
Sari mendekati ruang tempat penyimpanan pakaian dan alat musik. Ratih yang heran dengan sikap Sari membuntutinya dari belakang.
Entah bagaimana Sari tertarik untuk mengenakan kostum mekak. Dia pun mematut dirinya di cermin yang terdapat di dalam ruangan.
"Mbak, mau ikut nari juga?" Tanya Ratih mengagetkan Sari
"Eeh, kok saya disini?" Tanya balik Sari
"Loh mbak sendiri yang jalan kemari pakai baju itu segala." jawab Ratih
"Iyakah, kok saya gak inget ya?" Sahut Sari kebingungan
Doni yang sedari tadi mengkhawatirkan sahabatnya ternyata sudah berdiri di depan pintu dan mendengar perkataan Sari,
"Heeem, kambuh lagi dah tu penyakitnya Sari… banyakin dzikir napa Sar? Kata Doni
"Eh kamu Don, sejak kapan kamu disitu?" Tanya Sari
"Sejak tahun 1976." Jawab Doni asal
"Wah tua dong mas nya?" Sahut Ratih sambil tertawa
"Eh si mbaknya ketawa, kalau ketawa cantik deh mirip ayang Scarlett Johansson." Goda Doni
"Heeem… lagak lu Don." Sahut Sari sambil melempar selembar kain ke arah Doni.
Doni dan Ratih pun tertawa kecil. Sari yang merasa heran ketika mendapati dirinya telah berada di ruang pakaian pun berusaha tertawa kecil meski hatinya penasaran siapa yang telah berbisik kepadanya.
__ADS_1
Perhatian Sari tertuju pada tumpukan rapi pakaian di atas nampan.
"Kok ada baju yang lain juga, sama itu kok ada kacamata hitam segala, emang narinya pake kacamata hitam ya?" Tanya Sari lagi
Ratih tersenyum pada Sari lalu menjelaskan,
" Ini properti pendukung penari sintren mbak, ada pakaian sehari hari yang dipakai sebelum pertunjukan mulai, koncer dan jamang, sabuk, sampur, juga kacamata hitam."
"Kenapa harus pake kacamata hitam?" Tanya Sari
"Karena kami nanti akan menari dalam keadaan trance atau kesurupan dan mata kami ditutup untuk menghindari lirikan mata saat kondisi trance." Jelas Ratih
"Oh begitu, cukup aneh ya." Sahut Sari
"Ya bagi orang awam yang belum mengetahui memang aneh mbak, karena sintren sendiri merupakan perpaduan seni dan mistis." Kata Ratih
"Kamu sendiri nda takut?" Tanya Sari
"Udah nanti lagi dah ngobrolnya, ni dicariin Bagas hayuk buruan Sar." Ajak Doni
"Kenapa emang nyariin aku dia?" Tanya Sari
"Pake nanya segala, kangen dia ma lu… cepetan gue mo balik ke rumah sepupu lu mo ambil barang-barang ni." Kata Doni memaksa Sari segera mengikutinya.
"Eh kok balik?" Tanya Sari lagi
"Bawel amat ni bocah, nti malem kita nginep sini mo ngeliput kegiatan mereka di malam sebelum tampil makanya lu jangan ngilang-ngilang terus napa sih bikin bingung kita semua tau nda?" Seru Doni kesal
__ADS_1
"Oh gitu, lah barang aku gimana?" Tanya Sari
"Iiish gampang yang penting peralatan pendukung dulu lainnya menyusul, lu kan bisa pergi bareng Bagas buat ambil. Sekarang lu temenin Bagas buat wawancara pak Koswara oke Beib?" Jawab Doni
Sari pun menuruti perkataan Doni dan bergegas mengikutinya kembali ke pendopo dan duduk menemani Bagas.
"Darimana sih?" Tanya Bagas pada Sari
"Habis liat para penari ma pengiring musik disana." Jawab Sari
"Wawancara Pak Koswara dulu baru kita kesana, waktu kita nda banyak Sar," kata Bagas
"Iya, sorry Gas tadi aku penasaran aja jadi kesana." Kata Sari meminta maaf
"Nti malem kita disini mau lihat persiapan mereka sekalian wawancara lanjutan, nda apa kan?" Tanya Bagas
"Iya, aku ngikut aja dah apa kata kamu." Jawab Sari
"Eh Pak Adit kemana, kok nda keliatan?" Tanya Sari
"Lho iya kemana dia ya, tadi perasaan disini deh asistennya juga ada tuh." Jawab Bagas sambil mencari cari keberadaan Pak Adit
"Gas, ada yang beres ni ma Pak Adit aku nda nyaman sama dia deh semakin nda nggenah itu orang merinding aku liatnya Gas."
"Eh, maksudnya pie kok merinding saya kan jadi traveling ini Sar otaknya?" Tanya Bagas menggoda Sari
"Iiish… ngeres wae pikiranmu Gas," jawab Sari sambil memukul lengan Bagas
__ADS_1
"Lagian kalo ngomongin Pak Adit mrandang mrinding trus mbok Yo sekali kali aku Sar, ngarep dot com saya,"
Sari hanya tertawa kecil menanggapi ocehan Bagas. Tanpa ia sadari dari kejauhan Pak Adit menatapnya dengan penuh amarah entah apa yang ada di pikirannya hingga amarahnya pada Sari begitu besar.