Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 126


__ADS_3

Kedatangan Pak Koswara cukup mengejutkan Sari. Tawaran yang diberikan Pak Koswara membuat lega Sari dan juga Pak Adit.


"Mas Bagas apa kabar?" sapa Pak Koswara 


"Alhamdulillah baik pak, bapak sehat juga kan?"


"Alhamdulillah baik mas. Saya datang kemari sebenarnya atas undangan Hendra tapi malah dengar kabar duka begini." Pak Koswara menyalakan rokok dan menghisapnya dalam.


Sari hanya terdiam menunggu kata selanjutnya yang keluar dari pak Koswara. Ia juga merasa bertanggung jawab atas perbuatannya pada Mang Usep dan Arjuna. 


Pak Koswara menatap Sari yang masih diam dan memperhatikan dirinya. Rupanya ia juga menunggu Sari memberikan penjelasan kepadanya. Sari menghela nafas panjang.


"Kita perlu bicara panjang setelah ini, tapi sebelumnya tolong bantu Pak Adit dia sudah cukup menderita?!" pinta Sari

__ADS_1


Pak Koswara hanya mengangguk dan menyetujui permintaan Sari. Setelah menghabiskan rokoknya, ia mendekati Pak Adit yang sesekali merintih.


"Saya tahu pak Adit minta bantuan ke Ghani kan?" Pak Koswara menanyakan asal muasal santet yang berbalik padanya.


Pak Adit mengangguk, keringat membasahi tubuhnya. Rasa sakit yang teramat sangat telah menyiksanya selama berhari-hari. Pak Koswara meletakkan tangannya diatas tubuh pak Adit ia mencoba memastikan energi jahat yang berada dalam tubuh.


Kedua asistennya diminta untuk membantu membaringkan Pak Adit di lantai agar lebih leluasa. Pak Koswara kembali meletakkan tangannya diatas tubuh Pak Adit. Mulutnya membacakan sebuah mantra, tangannya mulai bergetar dan bergerak turun ke perut pak Adit.


Pak Adit mengerang kesakitan dan terus berteriak, mulutnya mengeluarkan sumpah serapah dalam bahasa Sunda kuno. Semuanya yang ada di ruang tamu saling berpandangan, mereka tidak memahami kata-kata yang keluar dari mulut Pak Adit.


Pak Koswara kembali melanjutkan ritualnya meski Pak Adit semakin memberontak. Kedua asisten Pak Adit sampai harus memegangi kedua tangan dan kakinya agar pak Koswara bisa mengeluarkan benda yang bersarang dalam tubuh pak Adit.


Tangan Pak Koswara semakin bergetar hebat, ia seperti hendak mengambil sesuatu yang begitu berat bercokol dalam tubuh. Dalam mata batin Pak Koswara ia sedang berkelahi dengan makhluk licin seperti belut berwarna hitam yang bersarang dalam tubuh Pak Adit. 

__ADS_1


Makhluk itu begitu lihai berkelit. Cukup lama ia berusaha menariknya hingga akhirnya Pak Koswara berhasil menariknya bersamaan dengan teriakan panjang dari Pak Adit. Pak Koswara merendam tangannya ke dalam air bunga yang disediakan mas Hendra. Seketika air itu berubah menjadi merah kehitaman.


Pak Koswara kembali membaca mantra kali ini tangannya seolah menarik sesuatu dari perut berjalan ke tenggorokan Pak Adit. Pak Adit seperti tercekik, matanya melotot dan akhirnya ia memuntahkan sesuatu dari mulutnya. Cairan kental hitam yang berbau busuk disertai benda-benda asing.


Setelah beberapa kali pak Adit mengeluarkan kan cairan hitam itu dengan sangat menderita akhirnya semua berakhir. Tubuh Pak Adit terkulai lemas. Pak Koswara lega, tugasnya selesai ia pun menyingkir menjauh dari Pak Adit duduk bersila memulihkan energinya.


Mas Hendra mengambil alih, ia menyapukan air Bidara yang telah didoakan ke tubuh Pak Adit. Rasa dingin yang menenangkan dirasakan Pak Adit saat tangan mas Hendra menyapukan air itu dari ujung kepala ke ujung kaki.


Pak Adit pun terlelap tidur. Tubuhnya yang baru saja terlepas dari kungkungan energi jahat akhirnya bisa beristirahat dan menikmati tidur yang selama ini tak pernah bisa ia rasakan dengan nyaman.


Mas Hendra meminta tolong pada kedua asistennya dan juga Bagas untuk memindahkan Pak Adit ke kamar tamu agar bisa tidur dengan tenang. Mas Hendra juga meminta pada asisten rumah tangga Tante Kurnia untuk membersihkan ruang tamu.


Sari lega, masalah pak Adit berhasil diatasi sekarang waktunya menghadapi pak Koswara.

__ADS_1


Semoga saja dia nggak minta ganti rugi uang lagi, karena ATM ku kosong!


__ADS_2