
Sari bingung dengan maksud pak Koswara menjadikan mereka saksi. Ia berpikir mengapa bukan warga yang memergoki Ratih dan Seno saja yang menjadi saksinya.
Sari merasa ini sungguh aneh, seolah Pak Koswara menghalangi kepulangan dirinya dan tim untuk kembali ke kota Cirebon.
Ratih masih menangis menyesali perbuatannya. Kedua orang tuanya hanya bisa menunduk lesu. Putri semata wayangnya telah mencoreng nama baik Seca Branti dan juga merusak tatanan adat istiadat keluarga penerus sintren.
"Saya bersedia bertanggung jawab dan menikahi Ratih sekarang juga Mang, saya mencintai Ratih!" ucap Seno tanpa ada keraguan.
"Bagus, memang seharusnya begitu. Kamu sudah membuat malu saya juga keluarga Ratih. Dan kamu Ratih, mulai saat ini bukan lagi bagian dari keluarga besar Seca Branti!" seru pak Koswara dengan nada tinggi.
"Panggil ustadz Sam, kita nikahkan mereka sekarang!" Perintah pak Koswara pada mang Dadang.
Pak Koswara bahkan tidak meminta persetujuan dari kedua orang tua Ratih. Ia seolah menjadi pembuat keputusan mutlak yang harus diikuti pengikutnya. Sari menatap Ratih dengan iba tapi juga kecewa atas kelakuannya.
Bagas, Sari, dan Doni memutuskan untuk berpamitan pada Pak Koswara karena dirasa sudah cukup untuk menjadi saksi seperti yang dimaksud Pak Koswara. Tapi ternyata niat mereka dihalangi oleh Pak Koswara.
"Tunggu dulu mas Bagas. Kalian harus tetap disini, bukannya ini juga bisa dijadikan bahan liputan kalian. Seorang penari sintren yang melanggar tradisi dan dinikahkan paksa dengan kekasihnya?!"
Mereka bertiga saling berpandangan. Sari menunjukkan ekspresi wajah tidak senang dengan perkataan pak Koswara.
__ADS_1
"Liputan?" tanya Sari keheranan.
"Iya, liputan." ucap Pak Koswara sekali lagi.
"Maaf pak, tapi ini kan masalah pribadi dan saya rasa ini tidak ada hubungannya dengan sintren." Bagas berusaha menolak keinginan Pak Koswara dengan halus, karena memang hal tersebut bukan untuk konsumsi publik.
"Yakin?!" tanya pak Koswara sekali lagi.
" Seratus persen yakin pak, jadi maaf kami undur diri dulu!" pamit Bagas sekali lagi.
Pak Koswara menghembuskan nafasnya dengan berat, amarahnya sudah berangsur menurun. Ia menatap Sari seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Kami maklumi pak, dan mohon maaf sekali lagi ini bukan ranah kami!" sahut Bagas menegaskan kembali.
"Mas Bagas benar kok, saya yang nggak mikir jernih." ucap pak Koswara sedikit menyesal.
"Baiklah kalau begitu, kami pamit ya pak!"
"Tunggu dulu!"
__ADS_1
Pak Koswara menghentikan langkah mereka bertiga. Ia menarik tangan Sari dan mengatakan sesuatu yang cukup mengejutkan,
"Hati-hati mbak Sari, saya tahu mbak mau ke galeri seni itu!"
"Kok bapak tahu?" tanya Sari
"Maaf, semalam saya nggak sengaja lewat dan dengar sedikit tentang galeri seni itu." jawab pak Koswara, tatapan nya mulai berubah.
"Bapak tahu siapa pemilik sanggar itu?"
Pak Koswara menarik nafas panjang dan memandang Sari sejenak, "Dia … kakak tertua saya, Mang Usep namanya. Tolong jangan gegabah mbak, dia berbahaya untuk orang-orang seperti mbak Sari!"
"Maksudnya gimana nih?" Sari bertanya lagi dengan rasa penasaran yang membuncah.
"Dia suka dengan gadis-gadis cantik seperti mbak Sari. Dia pemuja setan!"
Sari terkejut, dia bingung harus berucap apa. Dalam waktu singkat 2 kata mengerikan terdengar di telinganya. Tumbal dan pemuja setan.
Apalagi ini … Tante Danique, sebenarnya apa yang terjadi denganmu?
__ADS_1