Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 47


__ADS_3

Sari kembali ke timnya dan bekerja menyiapkan liputan. Doni, Rara dan Ahmad akan mengikuti kirab sintren keliling kampung sementara Sari dan Bagas menunggu di pelataran rumah Abah Hadi.


Aneka sesaji telah disiapkan tak jauh dari kediaman Abah Hadi, ada pisang tujuh rupa, juadah pasar, arang-arang nambang ( rengginang yang diletakkan diatas air), Sego liwet, telor ayam kampung, tumpeng alus, kembang telon dan berbagai macam jajanan tradisional. 


Asap dupa sedari pagi telah menguar diudara, Sari merasa tidak nyaman dengan baunya. Ini kali pertama Sari mencium aroma dupa yang menyengat. Belum lagi asap dari bakaran kemenyan yang dilakukan oleh sang pawang untuk mengawali ritual sintren.


Para pesinden sintren telah bersiap menembangkan syair lagu untuk memanggil para penonton sembari menunggu kirab sintren datang,


...Tambak-tambak Pawon...


...Isie dandang kukusan...


...Ari kebul-kebul wong nontone pada kumpul...


Tembang itu dilagukan beberapa kali hingga para penonton berkumpul dan para penari telah datang.


Selama prosesi kirab sintren Pak Koswara selalu mendampingi begitu juga dengan sang pawang dan para pendamping. Dengan membawa anglo berisi arang dan serbuk kemenyan yang di taburkan di atasnya, mereka mengelilingi kampung.


Tujuannya selain memberitahu warga kampung juga memanggil Danyang penjaga kampung agar ritual pemanggilan roh berjalan lancar.


Jam menunjukkan pukul sembilan lewat, para penari sintren telah datang dan warga pun semakin banyak berkumpul di halaman rumah Abah Hadi yang letaknya persis di depan rumah Juragan Agah Engkus.


Aroma dupa dan kemenyan berpadu menjadi satu, aromanya begitu menyengat membuat siapa saja yang belum terbiasa seperti Sari merasa pusing.


"Gas, pusing nih ada masker Ndak mau dong satu gak kuat aku ma baunya?!" Keluh Sari


"Sabar Sar, resiko pekerjaan … ada tuh masker di tas ambil aja ndiri aku masih sibuk ni tangannya." Jawab Bagas tanpa mengalihkan pandangan dari kameranya


"Kamu mau juga gak, sekalian aku ambilin?" Tanya Sari

__ADS_1


"Deee, perhatiannya calon makmum boleh dah ambilin sekalian." Sahut Bagas sambil menggoda Sari.


Terdengar alunan syair kembali dari pesinden sintren dengan lirik yang berbeda,


...Turun sintren sintrene widadari...


...Nemu kembang Yun ayunan...


...Nemu kembang Yun ayunan...


...Kembange si Jaya Indra...


...Widadari temurunan...


...……………………...


Sari tampak memperhatikan dari kejauhan bagaimana tahap demi tahap kesenian yang memadukan unsur budaya dan magis itu dilakukan.


 Ratih akan menjadi penari sintren utama, tidak heran mengingat dia yang paling senior dan tentu saja paling cantik diantara semuanya.


Sementara itu dari kejauhan tampak mobil yang ditumpangi Al sekeluarga memarkirkan kendaraannya,


"Sar, ponakan kamu tuh dateng." Kata Bagas memberitahukan pada Sari


"Eh ponakan, mana Gas?" Tanya Sari bingung


"Tuh sama Mak Bapaknya, sama sapa lagi tuh cowok gatel bener mandangin kamu mulu dari semalam?" Tanya Bagas tidak suka saat memandang Cakra


"Cakra maksud kamu, kenapa kamu cemburu ma dia ya?!" Goda Sari

__ADS_1


"Habisnya mata kayak gak pernah liat cewek cakepan dikit, jelalatan bener liat kamu Sar!" Sahut Bagas


Sari pun tertawa mendengar Bagas yang jelas-jelas cemburu pada Cakra. Ia jadi teringat perkataan konyolnya saat penarikan kujang semalam bahwa Sari mencintai Bagas.


"Ndak usah cemburu, cuma kamu yang ada di hati aku Gas." Jawab Sari santai sambil membetulkan letak masker yang menutupi wajahnya.


"Eh, apa Sar ulangi coba sekali lagi?" Tanya Bagas penasaran


"Cuma kamu yang ada di hati aku Gas, aku sayang kamu." 


"Serius?"


"Dua rius dah." Sahut Sari tersenyum meski tak terlihat karena tertutup masker.


"Ini nih namanya liputan membawa berkah." Kata Bagas kegirangan


"Dah fokus lagi ma liputan, nanti kita obrolin lagi sehabis acara." 


"Siap Beib, semangat dah kalo gini kerja!" 


...----------------...


Ritual pemanggilan roh telah dimulai, Pak Koswara tampak mendampingi pawang yang masih merapalkan mantra disekitar ranggap. Ratih yang telah siap dengan kondisi terikat masuk ke dalam ranggap dengan dibekali nampan berisi pakaian penari beserta make up dan perlengkapannya.


Sari memperhatikan dari jauh, dia bisa merasakan aura berbeda dari raut wajah Pak Koswara. Sesuatu telah terjadi dan itu membuat Pak Koswara marah. 


Tatapannya mengarah kepada keluarga Al dan si kecil Pandji, Sari menyadari hal itu dan menatap mereka secara bergantian.


Oh my God … ada apa lagi ini, apes selanjutnya Iki judule, double? No triple for me, damn it …,

__ADS_1


__ADS_2