
Bagas dan timnya dikejutkan oleh kedatangan Pak Adit dan kedua asistennya. Sari dan Bagas saling berpandangan, mereka seketika berdiri dan bergegas menemui Pak Adit di ruang tamu.
Sari dan Bagas terkejut melihat kondisi Pak Adit yang memprihatinkan. Wajah tampannya tampak pucat, bibirnya sampai memutih seolah menahan rasa sakit yang luar biasa. Tubuhnya pun kurus dengan beberapa luka di kaki dan tangannya.
"Astaghfirullah, pak Adit kenapa?" tanya Sari kebingungan. Ia menghampiri Pak Adit yang terduduk lemas di kursi didampingi kedua asistennya.
"Tolong saya Sar, sembuhin saya!" pintanya dengan nafas tersengal.
"Saya? Kenapa harus saya yang nyembuhin, saya bukan dokter pak?!"
"Maaf mbak Sari, kalo boleh saya bicara mewakili pak Adit. Bapak sakit karena ehm, itu … duh gimana ya saya bilangnya?" Asisten Pak Adit kebingungan untuk mengatakan yang sebenarnya pada Sari
"Ehm, anu … bapak kemarin nekat mau nyantet mbak Sari." Lanjutnya lagi sambil menunduk, ia tidak berani menatap Sari.
"Apa, nyantet saya? Memang kenapa dengan saya, bisa pak Adit jelasin?"
Asisten Pak Adit saling berpandangan, mereka lalu menatap pak Adit berharap pak Adit mengatakan sesuatu.
"Maaf, saya dibutakan dendam ke kamu Sar, dan sekarang saya menyesal. Tolong bantu saya, sembuhin saya, saya masih mau hidup dan menebus kesalahan saya ke kamu!"
Sari terdiam dan menatap Pak Adit, rasa iba menyelimuti hati Sari. Meski ia juga belum bisa menerima perlakuan Pak Adit padanya.
"Saya salah apa ke pak Adit sampai bapak nekat begitu?"
Pak Adit diam, matanya menunjukkan kesedihan mendalam. Ia merogoh kantong bajunya, tangan Pak Adit meraih selembar foto dan memberikannya pada Sari.
__ADS_1
"Ini Imran, kakak saya satu satunya."
Sari menerima foto yang diberikan pak Adit, dan memastikan itu foto yang sama seperti yang tertempel di buku harian Tante Danique. Sari menunggu pak Adit memberikan penjelasan.
"Danique, Tante kamu kan? Dia tunangan kakak saya."
"Terus?"
"Sejak Tante kamu pergi ninggalin mas Imran dia berubah. Dia cinta banget sama Danique, tapi Danique sudah bikin kakak saya jadi seperti orang gila! Bahkan setelah mas Imran nggak ada pun Danique nggak muncul juga. Dia pembunuh!" Pak Adit mengatakannya dengan nafasnya yang tersengal. Rasa sayangnya pada sang kakak telah membutakan hatinya.
Sari menghela nafas panjang. Ia perlahan berusaha menjelaskan pada pak Adit masalah yang sebenarnya.
"Kenapa bisa Pak Adit bilang gitu ke Tante saya? Pak Adit belum tahu kan ceritanya gimana? Dan juga kenapa harus balas dendam ke saya, kan saya juga nggak ngerti apa-apa?" tanya Sari beruntun
Pak Adit menatap Sari dan berkata, "Wajah kamu persis seperti Danique, saya baru sadar waktu baca buku tua itu. Rasa kecewa saya ke Danique muncul begitu saja dan berniat menuntut balas ke kamu." jawab Pak Adit
"Kamu mau maafin saya, tolong saya Sari?!" Sekali lagi pak Adit memohon pada Sari.
Sari menatap Bagas, "Maafin dia Sar, ini kan cuma salah paham aja. Lebih baik kamu jelasin deh ke Pak Adit."
Pak Adit yang kebingungan dengan perkataan Bagas hanya bisa menatap Sari berharap Sari bisa menjelaskan padanya.
"Tante Danique sudah meninggal." jawab Sari singkat membuat Pak Adit kebingungan.
"Maksud kamu?"
__ADS_1
"Tante Danique bukan menghilang dan pergi ninggalin mas Imran, tapi dia menghilang karena dibunuh dan sampai sekarang saya masih cari jenazahnya."
Jawaban Sari sontak membuat Pak Adit terkejut bukan kepalang. Ia tidak percaya dengan perkataan Sari.
"Dibunuh gimana, saya nggak paham?"
"Panjang ceritanya pak. Sekarang gini deh yang utama nyembuhin pak Adit dulu. Nanti saya ceritain setelah pak Adit sembuh." kawab Sari
Pak Adit mengangguk tanda setuju. Memang itu tujuan utama ia mendatangi Sari.
"Apa mang Aa bisa?" tanya Pak Adit
"Mang Aa, meninggal pagi tadi." jawab Sari pelan.
"Innalillahi wa Inna ilaihi Raji'un … saya turut berduka cita. Maaf saya nggak tahu." sesal Pak Adit.
"Masalahnya saya nggak bisa bantu nyembuhin pak Adit, saya … belum belajar sampai situ."
Pak Adit kecewa, ia tadinya sangat berharap Sari bisa membantunya mengakhiri penderitaan akibat teluh yang ia kirimkan sendiri. Pak Adit menunduk lesu begitu juga dengan Sari yang bingung harus gimana.
"Saya bisa bantu dia!"
Terdengar suara berat dari arah pintu. Mereka melihat ke arah sumber suara, seseorang yang mereka kenal datang membawa angin segar bagi Pak Adit. Lelaki paruh baya itu tersenyum pada Sari, ia pun menyapa Sari dengan ramah.
__ADS_1
"Selamat malam mbak Sari, kita ketemu lagi ya?!"
"Pak Koswara …"