
Ahmad bingung dengan maksud Sari. Dalam benaknya kucing besar berarti sejenis harimau.
"Sar, gue serius nih nanyanya. Kucing apaan sih yang besar Sar? Penasaran gue?!" tanya Ahmad sekali lagi.
"Kucing garong!" jawab Sari tertawa kecil.
"Heem, gue nanya serius dia jawab kucing garong!" Ahmad kecewa dengan jawaban Sari.
"Nah Lo kagak mikir apa, bener kan kata Sari? Kucing garong kan gede, segede Lo lagi!" sahut Doni dengan nada mengejek
"Eh, iya juga sih kucing garong kan gede? Tunggu dulu mana ada kucing garong segede gue, wah sialan gue dikerjain nih?!" Ahmad merasa kesal ia yang baru menyadari perkataan Doni yang mengejeknya.
Mereka pun tertawa Dan melanjutkan makan malam. Rencananya malam ini mereka akan melanjutkan proses editing karena pak Arya sudah meminta Bagas untuk mengirim hasil liputan awal mereka.
Usai makan malam mereka berkumpul di ruang tamu mengerjakan tugas masing-masing. Sari dan Rara seperti biasa mengerjakan naskah liputan untuk digunakan pada pengisian suara nantinya. Bagas, Doni dan Ahmad mengerjakan layout gambar yang digabungkan dari beberapa scene.
Mang Aa datang diantar mas Hendra. Ia tersenyum pada Sari dan yang lainnya. Sari merasakan sesuatu yang tidak biasanya pada diri Mang Aa. Firasat buruk tiba-tiba terlintas di benaknya saat Mang Aa menyapanya dan melewatinya begitu saja.
Ada apa ini, feelingku kok nggak enak semoga cuma perasaanku saja …,
Mas Hendra menyapa Sari dan yang lainnya. Sari yang tidak nyaman dengan feelingnya menyusul mas Hendra dan mengikutinya sampai ke dapur. Mas Hendra yang sedang mengambil air minum terkejut ketika Sari menepuk punggungnya.
__ADS_1
"Mas,...!"
"Astaghfirullah, ni anak bikin orang jantungan aja! Kenapa sih?!" tanya mas Hendra kesal.
"Dari mana sih, kok Mang Aa aneh gitu?"
"Kenapa? Kepo deh kamu! Emang Mang Aa aneh kenapa, berubah gimana nih mas nggak ngerti? Jadi Gaban?" sahut mas Hendra asal.
"Iiish mas Hendra mah gitu, serius ini Sari nanya? Feeling Sari jelek ni, mang Aa sakit?" Pertanyaan Sari membuat mas Hendra tersedak air yang diminumnya hingga terbatuk.
"Pelan-pelan minumnya mas, Sari nggak minta!"
"Kamu ni kalo ngomong asal aja Sar! Mang Aa baik-baik aja mungkin dia kecapean ngurusin kerjaannya." jawab mas Hendra
Mas Hendra menatap Sari, meletakkan gelasnya di meja lalu menghela nafas panjang. "Dari Indramayu, ke rumah Pak Koswara."
"Pak Koswara? Ada apa kesana?" tanya Sari penasaran.
Mas Hendra seperti menyembunyikan sesuatu dari Sari, ia kembali menarik nafas panjang.
"Nanti juga kamu tahu. Sana gih bantuin temen-temen kamu, kasian mereka udah bantuin kamu sekarang gantian kamu harus bantuin kerjaan mereka biar cepat kelar." jawab Mas Hendra berat.
__ADS_1
Sari menatap mas Hendra, ia tidak puas dengan jawaban yang diberikan. Namun akhirnya ia memilih untuk kembali ke depan bergabung dengan yang lain.
...----------------...
Dilain tempat, Arjuna dan Mang Usep sedang menyiapkan sesuatu. Sebuah kejutan untuk gadis cantik keturunan Indonesia- Belanda yang berani mengusik mereka.
Dalam ruang khusus di kediaman pemilik galeri, tercium aroma kemenyan yang sangat pekat. Asap bakaran dari parupuyan (tempat arang/bara api yang terbuat dari tanah) di atas meja menyebar memenuhi ruangan tanpa jendela.
Mang Usep duduk berhadapan dengan putranya, menyiapkan bunga tujuh rupa yang berbau wangi dalam kendi dan memenuhinya dengan air.
Beberapa cawan berisi bunga kantil kuning dan kenanga juga ada di atas meja, diletakkan di atas lawon bodas (kain putih) berdampingan dengan tumpeng kecil, dua gelas kopi pahit dan manis, dua teh pahit dan manis, air putih, telur ayam hitam dan beberapa lembar daun jati.
Arjuna memperhatikan ayahnya dengan wajah tegang, kemarahan Mang Usep sore tadi masih tergambar jelas dari raut wajah tuanya. Bagi Arjuna, ayahnya adalah sosok mengerikan yang menyimpan Angkara. Sejak kecil Arjuna tidak pernah mendapatkan kasih sayang ibunya, hanya Mang Usep yang selalu merawatnya.
Mang Usep mengenal ilmu hitam sejak Arjuna duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar. Mang Usep yang dulu begitu lembut dan melindunginya layaknya ibu dan ayah sekaligus berubah menjadi pribadi yang menakutkan bagi anak seusianya. Ayahnya berubah menjadi pemarah, kasar, penggoda wanita, bahkan tak segan untuk memukul Arjuna kecil.
Seiring dengan meningkatnya ilmu yang ayahnya miliki, Arjuna pun mulai ikut mempelajarinya. Lambat laun nama keduanya terkenal di antara para pelaku ilmu hitam. Membuat keduanya disegani siapapun yang mengetahuinya. Tidak ada yang tidak bisa dilakukan mereka berdua. Kekuatan iblis telah menutup nurani mereka sebagai manusia dan menjadikan keduanya bagian dari kaki tangan iblis.
Mang Usep mengeluarkan satu keris kecil dari rangkanya, dan meletakkan di dekat tumpeng.
"Apa masih ada yang kurang, Bah?" tanya Arjuna tak sabar.
__ADS_1
"Udah cukup, tinggal nunggu waktunya, beberapa menit lagi."