
Waktu berlalu dengan cepat, dua Minggu telah terlewati. Bagas dan Doni telah kembali ke kota Semarang, begitu juga dengan Sari. Mereka kembali beraktivitas di kantor sembari menunggu projects liputan selanjutnya.
"Gas, lihat ni rating kita naik!" Ahmad berseru pada Bagas yang masih asyik Googling mencari sumber berita.
"Naik lagi? Serius Lo!"
"Beneran … ini rekor bener buat tim kita lho. Terutama yang di galeri seni Gas."
"Hhm, nggak heran kalo itu. Liputan galeri seni itu bahkan semistis tempatnya." sahut Bagas.
"Oh ya kabarnya tes DNA itu gmn ya Gas, penasaran gue." tanya Ahmad.
"Hari ini tesnya keluar, mom udah janjian buat ketemu Kang Yana nanti jam Satu siang." Sari yang baru datang menjawab pertanyaan Ahmad.
"Eh, kamu Sar baru Dateng?"
"Nggak, mau pulang!" sahut Sari kesal pada Bagas.
"Eh, marah ni Beib?!"
"Nggak kok Bagas sayang, saya lagi ketawa."
"Kenapa sih pagi-pagi dah ribut?" tanya Ahmad yang bingung melihat keduanya saling bersahutan.
"Tau tuh kesayangan gue, lagi ngambekan. Kamu lagi PMS ya Sar, ngambek mulu?" tanya nya Bagas.
"Kamu lupa janji ketemu mom semalem? Dia nungguin kamu lho?!" Sari mengingatkan Bagas.
"Astaghfirullah … kenapa aku bisa lupa gini ya, maaf Sar beneran aku lupa?!" Bagas berpura-pura menepuk jidatnya sendiri, tapi sebenarnya ia sedang membuat kejutan untuk Sari.
"Cckk, alesan!"
Ahmad yang bingung hanya bisa memandang kedua rekannya bergantian, "Gini nih kalo dah cinlok, bucin akutnya kagak nahan! Orang lain asa nyamuk aja, tak terlihat!" sindir Ahmad sambil menggelengkan kepalanya.
l
...----------------...
Sementara itu Pak Arya dan Pak Adit sedang berdiskusi tentang program Journey to the East yang disponsori oleh perusahaan Pak Adit.
__ADS_1
"Gimana pak hasil evaluasi dari program kita?" tanya pak Arya dengan harap-harap cemas.
"Good, saya suka. Apalagi saya juga terjun di dalamnya. Saya pikir kerjasama kita akan berlanjut sampai dua tahun kedepan." jawab Pak Adit dengan senyuman di bibirnya.
"Syukurlah kalo begitu, saya udah takut aja nih bapak cabut dukungan."
"Kenapa bisa gitu? Anda terlalu underestimate sama saya sih." pak Adit tergelak.
"Well, saya sudah dengar cerita dari anak-anak. I'm sorry to hear that sad story."
Pak Adit mengerutkan keningnya, "Ah itu, hanya sedikit salah paham saja. Dan ya Anda benar itu adalah kisah yang paling tragis dalam hidup saya … it's so dramatic." Jawab Pak Adit seraya memandang Sari dan timnya dari balik kaca.
Pak Arya mengikuti arah pandangan Pak Adit. Ia bisa mengerti perasaan pak Adit saat melihat Sari. Ia juga mengerti sakitnya kehilangan salah satu orang yang disayangi.
"Kapan tes DNA keluar?" tanya Pak Arya
"Hari ini … saya janjian sama mereka jam satu siang."
"Khawatir?" tanya pak Arya
"No, untuk apa khawatir? Saya pasrah aja apa pun hasilnya itu sudah takdir, iya kan?"
Pak Adit tidak menjawab, ia beranjak Sari duduknya lalu memandang Sari dari balik tirai jendela.
"Hhmm, apa saya masih punya kesempatan?" ujarnya lirih
Pak Arya bingung dengan maksud pak Adit, tapi kemudian berusaha menafsirkan perkataan pak Adit. " Maksud Anda … Sari?!"
Pak Adit terkejut, dan beralih memandang pak Arya. "Eh, ehm ya … mungkin, entahlah saya juga bingung. Sepertinya saya keduluan Bagas, ya kan?!"
Pak Adit tertawa kecil menyadari kebodohannya, andai ia tidak terbawa hasutan dendam lama mungkin masih ada kesempatan baginya untuk mendekati Sari. Sayang emosi dan dendam yang sempat menguasainya membuat Pak Adit kehilangan kesempatan itu, meski sebenarnya Sari sudah memaafkan semua perbuatan Pak Adit.
Pintu diketuk, Sari masuk membawa laporan akhir liputan di Cirebon dan Indramayu. Pak Adit dan pak Arya saling berpandangan.
"Pak, mau minta tandatangan bisa?" Sari menyodorkan map berisi file laporan.
Pak Adit kembali duduk di depan Sari, ia menatap Sari dengan tersenyum.
"Pak Adit baru datang?" tanya Sari
__ADS_1
"Nggak juga udah daritadi kok."
"Gimana kabarnya pak, sehat kan?"
"Alhamdulillah, ohya nanti mau berangkat samaan nggak?"
"Hhm, boleh juga … nanti Sari hubungin mom biar nggak usah jemput kesini."
"Oke, kabar Mom sama Dad kamu gimana?"
"Alhamdulillah baik, sehat dan yang pasti nggak sabar nunggu nanti siang." jawab Sari sambil tersenyum.
Pak Arya memeriksa laporan yang diberikan Sari sesekali ia melirikkan matanya memperhatikan Sari dan Pak Adit karena penasaran dengan interaksi mereka berdua.
"Oke, dah semua. Apa ada lagi yang harus saya tandatangani?"
"Udah kok pak, makasih." Sari hendak keluar ruangan ketika pak Arya memanggilnya.
"Sar, kemana rencana liputan buat next episode?" tanya Pak Arya
"Belum tau juga ni pak, masih cari cerita yang menarik."
"Oke, kabari saya kalo udah ada tujuan. Ada investor baru yang mau sponsori."
"Orang baru?" tanya Sari.
"Iya, dia tertarik sama program kalian. Dia juga minta untuk dilibatkan dalam proses."
Sari berpikir sejenak, lalu menatap pak Adit meminta jawaban. "Not me?!" katanya.
"New comer Sar, tapi tajir bener. Belum-belum sudah siapin dana ratusan juta cuma buat program ini. Kemarin asisten nya kesini, tapi ya itu dia minta kamu harus terlibat." Pak Arya menjelaskan
"Saya? Kenapa saya?" Sari heran.
"Well, saya juga nggak tahu." jawab Pak Arya dengan senyuman.
Sari hanya bisa menduga duga, entah mengapa feelingnya sedikit jelek tentang hal ini. Tapi ia memutuskan untuk mengindahkan perasaannya itu. Ada hal lain yang lebih menyita perhatiannya. Tes DNA.
__ADS_1