
Sari diantar Kang Yana menuju taman Dewandaru yang terletak di area utama Keraton Kasepuhan. Mereka melewati patung sepasang harimau putih sebagai simbol dari lambang keluarga besar Padjadjaran, mengingatkan Sari saat pertama bertemu dengan Bayu.
Kang Yana terus membawa Sari masuk ke area bangunan induk keraton. Ia meminta Sari menunggu di area Lunjuk, dan meninggalkan Sari sendiri.
Bagas dan Doni memang tidak diperkenankan masuk oleh Kang Yana dengan alasan permintaan Bayu. Mereka berdua memutuskan untuk mencari letak galeri seni milik Mang Usep.
Sekian lama menunggu Sari dilanda kebosanan, ia pun memutuskan untuk berjalan jalan mengitari taman Dewandaru. Bersama pengunjung lain Sari ikut masuk ke dalam museum kereta yang berada di sebelah timur taman Dewandaru.
Sepasang pintu masuk kayu berwarna hijau yang cukup tinggi dan ornamen dinding diatas bidang lengkung menyambut kedatangan Sari. Disinilah tempat kereta kencana Singa Barong, karya Panembahan Losari cucu dari Sunan Gunung Jati yang dibuat pada tahun 1549 disimpan. Kereta ini hanya dikeluarkan untuk dimandikan pada 1 Syawal.
Meski bernama Singa Barong tapi sama sekali tidak ada unsur singa yang tampak dari ornamennya. Kereta singa Barong berbelalai gajah sebagai simbol persahabatan kesultanan Cirebon dengan India, berkepala naga sebagai lambang persahabatan dengan Tiongkok, serta bersayap dan berbadan Buroq sebagai lambang persahabatan dengan Mesir. Ukiran pada bagian belakang kereta Singa Barong berbentuk menyerupai gumpalan awan hijau dengan ornamen keemasan di dalamnya.
Di dalam museum itu juga terdapat lukisan Prabu Siliwangi yang dilukis dengan indah dari tangan seorang pelukis yang konon bertemu langsung dengan Prabu Siliwangi secara mistik. Sari berdiri persis dihadapan lukisan Prabu Siliwangi, sebuah rasa aneh menyusupi dirinya. Lukisan itu serasa hidup, ekor matanya seolah mengikuti kemana arah Sari bergerak dan menghadap ke arahnya setiap kali Sari bergerak.
Jadi inikah leluhurku … kenapa aku merasa dilihatin terus nih, apa lukisan ini hidup? tanya Sari dalam hatinya sendiri.
"Indah kan lukisannya, dia Prabu Siliwangi leluhurmu." kata seseorang dibelakang Sari.
Sari terkejut, ia mengenali suara itu, "Bayu."
"Apa kabar Sari, kita bertemu lagi?" sapa Bayu dengan senyuman khasnya.
__ADS_1
"Baik, makasih sudah nanyain kabar saya." jawab Sari datar.
"Kenapa kok nggak semangat gitu jawabnya? Ada sesuatu?" tanya pria tampan yang masih setia berbaju batik khas Cirebon.
"Ya begitulah, kamu tahu kan kenapa aku cari kamu?"
"Sepertinya begitu." Jawab Bayu meninggalkan tanya bagi Sari.
"Buku tua itu, kamu yang antar ke saya kan? Kenapa?"
Bayu tersenyum dan mengajak Sari berjalan keluar area museum.
"Saya memang yang antar buku itu ke kamu. Kenapa? Karena cuma kamu yang bisa melakukannya."
"Ya karena memang hanya kamu yang bisa buka semua misteri ini Sar."
"Pasti ada alasannya kan, nda mungkin begitu saja terjadi?" tanya Sari lagi.
"Alasannya simpel, dia Tante kamu masih memiliki hubungan darah dengan kamu."
Lagi-lagi Bayu memberikan jawaban yang tidak memuaskan Sari. Ia merasa jawaban Bayu bagaikan potongan puzzle yang harus dia rangkai sendiri.
__ADS_1
"Sesimpel itu? Lalu bagaimana buku itu bisa ada di tangan kamu?"
"Iya sesimpel itu memang, kita anggap saja begitu. Masalah buku itu … Danique pernah berkunjung kemari, dia menitipkan buku harian itu dan berpesan untuk memberikannya padamu."
"Ke saya, aneh?!"
"Dia kesakitan Sar, ia butuh bantuanmu dan … " Bayu tidak menyelesaikan perkataannya. Tiba-tiba ia terdiam, matanya menyapu sekitar seolah sesuatu akan menghampiri.
Sari memperhatikan perubahan sikap Bayu dan mengikuti arah pandangannya. Sari mulai merasakan perubahan suasana, cuaca panas kota Cirebon seakan meningkat di sekitar mereka.
Sebuah ruang hampa seolah tercipta melindungi Sari. Bayu berdiri didepan Sari melindunginya dari sesuatu yang tak kasat mata. Tangan Bayu seperti menghalau sesuatu menjauh dari mereka.
Sebuah bola api besar tiba-tiba saja datang dari arah barat, Bayu menghalaunya sebelum sempat mengenai mereka dan membelokkan bola api itu ke arah pohon besar yang berada tak jauh dari mereka. Menimbulkan suara hantaman yang menggelegar bagaikan petir, dan meninggalkan bara api yang membakar sebagian dari pohon besar itu.
Sari terkejut dan memegang erat lengan Bayu, "Apa itu?" tanyanya gemetar
Bayu terdiam, matanya masih memindai sekitar dan melindungi Sari. Ia mengambil nafas dalam sejenak, menutup mata dan mengatupkan kedua tangannya didepan dada.
Sari masih menunggu dalam ketakutannya. Tubuhnya masih gemetar melihat bara api yang perlahan mengecil dan hilang meninggalkan bau hangus kayu terbakar. Tangannya masih memegang erat lengan Bayu, ketika Bayu membuka matanya.
"Seseorang tahu kamu ada disini, berhati-hati lah!"
__ADS_1
Ya ampun … apalagi ini?!