
Doni yang menjaga Sari di dunia nyata mulai mengkhawatirkan keadaannya. Sari sesekali mengerutkan keningnya, peluh membanjiri kening dan bajunya. Sesekali tangan Sari mengepal menahan rasa. Sesuatu telah terjadi dan Doni yakin itu.
Ia berinisiatif untuk memberikan bantuan energi pada Sari.
"Come on Sar, you can do it! Gue yakin Lo bisa!" batin Doni sambil terus menyalurkan energinya.
Bagas mendekati mereka berdua begitu juga dengan Ucup. Mereka berdua takjub melihat Sari dan Doni.
"Aa, itu si teteh kunaon yak? Meni ngebul kitu?" tanya Ucup pada Bagas.
"Saya juga bingung mereka ngapain mas. Kayaknya sih lagi perang lintas dimensi lagi." Bagas mengira ngira apa yang terjadi pada Sari dan Doni.
Bagas kemudian menceritakan pada Ucup maksud sebenarnya kedatangan mereka bertiga ke villa itu. Ucup hanya mengangguk dan ber- ah oh ria membuat Bagas gemas.
"Masnya ini mudeng nggak sih, dari tadi jawabnya cuma ah, oh mulu?"
"Mudeng itu teh naon A? Makanan?" tanya Ucup polos, membuat Bagas semakin darah tinggi.
"Bukan! Nama permen! Astaga ni orang polos apa belagak oon yak?!"
Ucup yang tidak memahami bahasa Bagas hanya tersenyum. "Saya baru tahu ada merk permen gitu A?"
"Haiiish, dah ah apa kata kamu aja mas! Pusing kepala saya?!"
"Oh ya mas, pernah denger ada bule tinggal disini nggak?"
__ADS_1
"Bule? Non Danique maksudnya?" jawab Ucup.
"Lah, mas tahu Danique?"
"Kenal mas, tapi sebatas tahu dia istri kedua Kang Juna. Selebihnya mah teu terang." jawab Ucup.
"Terus dia dimana sekarang, mas tahu?" tanya Bagas penasaran meski ia juga tahu jika Tante Danique telah meninggal.
"Dia cuma tinggal disini sampai lahiran, abis itu saya nggak tau dia kemana. Kalo ditanya kang Juna cuma bilang udah pulang ke Belanda." Ucup menjelaskan sedikit tentang Danique pada Bagas.
"Masnya tau Kania, sekarang dimana?" tanya Bagas lagi.
"Saya cuma tau neng Kania dibawa ibunya ke Belanda, tapi denger2 dia dah pulang trus sekarang ada sama Mang Koswara."
Bagas hanya terdiam, ia memilih untuk mendengarkan cerita yang sedikit berbeda tentang asal usul Kania. Cerita Ucup mungkin hanya bagian dari skenario Arjuna dan memang benar Kania sekarang berada bersama Pak Koswara.
Ucup mendekati Bagas dan berbisik pelan, "Sssttt, jangan bilang-bilang ya A ini mah rahasia … kang Juna teh udah end alias dead alias modar a …"
"Alias meninggal alias almarhum? Banyak bener aliasnya mas?!" Bagas menggelengkan kepalanya.
"Iiish si Aa mah kitu saya teh belum selesai ngomongnya. Denger-denger Kang Juna mati dibunuh sama musuhnya. Saya tuh antara seneng sama bingung juga sebenernya A?!"
"Maksudnya gimana?"
"Seneng si Kang Juna end, dia mah sudah bikin resah warga sini sama kelakuannya. Tapi juga saya mah bingung, kenapa dia bisa mati cepat? Biasanya mah orang jahat matinya lama kan A, betul nggak?"
__ADS_1
Bagas terperangah mendengar perkataan Ucup, dia bingung harus menjawab apa dan bagaimana berbicara dengan Ucup yang luar biasa polos dimatanya.
"Apa kata mas nya aja dah, liieur saya dengerin masnya ngomong."
Bagas beralih memandangi Sari dan Doni yang belum berubah sedikitpun dari posisinya. Ia khawatir karena kondisi Sari tampak kurang baik.
"Mereka berdua ngapain sih? Belum selesai juga dari tadi!" keluh Bagas.
Sari terkulai lemas, tubuhnya ditahan oleh Doni agar tidak terjatuh. Bagas segera membantu Doni untuk memindahkan tubuh Sari ke lantai.
"Don, Sari kenapa ni?"
"Biasa calon makmum Lo demen bener berantem disana. Liat aja badannya pasti memar lagi." jawab Doni sambil mengecek tangan dan kaki Sari.
"Berantem? Sama siapa?"
"Tau dah, cuma dia yang paham. Bentar Gas gue cek dulu ni cewek antik satu. Cantik-cantik doyan bener berantem kayak nggak ada kerjaan lain aja ni anak." gerutu Doni.
"Sori Sar, bukannya nggak sopan tapi gue kudu cek dulu mana yang luka." Doni perlahan memeriksa tubuh Sari yang tertutup.
Ia memeriksa tangan, kaki dan juga bagian yang terbuka terlebih dahulu. Doni memperhatikan ekspresi wajah Sari yang terlihat menahan sakit saat disentuh bahunya. Doni memeriksanya dengan membuka sedikit kaos yang Sari kenakan.
Tampak memar parah berwarna merah kehitaman menghiasi bahu Sari. Doni terdiam, sejenak ia berpikir tapi kemudian bergerak cepat. Doni meletakkan tangannya di bahu Sari, dengan berkonsentrasi penuh Doni membantu memulihkan luka Sari.
Tangannya mulai bergetar, keringat membanjiri tubuh Doni. Perlahan tapi pasti memar ditubuh Sari menghilang terhisap oleh telapak tangan Doni. Sari mulai bergerak, ia membuka matanya. Doni mengakhirinya dengan mengusap bahu Sari lalu mengatur nafas sejenak. Memar itu hilang sempurna. ia menatap Sari yang mulai menggeliat.
__ADS_1
"Hai, welcome back Beib!"