
Mereka bertiga saling berpandangan. Bagas menghentikan mobil di tepi jalan. Suasana jalan desa sedikit lengang.
"Kamu bawa bukunya nggak Sar?" Tanya Bagas
"Eh lo mau apa Gas, baca buku itu?" Tanya Doni.
"Iya, kita coba baca bareng kan lo sendiri dulu yang bilang bacanya bareng-bareng biar horor bareng kita," jawab Bagas sambil mengerlingkan matanya pada Doni.
"Eits dah, salah ngomong gue yak … yakin Lo mau baca nih?!" Tanya Doni sekali lagi.
"Yakinlah, gimana Sar kamu bawa bukunya nggak?" Tanya Bagas ke Sari
Sari menatap kedua sahabatnya dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan, tapi kemudian ia mengeluarkan buku tua itu dari dalam tasnya.
Buku itu diletakkan didepan mereka. Seketika hawa dingin terasa memasuki dalam mobil. Mereka bertiga saling berpandangan,
"Ada yang aneh?" Tanya Bagas
Sari dan Doni kompak menganggukkan kepala mereka. Bulu kuduk mereka mulai meremang, Doni merasakan sesuatu menyentuh pundaknya. Berat dan membuatnya pusing.
"Sari, s**** Lo pake bawa ni buku … pundak gue berat banget niih, apaan sih ini?" Keluh Doni pada Sari
Sari terbelalak melihat sosok yang berada di belakang Doni. Itu perempuan yang pernah membuka buku tua miliknya. Perempuan dengan wajah pucat pasi dan kulit mengelupas.
__ADS_1
Sari beralih menatap Bagas, seandainya dia bisa melakukan sesuatu tapi bagaimana cara mengusir sosok gaib itu Sari pun tidak tahu.
"Kenapa Sar, kok muka kamu gitu?" Tanya Bagas curiga
"Ehm, itu … eh, Don tukeran tempat yuk?"
Kata Sari tiba-tiba mengejutkan Doni dan Bagas.
Ia segera keluar dan memaksa Doni pindah ke depan. Doni yang terkejut karena dipaksa keluar oleh Sari hanya bisa pasrah. Kini mereka sudah bertukar tempat. Doni berada di depan dan Sari di tempat duduk penumpang.
"Kenapa sih Sar, kok tiba-tiba pindah?" Tanya Bagas
"Nggak apa-apa kok, yuuuk kita terusin jadi buka buku kan?" Tanya Sari seraya melirik ke arah sosok yang masih berada disebelahnya.
Bagas dan Doni yang bingung dengan sikap Sari akhirnya sepakat membuka buku tua itu bersama. Sari menceritakan tentang tulisan tangan yang ada di halaman depan karena Bagas dan Doni tidak bisa bahasa Belanda.
Ia lalu menunjukkan foto Imran yang terselip di antara halaman buku.
"Ini Imran, trus ni Tante Lo?" Gumam Doni sambil berkali kali mencocokkan foto.
"Kalian ngerasa mirip nda seseorang?" Tanya Doni lagi
Bagas dan Sari mencoba melihat foto yang dimaksud Doni. Mereka saling berpandangan, "Pak Adit?!"
__ADS_1
Pikiran mereka sama hingga bisa menjawab bersamaan. Bagas memukul dashboard mobilnya dengan kesal, sementara Doni hanya bisa menggaruk kepalanya yang bahkan tidak gatal.
Sari mendengar sebuah suara berbisik di telinganya dan ia yakin itu berasal dari sosok hantu wanita yang ada disampingnya. Bisikan itu tidak jelas, Sari bahkan tidak memahami perkataannya.
"Sar, Lo kenapa lagi? Haduh, paling takut ni gue kalo dia udah begini?" Gerutu Doni.
Sari memejamkan mata, ia berkonsentrasi untuk mendengarkan suara bisikan gaib itu. Awalnya hanya seperti gumaman tapi kemudian perlahan berubah menjadi sebuah kata,
"Selamatkan aku …"
Sari terkejut, dan ia seketika membuka matanya. Kini ia berada di tempat lain, bukan lagi di mobil bersama Bagas dan Doni.
Eeh, aku dimana ini … bisa pindah tempat begini? Gumam Sari sendiri
Sebuah hutan, gelap, dingin, dan menakutkan. Suara teriakan wanita mengangetkan Sari, mengingatkannya pada mimpi mengerikan yang pernah ia alami.
Sari melihat pergerakan dari balik rimbunnya semak-semak, seorang pria yang menyeret paksa wanita berpakaian penari. Darah tampak membasahi wajah wanita itu. Sari gemetar. Itu wanita dengan pakaian yang sama seperti yang ia lihat semalam. Tubuh wanita malang itu dibuang ke dalam jurang tanpa rasa penyesalan dari sang pria.
Sari hendak berjalan ketika kakinya mengenai sesuatu. Ia berjongkok dan mencari tahu apa yang hampir saja terinjak olehnya. Sari terkesiap,
Topeng merah, ini persis seperti topeng penari itu … batinnya
Tangan Sari merasakan sesuatu yang lengket dan anyir dari sisi topeng bagian dalam, Sari melihat tangannya dan itu darah. Sari berteriak dan menutup mata berharap akan kembali ke mobil bersama Bagas dan Doni.
__ADS_1