Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 158


__ADS_3

Sari menunggu kedatangan penjaga villa yang juga menyimpan kunci. Roh-roh gentayangan yang menampakkan diri sepertinya hendak mengatakan sesuatu, tapi Sari tidak memahaminya. Saat Sari mendekat mereka malah menjauh dan menghilang seperti tidak ingin terlibat dengan Sari. Aneh.


"Sesuatu menakuti mereka deh kayaknya. Biasanya dalam satu tempat pasti ada pemimpinnya. Mungkin mereka takut sama itu." gumam Sari.


Sari kembali ke depan dan menunggu. Tak lama kemudian seorang pria muda mengenakan sarung datang tergopoh-gopoh.


"Punten Aa, teteh, nungguin lama ya?"


"Nggak kok mas, baru saja kami datang. Mas siapa ya, yang pegang kunci bukan?" tanya Bagas.


"Muhun A, tadi A Seno nalepon katanya mau ada tamu dari Cirebon?" jawabnya lagi.


"Mas namanya siapa ya?" tanya Sari


"Panggil saja saya Ucup teh, kalo nama panjangnya takut lupa?" jawabnya kalem.


Sari tersenyum mendengar jawaban polos dari Ucup. Ia bergegas membukakan pintu rumah untuk Sari dan yang lainnya. Debu yang beterbangan saat pintu dibuka menandakan villa ini lama tidak terjamah orang.


"Udah lama ya ini nggak dipakai?" tanya Sari.


"Iya teh, ada kali sekitar dua atau tiga tahunan. Cuma saya aja yang sering kesini ngabersihan rumput ma perabotan." jawab Ucup sambil membersihkan jaring laba-laba yang menempel di antara kursi yang ditutupi kain.


Sari melihat isi vila dan menuju ke halaman belakang. Ia menyapu pandangan ke sekitar. Sari mencari pohon mawar yang ditunjukkan Tante Danique padanya. Nihil. Tidak ada tanaman mawar.


"A Ucup boleh nanya, dulu ada tanaman mawar kan disini? Kemana sekarang?" tanya Sari.


"Pohon mawar? Teu terang abdi teh, saya mah baru oge jadi pengurus villa. Sebelumnya ini tugas Mamang saya tapi dianya mah sudah meninggal lama." Ucup menjawab dengan bingung.


Trus gimana saya nyarinya? Tante tolong tunjukkan dimana jasad kamu!

__ADS_1


Sari menunggu kehadiran Tante Danique, tapi ia tak juga muncul. Firasat jelek mulai dirasakan Sari.


"A numpang nanya dah, disini loba lelembutna teu?"


"Wah kalo itu mah jangan tanya teh, makanya saya juga jarang kamari. Takut teh! Kalo kesini paling mah siang nanti jam dua udah pulang."


"Takut kenapa emangnya kan siang A Ucup kesininya?"


"Ssst…jangan keras-keras teteh kalo ngomong, biarpun siang juga jurigna berani berani! Hiiii, merinding saya kalo inget!" Ucup mengusap tengkuknya sambil melihat ke kanan dan kekiri seolah takut ada salah satu yang muncul.


Sari memutar tubuhnya, sebuah gumaman tepat terdengar di telinganya tadi. Meski tidak jelas tapi Sari bisa mendengar peringatan dari gumaman itu. Peringatan tentang sosok yang sedari tadi memperhatikan Sari dari balik kegelapan dengan matanya yang merah menyala.


"Sar, gimana nih ada petunjuk nda dari Tante kamu?" tanya Bagas


"Satu-satunya petunjuk dalam mimpiku, jasad Tante Danique dikubur dan ditandai sama bunga mawar. Tapi lihat, pohonnya aja nggak ada Gas?!" 


"Terus gimana?"


"Maksudnya?" 


"Ada kekuatan besar yang membuat para roh gentayangan ini takut Gas." jawab Sari 


"Waduuuh gawat ini mah urusan kamu sama Doni, saya nyerah deh."


Sari menyeringai, tugasnya belum selesai juga rupanya. Firasatnya mengatakan bahwa ia akan berhadapan dengan makhluk yang menjadi pemimpin di villa. Atau dengan kata lain sesepuh penunggu villa.


"A Ucup emang suka ditakutin apa kalo kesini?"Sari penasaran.


"Banyak teh, kadang ada benda melayang atau geser sendiri. Pernah waktu itu suara tangisan cewek, terus tau-tau saya di dorong sampe kajengkang dari kursi teh." jawab A Ucup.

__ADS_1


"Pernah liat yang hitam tinggi besar matanya merah nggak?"


"Gandaruwo ya maksud teteh?" tanya A Ucup


Sari mengangguk, "Kalo dijawa kan bilangnya genderuwo, beda pelafalan aja." 


"Iya teh betul itu, kalau saya nggak pernah teh tapi tetangga sekitar sering lihat katanya. Pokokna mah klo dah maghrib teu aya nu wani ngaliwat. Serem!"


Sari terdiam, ia bisa merasakan tekanan yang semakin membuatnya tidak nyaman. Hawa panas terasa membuat nafasnya sesak. Makhluk itu hendak berinteraksi dengan Sari.


"Don, bantuin aku?!" Sari mendekati Doni yang sedari tadi duduk di halaman belakang. 


Doni juga merasakan hal yang sama. Ia sedang berinteraksi dengan salah satu roh wanita yang berani menggoda nya.


"Bentar Sar, dikit lagi selesai."


"Iiish, selesai gimana? Ku mau diajak kawin sama tu hantu?" jawab Sari kesal.


"Lah kalo die mau kan lumayan Sar, daripada kagak dapet cewek beneran di alam manusia? Mayan dapat cewek cantik meski lelembut Sar?!" sahut Doni cengengesan.


"Otak lo miring?" Sari menoyor kepala Doni, ia kesal dengan perkataan Doni yang asal itu.


Doni tertawa karena berhasil membuat Sari jengkel. Ia kemudian mengekor Sari yang memilih duduk di salah satu sudut halaman belakang.


"Jagain aku Don, aku perlu bicara sama pimpinannya. Tante Danique nggak mau keluar karena takut sama dia juga."


"Kamu mau berantem lagi?" Doni khawatir karena sahabat cantiknya itu bahkan belum pulih dari luka semalam.


"Semoga aja nggak perlu Don, makanya tolong jagain aku disini. Bisa?" pinta Sari.

__ADS_1


"Oke, hati-hati Sar! Gue mau Lo pulang dengan selamat bukan tiba-tiba jadi nama doang." sahut Doni.


Mau gimana lagi keluar masuk dimensi lain terus demi Tante dah. Semoga aja sekali lagi masuk sana keluarnya dapet hadiah mug kristal!


__ADS_2