" Tanya Doni dengan cueknya tanpa peduli ada Sari di belakang.
"Iiish, diem Lo dah putus!"
Doni tertawa dengan kerasnya,
"Cita-cita jadi playboy nyatanya tunduk juga sama bule satu di belakang!"
__ADS_1
Sari pun melayangkan hadiah pukulan di lengan Doni, yang dipukul semakin keras tertawa karena puas menggoda kedua sahabatnya.
Perjalanan mereka sedikit terhambat dengan kemacetan di daerah Mundu karena pasar tumpah. Bagas dibuat semakin senewen dan uring-uringan.
"Hadeeeh, Indonesia sekali kenapa nggak bisa tertib sih pada?!" Keluh Bagas
"Sabar, ya emang gini ini dah kebiasaan disini begini kalo Ramadhan ma Lebaran parah lagi malah." Kata Sari menenangkan Bagas
Akhirnya mereka berhasil melalui kemacetan, Doni melajukan mobil dengan kencang berpacu dengan waktu. Mereka tiba di kediaman Tante Kurnia, Mang Aa sudah bersiap di depan menyambut kedatangan Sari.
"Assalamualaikum … " sapa Sari
"Wa'alaikumussalam, gimana lancar di jalan?"
"Istirahat dulu sebentar nanti kita berangkat, selepas ashar." Kata Mang Aa
Mereka menganggukkan kepala dan masuk ke dalam. Doni beristirahat sebentar meluruskan punggung yang lelah. Bagas dan Mang Aa duduk berhadapan, ia kemudian menceritakan apa yang terjadi pada Mang Aa. Meskipun sudah mendapatkan cerita dari mas Hendra, tapi Mang Aa tetap sabar mendengarkan Bagas bercerita.
"Jadi begitu, oke deh Mamang bantu kalian dengan tapi syarat?!"
"Apa itu syaratnya Mang?" Tanya Bagas
"Sari harus menuruti semua perkataan Mamang!" Jawab mang Aa.
__ADS_1
"Lho kenapa harus Sari?" Tanya Sari keheranan
"Karena cuma kamu yang bisa menyelesaikan ini semua." Jawab Mang Aa enteng.
Sari bingung, apa maksud dari perkataan Mang Aa. Tapi demi kepentingan timnya Sari pun menuruti syarat dari Mang Aa.
Rencana untuk berangkat selepas agar terpaksa mundur karena Mang Aa harus mengerjakan sesuatu sebelum berangkat. Bagas terpaksa harus bersabar. Mereka bertiga menemani Tante Kurnia dan Om Bambang di pendopo sekedar untuk bercerita sembari menunggu Mang Aa.
"Tante, boleh Sari nanya?"
"Ada apa mbak Sari?"
"Di Cirebon apa ada tarian yang memakai topeng?"
"Ehm, ada mbak namanya memang tari topeng. Itu salah satu seni tari khas kota Cirebon juga."
"Oh gitu, yang nari perempuan semua?"
"Biasanya perempuan bisa sendiri bisa berkelompok tapi kadang penari pria juga bisa." Jawab Tante Kurnia sedikit menjelaskan
" Dulu Tante Danique dalam risetnya juga mengulas tarian itu lho." Katanya lagi memberitahukan pada Sari
"Eh, Tante Danique?" Tanya Sari bingung.
__ADS_1
Sari menatap Bagas dan Doni, sepertinya misteri buku tua itu akan menemui jalan terang.