
Sari dan Doni terkejut, Bagas seketika masuk ke dalam mobil dengan nada kesal. Apalagi ia segera mengendarai mobil dengan sedikit emosi.
"Eh, ada apaan ni nyebut Gas … nyebut, Lo kenapa sih kayak orang kesetanan gitu?" Tanya Doni mencoba mengingatkan Bagas
"Iya Gas, kenapa ini kok tiba-tiba kamu emosi?"
Bagas masih terdiam dan tidak mau menjawab sedikit pun, ia terus memacu kendaraannya sampai berhenti di pertokoan yang memiliki fasilitas ATM.
"Gila Lo Gas, gue belum mau mati muda kali … Lo kenapa sih kayak orang kesurupan gitu, untung gak nabrak orang coba tadi!" Kata Doni kesal
"Ngomong deh ada apa?" Tanya Sari
Bagas menghela nafas panjang lalu menatap ke arah Sari dan Doni.
"Tadi aku nanya ke warung itu, rumah siapa yang didatengin sama Pak Adit,"
"Trus kata yang punya warung gimana? Tanya Sari
Rasa kesal masih terlihat jelas diraut wajah Bagas,
"Itu rumah dukun hitam ?!"
__ADS_1
"Eh, dukun hitam maksud lo gimana nih, gue taunya dukun tu dukun pijat, dukun beranak, dukun hitam? Dukun nya pake baju item apa emang orangnya item?" Sahut Doni
"Doni!" Seru Bagas dan Sari bersamaan
"Lah kenapa teriak barengan, salah apa gue?"
"Iiiish, kirain masa depan lo aja yang surem otak lo ternyata juga burem ga jelas!" Ujar Bagas kesal.
"Cckk, dah kamu diem dulu dengerin penjelasan Bagas gimana. Ngomong dikit lagi aku jitak ni kepala kamu!" Ancam Sari pada Doni
"Iya deh gue diem, dijitak manja aja ya Sar." Sahut Doni yang langsung mendapat tatapan tajam dari Sari.
Doni pun memberi kode dengan jarinya lalu diam mendengarkan Bagas.
"Astaghfirullah … trus ngapain Pak Adit kesitu Gas?" tanya Sari
"Nah itu dia, aku pura-pura nggak paham eh si ibu malah nyontohin tu Pak Adit … katanya dah dua hari ini dia bolak balik datang kemari mpe si ibu hafal!"
"Apa, gila Pak Adit?!" Tanya Sari tidak percaya.
"Iya, si ibu iseng nanya ke anak buahnya katanya si bosnya mo bikin mati orang!"
__ADS_1
Kata Bagas sambil menahan amarahnya
"Gila tu orang, mau bikin mati siapa dia macem-macem aja sih bukannya kemari dampingin kita liputan malah nyari dukun santet, sarap!" Sahut Doni kesal
Sari terdiam, firasatnya buruk tentang Pak Adit. Kelakuannya mendatangi dukun santet bertolak belakang dengan beberapa hari belakangan saat mereka berkenalan di kantor. Sesuatu telah terjadi pada Pak Adit.
"Dah, kita bahas nanti lagi aku ambil uang dulu keburu magrib nggak baik masih dijalan pas magrib. Kamu, tenangin diri kamu dulu Gas aku nggak mau dibawa ngebut kayak tadi!" Kata Sari
"Tapi ngebut ke hatimu boleh kan Beib?" Tanya Bagas dengan isengnya
Sari hanya tersenyum mendengarnya. Doni ikut turun bersama Sari, karena jumlahnya cukup banyak Sari harus menggunakan dua ATM yang berbeda, dan itu sedikit memakan waktu.
"Sar, gue punya firasat jelek nih denger tentang Pak Adit." Kata Doni
"Uhm, sama Gas sikapnya juga berbanding terbalik sekarang. Kamu perhatiin nggak sih sikap dia berubah setelah baca buku tua itu." Sahut Sari
"Gue sih nda merhatiin cuma emang ngerasa ada yang aneh aja sama dia Sar, bayangin deh dia sponsor tapi jarang bahkan nda pernah dampingin kita selama liputan kan?"
"Iya juga sih, sekalinya dia ikut itu pas pertama ke rumah Pak Koswara abis itu dia menghilang." Kata Sari mencoba mengingat ingat
"Bahkan dia nggak pulang ke rumah sodara Lo kan?" Sambung Doni
__ADS_1
Sari memandang Doni dengan tatapan ngeri, mereka baru menyadari kelakuan aneh Pak Adit selama ini.
"Don, jangan-jangan … "