Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 141


__ADS_3

Keluarga besar Mom Adeline berkumpul untuk persiapan gelaran acara tujuh hari meninggalnya Mang Aa malam nanti. Tante Kurnia dibantu dua asisten rumah tangganya sibuk menyiapkan makanan kecil untuk para tamu undangan tahlilan. Mom Adeline pun ikut serta sibuk di dapur. Ia tampak menikmati kebersamaan bersama saudara-saudara setelah sekian lama tinggal di luar negeri.


Sari, Bagas dan Doni juga ikut serta membantu. Mereka disibukkan mengisi kantong-kantong kain dengan sembako yang sudah dipersiapkan Tante Eka untuk buah tangan para undangan Yasin tahlil nanti malam. Cukup banyak yang disiapkan untuk acara malam nanti, mengingat bukan hanya tetangga tapi juga sanak keluarga yang belum sempat hadir saat pemakaman Mang Aa juga datang.


"Sar, banyak bener ini yang disiapin? Berapa sih yang mau diundang kayaknya ada seratusan deh?!" tanya Bagas sambil memasukkan kantong beras ukuran dua kilogram ke dalam tas kain.


"Lebih malah Gas, sisanya buat dikasih ke yayasan yatim piatu tempat Mang Aa biasa kesana." jawab Sari


"Keluarga Lo banyak juga ya disini?" tanya Doni.


"Ehm, mereka dari luar kota nggak sempat datang kemarin. Meninggalnya Mang Aa cukup bikin semuanya kaget Don, jadi mereka juga nda sempat datang." jawab Sari lagi.


Sari banyak terdiam hari ini membuat Bagas dan Doni sedikit khawatir. Mereka saling memberi kode untuk menghibur Sari.


"Beib, gimana setelah ini kita liburan yuk? Ke gunung dah cari udara segar biar fresh ngelupain masalah?!" Bagas memancing Sari untuk bicara.


"Ehm, boleh. Kemana?"


" Eh, kemana ya … Don, Lo ada ide kagak?" tanya Bagas ke Doni yang asik mengikat tali pada tas kain.


"Lha Lo yang mo ngajakin nanya gue. Emang gue juga diajakin?" tanya Doni balik.

__ADS_1


"Ya iyalah lo juga ikut! Kata orang nggak baik jalan berduaan nanti yang ketiga ada setan ngikut!" jawab Bagas


Doni berpikir sejenak lalu menekuk wajahnya, "Waaaah, parah Lo Gas! Gue dong setannya?!"


Sari tertawa sambil menatap Doni, "Dasar Lola … nyadarnya pake kelamaan!"


"Nah gitu dong Sar, ketawa kan jadi makin cantik … makin cinta sayanya?!" goda Bagas.


"Jadi kalo nggak cantik nggak cinta ya?"


"Eits bukan gitu beb, cantik itu bukan dari muka doang tapi hatinya juga."


Sari kembali tertawa melupakan ketegangan yang sedang menderanya. Bagas dan Doni saling berpandangan mereka puas karena kejahilan mereka berdua akhirnya membuat Sari tertawa lepas.


"Udahan yuk, temenin aku ke depan?" ajak Sari pada mereka berdua.


"Tante, Sari mau nyekar dulu ya ke Mang Aa?!" pamitnya pada Tante Kurnia yang masih asyik membuat kue bersama mom Adeline.


"Iya, sama siapa kesana?" tanya Tante Kurnia.


"Biasa, ni bodyguard Sari!" Sari mengedikkan kepalanya ke arah Bagas dan Doni.

__ADS_1


Sari bersama kedua sahabatnya cukup berjalan menuju areal pemakaman yang berada di seberang rumah Tante Kurnia. Pohon-pohon besar yang menaungi area pemakaman seolah merentangkan dahannya memayungi ratusan makam yang ada disana. 


Makam Mang Aa terletak ditengah area bersebelahan dengan makam Abah Ibrahim kakek Sari. Gundukan tanah Mang Aa masih basah akibat hujan yang mengguyur kota Cirebon pagi tadi. Bunga tabur yang menyelimuti tanah bagian atas sudah layu dan mengering. 


Sari kembali menaburkan bunga dan air dari botol yang dibelinya di gerbang depan pemakaman. Didampingi kedua sahabatnya Sari berjongkok tepat di sisi kanan kayu nisan bertuliskan nama Mang Aa. Sari memejamkan mata mendoakan paman kesayangannya agar tenang dialam sana.


Bayangan Mang Aa seolah hadir menemani Sari di sisi lain. Mang Aa tersenyum, tangannya menyentuh Sari seolah berkata, "Terimakasih."


"Sar …" Bagas membuyarkan lamunan Sari dengan menyentuh bahunya.


"Jangan ngelamun di makam Sar, pamali?!" Doni mengingatkan Sari.


"Iya, aku cuma keingetan sama mang Aa." jawab Sari, ia kembali berdiri dibantu Bagas.


"Kata orang kalo masih tujuh hari rohnya masih di dalam rumah, tujuh hari berikutnya ada di luar rumah." ujar Bagas 


"Aku dengar juga gitu Gas." sahut Sari sendu sambil mengusap nisan mang Aa


Bagas dan Doni mengajak Sari pergi, Sari kembali menatap lekat gundukan tanah basah dengan bunga tabur di atasnya.


Sari pergi malam nanti Mang, semoga Sari bisa kembali dengan selamat …,

__ADS_1


__ADS_2