
Selepas maghrib rumah Tante Kurnia mulai ramai didatangi para undangan. Sari dan yang lainnya sibuk membantu Tante Kurnia agar acara dapat berlangsung dengan lancar dan khidmat.
Peringatan tujuh hari meninggalnya Mang Aa pun berjalan lancar hingga akhir. Sari dan keluarga besarnya larut dalam doa yang dipanjatkan Kang Malik yang sengaja diundang khusus oleh Tante Kurnia dan Tante Eka.
Satu persatu tamu undangan telah pergi meninggalkan rumah Tante kurnia dan hanya menyisakan keluarga besar Abah Ibrahim bersama Bagas dan Doni yang berkumpul di pendopo.
Mereka masih mengobrol melepas rindu dan bercerita mengenang sosok Mang Aa. Mendengar mereka bercerita membuat hati Sari sakit, ia teringat kegagalannya melindungi Mang Aa.
"Sar, kenapa?" tanya Bagas yang sedari tadi memperhatikan wajah Sari.
"Nggak apa-apa kok, cuma … ah, lupain?!" Sari berusaha menahan air mata yang hampir saja jatuh membasahi pipinya.
"Kamu kalo mau nangis ya nangis aja Sar, nggak baik kamu tahan gitu. Lepasin aja."
Sari memaksakan senyumnya dengan beberapa bulir airmata yang lolos menetes di pipinya.
"Gas, doain aku ya." pinta Sari membuat hati Bagas berdesir.
"Sudah waktunya?" tanya Bagas
"Hmm, sebentar lagi. Semisal aku nggak kembali … "
"Sar, jangan bilang gitu! Aku yakin kamu bisa, dan kamu harus kembali buat aku juga buat orangtuamu. Janji?!"
Sari menatap netra hitam Bagas, ia tersenyum. "Janji!"
Sudut mata Sari menangkap bayangan maung bodas miliknya yang berjalan ke rumah Mang Aa. Tanda mereka datang menjemput Sari. Ia segera berdiri dan berjalan mendekati Mom Adeline.
__ADS_1
"Sari pergi Mom, doakan Sari?!" bisik Sari ditelinga mom Adelina. Ia juga mencium kedua pipi mommy tercintanya.
Mom Adeline mengangguk lemah, memberikan senyum dan usapan lembut di kepala Sari. "Pergilah, doa mom selalu untuk kamu sayang!"
Sari meninggalkan lainnya memantapkan diri memasuki ruangan Mang Aa. Keempat maungnya telah menunggu, Sari terkejut mendapati Doni telah duduk bersila disana.
"Don, kamu disini?"
Doni yang sedang mencoba berkomunikasi dengan keempat maung Sari membuka matanya.
"Lo dah siap Sar?" Sikap Doni kali ini benar-benar serius dan berubah, ia tampak seperti orang lain.
"Harus siap. Jagain aku disini, ok?!"
Doni mengangguk, salah satu dari empat maung Sari mengaum tanda waktunya pergi. Sari duduk dan memusatkan konsentrasinya dalam sekejap mata ia keluar dari raganya melintasi dimensi lain.
"Sudah waktunya Sar, pergilah dan bebaskan Danique!"
"Tunggu, kamu nggak ikut?" tanya Sari pada Bayu, ia masih berada di atas punggung maungnya.
Bayu menggelengkan kepala, "Aku tetap mengawasimu dari sini, ini adalah tugasmu sendiri Sar?"
"Aku pikir kamu ikut, baiklah tapi aku punya permintaan?!"
"Apa itu?"
"Siapin aku hadiah kalo aku kembali dengan selamat, deal?!"
__ADS_1
"Hadiah?"
"Iya dong, hitung-hitung karena saya sudah ngalahin Usep dan Arjuna. Adil kan?"
"Ini bukan waktunya tawar menawar Sari, tapi baik aku setuju. Aku memang sudah menyiapkan sesuatu untuk kamu."
"Aaah, good … I like that! Aku pergi dulu?!" pamit Sari dan memacu maungnya melesat meninggalkan Bayu.
"Sar, hati-hati dengan musuh yang tersembunyi?!" teriak Bayu.
Sari menaikkan tangannya keatas tanda mengerti.
Musuh tersembunyi? Siapa lagi? Sebaiknya aku waspada, dan jangan lengah …, batin Sari.
Come on boys kita selesaikan malam ini juga!
Keempat maung Sari saling berkejaran melintasi dimensi menuju gunung Ciremai. Hawa dingin malam mulai menusuk tubuh Sari. Ia mengeratkan pegangannya pada sang Maung, mempercayakan dirinya pada para penjaga.
Tak berapa lama mereka pun tiba di tempat yang menjadi pusat angkara murka. Kabut tipis menyelimuti tempat Sari turun. Bulan purnama berbaik hati memberikan cahayanya untuk menerangi jalan Sari.
"Apa disini tempatnya?" tanya Sari pada maung pemimpin.
Si maung menggeram lirih menjawab pertanyaan Sari. Ia berjalan perlahan mendekati mulut gua yang ditutupi tumbuhan merambat. Sebuah jurang terjal berada tak jauh dari mulut gua. Sari mengalami Dejavu, ini ada dalam mimpinya tempo hari.
"Ini tempat yang sama dalam mimpiku, jadi tempat ini ada dan Tante Danique … jatuh disana."
Sari menahan amarahnya, tangannya mengepal mengingat kematian tragis sang Tante. Ia menatap keempat maungnya yang kini telah berubah menjadi empat kesatria tampan penjaganya yang siap menerima perintah dan melindungi Sari.
__ADS_1
"Ayo kita masuk!"