
Bagas dan yang lainnya menarik nafas lega saat akhirnya semua rencana dan juga liputan mereka berjalan dengan lancar. Meski Sari beberapa kali terlibat konflik dengan Arjuna, setidaknya mereka telah memiliki cukup bukti untuk membantu Sari memecahkan misteri buku tua dan penari hantu.
Mereka tiba dirumah Tante Kurnia sebelum adzan Maghrib. Rara yang sudah lebih dulu pulang menyambut mereka di depan bersama dengan Tante Kurnia.
"Alhamdulillah, leganya Tante liat kalian pulang selamat."
"Iish Tante, kayak kita abis dari mana aja." sahut Sari sambil meletakkan barang bawaannya
"Lho kalian kan baru berjuang cari liputan di kandang singa?!" ujar Tante Kurnia
"Kandang singa apaan, digertak dikit juga keok!" sahut Sari
"Eeh, beneran? Wah bagus dong. Jadi gimana hasilnya?" tanya Tante Kurnia lagi.
"Sukses!" jawab Sari mengembangkan senyuman manis di bibirnya.
"Ya udah kalian mandi sana, bebersih trus magriban dulu. Nanti cerita lagi ya?!"
...----------------...
Tante Kurnia sedang menyiapkan makan malam ketika Sari mendekatinya.
"Tante, Sari sudah tahu semuanya."
__ADS_1
"Tahu apa mbak Sari?" Tante Kurnia yang penasaran
"Tante Danique, tadi Sari lihat dari ingatan si Arjuna. Cuma Sari belum tahu dimana Tante Danique." sesal Sari.
"Apa Tante Danique beneran udah nggak ada?" Tante Kurnia menatap Sari dengan wajah sendu.
Sari mengangguk pelan. Airmata Tante Kurnia mulai menggantung di pelupuk matanya. Sari mengusap lembut punggung Tante Kurnia, berusaha menenangkan dirinya. Tante Kurnia selama ini menanggung penyesalan mendalam sejak menghilangnya Tante Danique belasan tahun silam.
Ia merasa turut bertanggung jawab atas menghilangnya Danique Van Leeuwen. Mom Adeline, ibunda Sari adalah kakak kandung Tante Kurnia. Beliau lah yang menitipkan Tante Danique selama ia melakukan riset di Cirebon. Tante Kurnia merasa dirinya lalai menjaga kepercayaan mom Adeline terlepas dari takdir buruk yang memang telah digariskan Sang Pencipta.
"Ini bukan salah Tante kok. Jangan meratapi nasib yang sudah ditakdirkan Allah, Tante. Nggak baik!" kata Sari berusaha menghibur Tante Kurnia.
"Andai Tante tahu sebelumnya mungkin Tantemu masih hidup, Tante nyesel mbak Sari." ucapnya di sela tangisan.
"Nggak ada yang tahu takdir kita ke depan gimana kan? Sudahlah Tante, doakan saja Tante Danique sekarang supaya dia tenang disana."
"Tante bantu Sari pake doa, biar Sari bisa segera menemukan jasad Tante Danique. Biar Tante Danique dapat pemakaman yang layak."
Tante Kurnia mengangguk dalam pelukan Sari. "Pasti, Tante doakan mbak Sari. Maafin Tante ya mbak Sari?"
Sari diam dan hanya bisa menepuk lembut punggung Tante Kurnia. Doni dan Bagas yang baru saja selesai melakukan editing awal mendekati Tante Kurnia dan Sari.
"Tante …" sapa Bagas perlahan
__ADS_1
Tante Kurnia segera menghapus jejak airmatanya dan melepaskan pelukan Sari.
"Eh, mas Bagas gimana? Laper yaa, aduh maaf ini Tante malah asyik ngobrol. Udah selesai kok yuk kita makan sama-sama dulu?!" kata Tante Kurnia tanpa memperhatikan Bagas dan Doni.
"Tante tau aja kita laper, sini saya bantu?" Bagas dengan cekatan segera membantu Tante Kurnia membawakan peralatan makan.
Dalam waktu singkat mereka sudah siap untuk makan malam bersama. Seperti biasa canda tawa mewarnai kebersamaan mereka. Obrolan ringan mengalir di sela sela makan malam mereka.
"Sar, tadi gimana ceritanya kamu bisa ngadepin Arjuna? Aku sampe tahan nafas lho liat kamu tadi di galeri?" tanya Ahmad penasaran
"Tahan nafasnya panjang apa pendek Mad?" tanya Doni
"Kalo panjang gue dah tamat dong Don!"
"Eh, kali aja Lo sakti kan gue mau berguru!" sahut Doni dengan menaikkan alisnya sebelah.
"Sar, jawab dong ceritain kok bisa Lo ngadepin si Juna?!" pinta Ahmad lagi.
Sari tertawa lalu menjawab sekenanya, "Aku cuma pake kucing doang!"
"Eh mana ada kucing tadi?!" tanya Ahmad
"Adalah, kucing besar kesayangan" jawab Sari dengan senyum mengembang.
__ADS_1
" … "