Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 68


__ADS_3

Mang Aa dan Mas Hendra bersiap menghadapi sesuatu yang datang tanpa diundang. Tamu yang mungkin saja bisa membahayakan salah satu dari mereka yang berada di dalam rumah.


Sari dan timnya masih asik mengerjakan tugas mereka masing-masing. Lain halnya dengan Sari yang merasa semakin gelisah. Ia merasakan sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Sebuah bisikan terdengar di telinganya,


Ada yang akan datang …,


Spontan Sari melihat ke arah luar rumah. Sesuatu yang tidak ia pahami seolah mengundangnya untuk terus menatap keluar pada satu titik. Tubuhnya merasa aneh hawa panas dan dingin menyatu menusuk dengan tajam tepat di bagian kiri tubuhnya.


Rasa apa ini, kenapa berbeda dari sebelumnya …, batin Sari sambil terus memandang ke luar yang gelap dan sunyi.


Rasa penasaran membuat Sari berinisiatif untuk pergi keluar rumah. Baru saja kakinya hendak melangkah keluar, tangannya ditarik paksa oleh seseorang.


"Jangan gegabah, diam disini dan jangan keluar rumah … belum saatnya kamu berhadapan dengan hal itu Sar!" 


Mas Hendra rupanya sedari tadi memperhatikan dan mengawasi Sari dari belakang. Mang Aa meminta Mas Hendra untuk menjaga Sari, ia sendiri kembali masuk ke kamar mas Hendra setelah sebelumnya ia berpesan untuk menjaga Sari agar tidak tertidur.


"Mas Hendra, bikin kaget aja. Ada apa ini mas kenapa hawanya terasa aneh lain dari sebelumnya?" Tanya Sari yang masih terkejut dengan ucapan mas Hendra


"Kami juga ngerasain Sar, pelajari dan rasakan bedanya. Ada sesuatu yang jahat diluar sana sedang mengincar kamu?!"


"Mengincar Sari, tapi kenapa?"


"Kesalahpahaman yang belum selesai urusannya." Jawab mas Hendra sambil menatap Sari 

__ADS_1


"Pak Adit …" gumam Sari 


Mas Hendra diam dan tidak menjawab. Sesuai pesan Mang Aa dia harus menjaga Sari dan membawanya masuk kembali ke dalam rumah. Sari masih saja penasaran dan terus menatap ke arah luar yang gelap gulita tanpa penerangan.


" Jangan dilihat terus, ayo masuk!" Ajak Mas Hendra dengan menarik tangan Sari.


Sari terkejut mendapati teman satu timnya sudah tertidur pulas. Sari ingat betul mereka masih aktif mengerjakan tugas masing-masing ketika ia meninggalkan mereka tadi.


"Lho kok pada tidur, eeh bangun dong!"


Kata Sari berusaha membangunkan teman-temannya.


Tapi usahanya tidak berhasil, mereka seolah terkena sihir tidur tidak bergerak sama sekali. Bahkan Rara pun tertidur di depan laptopnya yang masih menyala. 


"Biarin mereka tidur Sar, itu lebih baik buat mereka. Ayo ikut mas Hendra!"


"Percaya sama Mas Hendra, sasarannya kamu bukan mereka!" 


Sari diam dan menatap mas Hendra, ia masih belum yakin dengan perkataannya.


Apa salahku, kenapa aku sasarannya? batinnya heran.


"Nanti aja nanyanya, sekarang ikut mas Hendra ke dalam!" 

__ADS_1


Sari bingung mas Hendra seolah tahu dengan apa yang ia pikirkan. Tanpa banyak tanya lagi Sari mengikuti Mas Hendra setelah mengunci pintu rumah dan mematikan laptop Rara.


Semoga kalian baik-baik saja ya, lindungi teman-teman ku ya Rabb … pinta Sari dalam doanya sebelum meninggalkan Bagas dan yang lainnya.


Mas Hendra mengajak Sari masuk ke kamarnya. Sari sedikit terkejut ketika memasuki kamar mas Hendra, ia bisa merasakan aura yang berbeda dari sebelumnya, dan itu milik Mang Aa. Sari melihat Mang Aa duduk bersila, tangannya memegang tasbih mulutnya bergerak pelan dan terus menerus. 


"Mang Aa sedang apa mas?" Bisik Sari 


"Ssstt … diam dan perhatikan saja, Mang Aa lagi bikin perlindungan." Jawab Mas Hendra pelan


"Untuk Sari?"


Mas Hendra mengangguk, "Untuk kita juga."


Mas Hendra kemudian memberi isyarat diam pada Sari. Mas Hendra kemudian  melakukan hal yang sama seperti Mang Aa. Sari bergerak sedikit menjauh dar Mas Hendra untuk memberikan ruang padanya. Ia hanya bisa memperhatikan keduanya tanpa tahu harus berbuat apa.


Sebuah bisikan kembali terdengar di telinga kiri Sari,


Sebentar lagi datang, bersiaplah …


Perubahan suhu perlahan mulai dirasakan Sari. Sunyi sekali tidak terdengar suara binatang malam bahkan jangkrik sekalipun. Seolah Sari sedang berada dalam ruang hampa yang bertekanan tinggi.


 Dia yang awam dengan hal semacam itu tentu saja sedikit panik. Mang Aa nampak sesekali mengerutkan keningnya, peluhnya membasahi wajah dan pakaiannya begitu juga dengan mas Hendra. Sari mulai terserang kantuk, padahal ia mulai kegerahan dan berkeringat. Berkali kali Sari menguap dan menahan matanya agar tidak terpejam.

__ADS_1


Tiba-tiba saja suara keras terdengar menggelegar dari atap rumah, Sari terkejut dan seketika membuka matanya. Belum lagi ia menguasai dirinya, seorang lelaki paruh baya bersorban dengan wajah teduhnya sudah duduk disebelah Sari dan tersenyum.


"Jangan tidur, belum waktunya kamu kalah!"


__ADS_2