
Kedatangan pak Koswara dan Kania sontak menggegerkan keluarga besar Sari. Malam itu rapat dadakan diadakan mom Adeline. Mas Hendra juga datang untuk memberikan dukungan dan saran pada dad Barend.
Dad Barend sangat antusias mendengar cerita mom Adeline tentang Kania. Ia berharap Kania memang benar putri kandung Danique.
"Hen, menurut kamu gimana?" tanya Mom Adeline setelah menceritakan semuanya pada kerabat yang berkumpul.
"Ya secepatnya aja dilakukan tes DNA biar jelas mumpung Om juga Tante ada di Indonesia." jawab Mas Hendra.
Mas Hendra sebenarnya sepupu Sari dari kakak tiri mom Adeline, pakde Fauzi yang tinggal di Jakarta. Setelah pakde Fauzi meninggal mas Hendra memutuskan untuk menetap di kota Cirebon, karena dia anak tunggal dan ingin kembali berkumpul dengan saudara ayahnya.
"Kamu punya kenalan biar proses tes DNA cepat?" tanya Mom Adeline.
"Tes DNA paling cepat bisa diketahui hasilnya sekitar dua sampai empat Minggu, itupun sudah termasuk cepat Tan?!"
"Oh gitu ya, trus kita harus gimana ini enaknya? Om sama Tante sih masih ada waktu sampai dua bulan ke depan sebelum Visa habis."
Mas Hendra berpikir sejenak, "Ehm, gini deh Tan paling telat besok saya bawain orang dari rumah sakit kenalan Hendra buat bantu kita. Asal Tante siapin aja uangnya, tes DNA lumayan mahal?!"
"Nanti biar temen Hendra yang urus semuanya di salah satu rumah sakit di Bandung." kata mas Hendra lagi.
__ADS_1
"Tante nggak mikirin masalah biaya Hen, yang penting masalah ini cepat selesai. Biar jelas semuanya. Syukur kalo memang Kania itu bener anak Danique, bisa Tante bawa sekalian ke Belanda."
"Eh, mom mau bawa dia ke Belanda? Trus Sari gimana dong?" Sari mulai merajuk.
"Iya, anggap aja dia adik kamu Sar. Kamu kalo dah nikah sama Bagas kan mom bakal kehilangan kamu ya gantinya Kania lah." goda mom Adeline yang mengetahui putri cantiknya kesal.
"Nah lho Gas, Lo dah ditungguin Tante tuh buat lamar Sari?!" seru Doni
Bagas hanya bisa menggaruk kepala dan tertawa, "Nganu Tante, setoran awal belum cukup gimana ini bisa saya kredit nggak lamar Sari nya?!"
"Eeh, kok gitu saya bikin Sari juga tunai lho mas Bagas masa Sari mau diambil kredit?!" sahut mom Adeline bercanda.
"Yaelah Sar, si Bagas Lo samain ma demit tega bener! Iya pake bebungaan lah kalo kagak mana bisa die dateng, jangan lupa plus menyan Sar!" kata Doni yang tidak mau kalah menanggapi.
Terang saja semua yang ada disana tertawa membuat wajah Bagas merah padam.
"Tenang mas Bagas, saya masih menunggu kamu jadi menantu saya kok asal … nggak pake lama ya, keburu Doni ngelamar duluan?!" Lirik mom Adeline pada Doni memberi kode agar semakin menggoda Bagas.
"Waaah ini die pucuk dicinta ulam pun tiba, siap Tante. Bagas lelet saya bertindak, ya nggak Sar?!"
__ADS_1
"Yooi!"
Tawa kembali terdengar, mereka sejenak melupakan masalah Kania dan Danique. Setidaknya untuk sesaat.
...----------------...
Malam menjelang, semuanya telah kembali beristirahat ke peraduan masing-masing. Beberapa bahkan sudah tenggelam di alam mimpinya, terbuai dalam indahnya alam bawah sadar melupakan kepenatan duniawi.
Namun, tidak berlaku bagi Sari. Malam adalah waktunya untuk belajar memperdalam kekuatan dan kemampuannya. Waktu dua hari tidak akan cukup untuk bisa mempelajari semua tapi Sari berusaha dengan sekuat tenaga untuk bisa menguasai kekuatan khodamnya.
Sari memusatkan pikirannya, dan melatih konsentrasi. Membiarkan energi hangat yang menjalari setiap bagian tubuhnya, tak butuh waktu lama ia kembali melintasi dimensi lain. Bayu berdiri di tengah Savana luas dengan langit senja yang menawan. Ia membimbing Sari untuk berlatih mengendalikan keempat maung bodas miliknya.
"Kita mulai latihannya Sar, panggil mereka kemari!" perintah Bayu.
Sari hanya perlu memanggil keempat maungnya dengan lirih, dan mereka pun muncul berjalan dengan anggun dari balik rimbunnya semak belukar. Keempat maung bodas itu mengaum di depan Sari seolah mengatakan.
"Kami siap bertarung bersama!"
Sari yang dulu gemetar ketika bersentuhan dengan para penjaganya kini tidak lagi takut. Ia menyambut keempat maungnya dengan senyum. Dua ekor berjalan mengelilinginya dan dua lagi menikmati usapan lembut tangan Sari dibawah leher mereka.
__ADS_1
Bantu aku kawan, kita punya pekerjaan besar besok …,