Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 150


__ADS_3

Sari nekat menerobos masuk, rumah itu nampak sepi karena memang sudah dikosongkan oleh penyewa sebelumnya. Tidak ada perabotan di dalamnya, lantainya pun tampak berdebu, Sari memperhatikan rumah itu dengan seksama dari depan lalu berjalan ke belakang.


"Sar, Lo yakin disini ada orang? Ni kan cuma rumah kosong!" tanya Doni mengikuti langkah Sari.


"Dia ada disini, aku yakin!" jawab Sari, ia melihat ke dalam rumah melalui kaca yang mulai buram karena debu.


Sari melihat jejak sepatu diatas lantai yang kotor dalam rumah, Sari yakin itu jejak baru. Ia mencoba menarik handle pintu, dan terbuka. Sari menoleh dan memberi kode pada Bagas, Doni dan Seno.


Perlahan Sari masuk dan mengikuti jejak sepatu. Ia berjalan mengendap endap dan berhati-hati. Sari waspada.


"Halo, apa ada orang disini?" teriak Sari.


Tidak ada sahutan. Sari kembali berteriak, kali ini memanggil nama Andi.


"Mas Andi! Saya tahu kamu disini! Kita perlu bicara!"


Masih tidak ada suara sahutan, Sari melangkah lebih jauh ke dalam rumah semakin mendekati kamar yang terdapat jejak sepatu lebih banyak.


"Mas Andi, keluarlah?! Kita bicara baik-baik!" seru Sari lagi.


Terdengar suara benda jatuh dari dalam kamar. Sari berhenti, begitu juga dengan yang lain. Sari menajamkan pendengaran, ia mendengar suara menangis lamat-lamat suara itu terdengar semakin keras. Suara tangisan lelaki.


"Sar, Lo denger kan itu?" tanya Doni


"Iya, denger suaranya dari kamar ini." jawabnya sambil menunjuk ke arah pintu kamar yang masih tertutup.

__ADS_1


"Minggir Sar!" Doni mengambil posisi di depan Sari, dengan perlahan ia membuka pintu.


Semuanya waspada, berjaga-jaga seandainya sesuatu atau seseorang menyerang dari balik pintu. Suara derit pintu yang berkarat membuat telinga ngilu. Doni mendorong pintu perlahan hingga terbuka lebar.


Kamar itu terlihat gelap, cahaya hanya berasal dari jendela yang mulai buram. Aroma debu terasa menggelitik hidung Sari, berkali-kali ia mengibaskan tangannya terganggu dengan aroma yang menyesakkan dada. 


Seseorang terlihat berjongkok dengan kepala yang terbenam di antara kedua tangannya yang dilipat. Ia menangis. Doni berusaha mendekatinya. Ia bisa mencium aroma tidak sedap dari tubuh pria yang menangis itu. Beberapa botol minuman tampak berserakan di sebelah pria itu. Sepertinya ia mengalami stres.


"Mas Andi?" tanya Sari yang mulai mendekat setelah Doni memberikan kode aman.


Pria itu masih belum menjawab. Isak tangisnya masih terdengar lirih. Sari memandang ke arah Doni yang telah berdiri di sampingnya. Sari menoleh ke arah Seno memberi kode untuk memastikan pria yang sedang menangis adalah Andi.


Seno mengangguk dan menghampiri lelaki itu. Seno berjongkok dan memanggil namanya untuk memastikan bahwa itu Andi.


"Kang, ini Seno! Kang Andi ngapain disini?!" yanya Seno setelah memastikan lelaki itu Andi.


"S-Seno?"


"Iya Kang, ini Seno. Kang Andi kok disini, ngapain?!" tanya Seno sekali lagi.


"S-saya … saya, takut!"


"Takut sama siapa Kang, mana Dika?!" 


"Den D-Dika … dia … aaaargh, nggak saya nggak tahu dimana dia!" Tiba-tiba saja Andi berteriak dan mengacak acak rambutnya. Ia sangat ketakutan, matanya menatap kesana sini seperti ketakutan ada yang mengincar dirinya.

__ADS_1


"Pergi! Pergi kalian! Saya nggak tahu!"


"Nggak tahu gimana Kang, coba tenang dulu! Tatap saya Kang, ceritakan ada apa?!" Seno meraih bahu Andi dan mengusapnya.


Andi menatap Seno dan menggelengkan kepalanya dengan cepat. Sari tampak tenang, ia tahu Andi pasti mengetahui sesuatu tentang kematian Dika. Ia mendekati Andi dan berjongkok tepat dihadapan Andi.


"Mas Andi … bisa lihat saya sebentar, jangan takut saya nggak akan nyakitin mas Andi. Percaya saya,ok?!" Sari bicara dengan lembut untuk membuat Andi tenang.


Andi berganti menatap Sari, ia terdiam sejenak. 


"Saya cuma mau tanya, dimana Dika menguburkan jenazah korban-korban itu?" 


"Korban? Nggak, saya nggak tahu!" Ia kembali menggelengkan kepalanya, mata Andi bergerak kesana kemari seperti orang bingung.


"Dika menyuruh mas Andi untuk bantuin dia kan? Tolong kasih saya petunjuk!" pinta Sari mengharapkan Dika bisa bekerjasama.


"S-saya takut!"


"Apa yang ditakutkan mas Andi? Apa mas Andi juga ikut membunuh mereka?!" tanya Sari menatap lekat mata Andi.


Andi kembali menatap Sari, "K-kamu ada disana kan? Kamu yang … argh, ampun! Ampuni saya, jangan bunuh saya!" teriak Andi, ia merubah posisinya seolah-olah bersujud memohon ampunan pada Sari.


Sikap Andi membuat Sari terkejut dan kehilangan keseimbangan hingga ia terjerembab. Entah bagaimana tiba-tiba saja Andi sudah mengarahkan sebuah pisau di leher Sari.


 Sontak semuanya terkejut dan berteriak. Tapi terlambat, Andi mencengkeram kuat pakaian Sari dan menempelkan pisau tajam itu dileher mulus Sari. Tekanan pisau tajam itu mulai menggores leher Sari. Ia memberi kode pada yang lain untuk tenang dengan tangannya.

__ADS_1


"Saya tahu kamu akan datang cari saya!"


__ADS_2