Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 113


__ADS_3

Sari duduk berseberangan dengan Mang Usep. Ia mencoba bersikap seperti biasa, begitu juga dengan Mang Usep dan Arjuna. Sari memilih untuk diam dan menikmati hidangan yang ada. Obrolan ringan yang mengalir antara Mang Usep dan keempat rekannya hanya ditanggapi dengan senyuman oleh Sari.


"Saya dengar mbak Sari keturunan Belanda ya?" tanya Mang Usep tiba-tiba pada Sari membuat dirinya tersedak.


"Pelan Sar, makanya kalo makan jangan ngelamun terus!" Bagas menepuk nepuk punggung Sari dan memberinya segelas air.


"Ngelamun apa sih Lo, gue ada disini ngapain ngelamunin gue Sar?" Ujar Doni santai sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. 


Mang Usep tersenyum miring dan memandangi Sari tanpa berkedip. Ia merasa seperti pernah bertemu dengan Sari sebelumnya. Wajah Sari tampak tidak asing membuat Mang Usep bertanya sekali lagi.


"Maaf mbak, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Belum pak, ini kali pertama kita ketemu. Muka saya pasaran ya pak?" tanya Sari sambil tersenyum.


"Sanes pasar tapi beungeutna geulis pisan! Neng, asalna ti Walanda?"


(Bukan pasaran tapi cantik banget wajahnya! Neng, asli dari Belanda?)


Sari bingung harus menjawab apa, ia tidak mengerti bahasa Sunda. Arjuna tersenyum pada Sari dan menjelaskan arti pertanyaan Mang usep.


"Abah nanya ke mbak Sari, apa mbak Sari asli dari Belanda. Abah kagum sama kecantikan mbak Sari!" 

__ADS_1


"Oh begitu, maaf saya kurang paham. Daddy saya orang Belanda namanya Berend Janssen Van Leeuwen, mommy saya asli Cirebon." jawab Sari dengan menatap Mang Usep.


Mang Usep kembali tersenyum, dalam hatinya ia masih bertanya-tanya sendiri. Ia benar-benar merasa pernah bertemu dengan Sari.


"Oh jadi ini kru yang mas Bagas ceritain orang asli Cirebon?" tanya Arjuna


"Iya mas, ya nggak asli banget lah. Lihat sendiri kan blasteran." 


Mang usep terus memperhatikan Sari bahkan hingga acara makan siang selesai. Sari yang mengetahui hal itu sengaja memancing Mang Usep untuk terus mendekatinya. Melihat Sari hendak pergi, Mang Usep memberi kode pada Arjuna untuk mengikuti Sari.


"Gas, aku duluan ya. Mau lihat-lihat galeri dulu." pamit Sari pada Bagas.


"Boleh saya temenin mbak Sari?" Arjuna menawarkan diri menemani Sari. 


"Boleh, kebetulan saya juga takut nyasar nih, tapi ingat ya tangan nggak usah kemana mana!" 


"Janji!" sahut Arjuna dengan mata yang menggoda.


Hati Bagas terbakar api cemburu melihat tingkah Arjuna yang sengaja menggoda Sari. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak. Ia harus mengorbankan perasaan sejenak demi misinya membantu sang kekasih hati.


Sari berjalan beriringan bersama Arjuna. Ia sengaja memilih sudut yang menyimpan berbagai macam jenis topeng. 

__ADS_1


"Topeng-topeng ini asli buatan tangan apa memang ada cetakannya? Ini yang dipakai nari tadi kan?" tanya Sari


"Iya mbak topeng ini bagian dari properti tari topeng yang semuanya berjumlah lima buah. Ini handmade mbak Sari, dibuatnya juga nggak sembarangan. Yang mbak Sari pegang itu namanya Samba dia merupakan wujud dari sifat anak-anak yang ceria, lucu dan lincah."


"Wah handmade ya, mahal dong?" 


"Semua hal yang bernilai seni pasti memiliki harga mbak." jawab Arjuna tersenyum.


"Topeng ini namanya apa?" tanya Sari lagi.


"Ini topeng kelana atau Rahwana mbak, yang paling sering dipakai dalam tari topeng. Dia ini perwujudan dari kemarahan manusia."


Sari mencoba memakai topeng kelana di wajahnya. Ia bisa melihat ekspresi wajah Arjuna yang tiba-tiba berubah saat melihat Sari memakai topeng Kelana.


Arjuna seolah masuk dalam ruang waktu masa lampau, ia tiba-tiba teringat pada salah satu tumbalnya yang mengenakan topeng kelana saat terbunuh.


Tubuh Arjuna gemetar, ia seolah kembali kemasa itu. Masa dimana ia sempat jatuh hati pada seorang wanita cantik yang terpaksa ia jadikan tumbal karena desakan istrinya. Istri yang di kemudian hari juga ia tumbalkan demi kelangsungan galeri dan menambah kekuatan ilmu hitam.


Sari terus menatap Arjuna dari balik topeng Kelana yang ia pakai, ia mentransfer ingatan hantu penari pada Arjuna melalui kekuatan pikiran yang tiba-tiba saja muncul pada dirinya. Sari tersenyum penuh kemenangan. 


Sosok penari bertopeng itu muncul tepat di belakang Arjuna, mencengkeram kuat bahu Arjuna membuatnya kehilangan kendali atas dirinya. Hantu penari itu berbisik padanya, membuat mata Arjuna terbelalak penuh kengerian.

__ADS_1


Aku datang menuntut balas, darah dibayar darah … nyawa dibayar nyawa!


__ADS_2