
Sari tersentak dari tidurnya. Nafasnya memburu, keringat membasahi tubuhnya, rasa panas itu masih begitu terasa memasuki tubuhnya. Perlahan ia mulai menguasai dirinya.
Cuma mimpi, tapi mengerikan. Apa aku kebawa tadi waktu bareng Bayu ya, bola apinya sama, bedanya tadi lebih besar dan bersuara …,
Sari keluar dari kamar menuju dapur. Mimpi itu membuatnya merasa kehausan. Segelas air dingin menyegarkan kembali tubuhnya yang basah dengan keringat.
Adzan subuh tak lama terdengar berkumandang, Sari mengambil air wudhu dan bersiap sholat subuh ketika Tante Kurnia keluar dari kamarnya.
"Mba Sari pagi banget bangunnya?" sapa Tante Kurnia.
"Iya Tante, pas kebetulan aja bangun denger adzan tadi. Tante mau subuhan bareng nggak?"
"Mbak Sari duluan aja deh. Tante mau mandi dulu biar segeran dikit, gerah ini!" jawab Tante Kurnia.
Sari menunaikan shalat subuh sendirian disusul Bagas dan Doni yang juga sudah terbangun. Usai menunaikan kewajibannya masing-masing, mereka bertiga duduk santai di ruang tengah.
"Gimana Sar, hari ini kita jadi ke galeri seni?" tanya Bagas.
"Jadi, aku harus ketemu sama pemiliknya dan cari tahu tentang Tante Danique."
"Oke, berangkat jam berapa ni kita?" tanya Bagas
"Jam 10 an gimana?" jawab Sari
"Boleh, jadi kita nggak buru-buru juga nyiapin semuanya."
Annisa, putri pertama Tante Kurnia mengantarkan kopi susu untuk mereka komplit dengan cemilan pisang krispy andalan Tante Kurnia.
"Makasih Nisa!" Sari membantu Annisa meletakkan gelas dan piring cemilan di meja.
__ADS_1
Ahmad dan Rara bergabung setelah mereka selesai absen pada Sang Khalik.
"Waah, pucuk dicinta ulam pun tiba tau aja ni butuh kopi saya!" seru Ahmad tanpa basa basi langsung mengambil salah satu gelas di meja.
"Eh Mad main ambil aja punya gue tuh!" Doni yang kalah cepat pun kesal dibuatnya.
"Siapa cepat dia dapat Don, lagian noh masih ada ngapain ribut sih?" sahut Ahmad sambil menikmati aroma kopi susu yang harum menggoda.
"Beda, itu pake tangan Sari ngasihnya ke gue. Lebih nikmat dari tangan bule cantik!" jawab Doni cuek tanpa memperhatikan raut wajah Bagas.
"Nikmat ya Don?!" tanya Bagas
"Astaghfirullah, khilaf lagi gue. Sorry Gas, kagak sengaja ni mulut ngomong. Maklum kagak ada remnya!" sahut Doni santai.
Sari dan Rara tertawa melihat mereka bertiga. Obrolan ringan mengalir kemudian sambil menanti matahari yang mengintip malu di ufuk timur.
Sari menikmati segelas kopi susu dan memakan pisang krispi buatan Tante Kurnia. Baru saja ia menelan gigitan pertama pisang krispi, perutnya bergejolak.
"Aduh perutku, sakit banget …" Sari menahan sakit sambil memegangi perutnya.
Bagas yang berada di sebelah Sari dengan sigap memegang tangannya.
"Sar, kamu kenapa? Sakit perut?" tanyanya cemas
"Nggak tahu ni kok perutku kayak ditusuk jarum, ngilu banget Gas!" jawab Sari menahan sakit.
"Masuk angin? Apa maag kamu kambuh lagi?" tanya Bagas beruntun.
Sari menggelengkan kepala, lalu kembali merintih kali ini serangan sakit itu bahkan berkali lipat dari semula. Wajah Sari yang putih menjadi semakin pucat, nafasnya tersengal, panas mulai menjalar ke dada bagian atas, keringat dingin membasahi tubuhnya.
__ADS_1
"Kayaknya maag ku kambuh nih, bisa tolong ambilin obat di tasku?" pinta Sari pada Bagas.
"Biar gue yang ambil Gas, Lo temenin Sari!" Doni bergegas bangun dan mengambil tas Sari yang ada di kamarnya.
"Kamu kecapekan, stres, telat makan lagi!" Bagas panik melihat Sari yang semakin pucat.
Sari tidak peduli dengan perkataan Bagas, sakit yang ia rasakan semakin menjadi. Doni datang dan memberikan obat pada Sari. Mereka semua panik dan khawatir dengan keadaan Sari.
"Aduh, ini bener-bener sakit … lain dari rasa yang biasanya deh." kata Sari lemah
"Emang sakitnya gimana Sar?" tanya Bagas kebingungan.
Sari tidak menjawab perutnya bagaikan diremas oleh sesuatu yang tak kasat mata, sakit dan nyeri hebat. Ia hanya bisa merintih dan mulai menangis.
"Kamu bisa jalan?" tanya Bagas
Sari mengangguk, Bagas membantunya berdiri. Dengan sedikit tertatih karena menahan sakit Sari akhirnya kembali ke kamar dan merebahkan tubuhnya berharap sakit itu berkurang.
Tante Kurnia panik ia segera memanggil Mang Aa yang ternyata tidak pulang kerumah sejak semalam karena suatu urusan.
"Nisa, tolong Mas Hendra suruh kesini! Mamah nggak paham ini mbak Sari kenapa, Mang Aa belum pulang soalnya!" perintahnya pada Annisa
Nisa segera menghubungi Mas Hendra, dan menjelaskan yang terjadi kepadanya. Seisi rumah panik.
Tubuh Sari semakin tidak karuan, keringat yang membasahi tubuhnya. Rasa sakit di perutnya semakin menjadi. Ia mengerang kesakitan. Sesuatu seperti sedang berjalan dalam perutnya dan memaksa untuk keluar. Ia tidak bisa menahannya lagi, Sari memuntahkan isi perutnya ke lantai.
Darah bercampur beberapa lempengan hitam dengan berbagai ukuran keluar dari mulut Sari. Beberapa helai rambut yang menggulung juga terlihat ada diantara material yang dimuntahkan Sari.
"Astaghfirullah, Sari!"
__ADS_1
Semua yang ada di dalam kamar terkejut. Sari lemas tidak sadarkan diri.