
Satu jam telah berlalu, Sari tertidur dengan lelap. Ramuan obat-obatan itu mengandung obat tidur yang membuat Sari tidak merasakan nyeri akibat luka-lukanya. Ia baru tersadar ketika salah satu abdi dalem membersihkan tubuhnya dengan handuk basah yang hangat.
"Saya ketiduran rupanya, apa sudah satu jam?" tanya Sari pada keduanya.
Mereka tidak menjawab dan hanya tersenyum. Keduanya membersihkan sisa-sisa ramuan obat yang tadi dibalurkan ke tubuh Sari.
"Nok, ayo bangun! Ikut kami untuk berendam di air khusus."
"Mandi maksudnya?" tanya Sari
Mereka kembali tersenyum, Sari menurut dan mengikuti kedua abdi dalem itu menuju ke ruangan khusus. Aroma dupa, bercampur rempah-rempah menyeruak saat keduanya membuka pintu ruangan.
Sebuah kolam berukuran sekitar 3x3 meter dengan air hangat dan uap yang masih mengepul menanti Sari.
"Saya harus berendam disini?"
"Iya Nok, ini berisi air khusus untuk mengobati lukamu. Air ini berasal dari tujuh mata air keramat dan diberi ramuan penyembuh."
"Oh gitu, amankan?" tanya Sari sedikit takut.
Mereka tertawa, "Aman Nok, sang Prabu juga memakai ini untuk menyembuhkan luka beliau."
"Baiklah, asal aman saya mau. Ya kali aja abis berendam saya berubah jadi …" pikiran Sari yang konyol berandai-andai menjadi salah satu artis kesayangannya.
Kedua abdi dalem itu kembali tertawa melihat wajah konyolnya. Sari masuk tanpa melepas kain Jarik yang menutupi tubuhnya. Ia menikmati hangatnya air yang menyapa kulit, sedikit nyeri yang menggigit ia rasakan di lukanya.
"Berapa lama saya harus berendam?"
"Sampai rasa nyeri yang kamu rasakan hilang. Itu tandanya lukamu sudah pulih." jawab keduanya seraya menutup pintu ruangan.
Sari menutup matanya, ia memilih untuk berkonsentrasi pada penyembuhan lukanya. Uap air dari berbagai rempah-rempah khusus itu membuatnya semakin rileks. Menyingkirkan rasa nyeri yang terasa semakin menyakitkan.
Sari berusaha menahannya, dan terus memejamkan mata. Pelan tapi pasti rasa nyeri itu berangsur menghilang. Uap air pun berkurang, suhu air mulai turun. Tanda bagi Sari untuk menyudahi ritual berendamnya.
Kedua abdi dalem menyambutnya keluar ruangan, mereka sudah menyiapkan pakaian untuk Sari. Ia dibawa ke sebuah ruangan lain. Kedua abdi dalem membuka kain yang menutup luka Sari, ajaib luka Sari sembuh. Hanya meninggalkan goresan yang masih baru.
"Unbelievable … lukanya sembuh?" tanya Sari terheran-heran.
__ADS_1
Kedua abdi dalem itu mengangguk pelan. Mereka kemudian membantu Sari memakai pakaian ganti yang sudah disiapkan.
"Seseorang sedang menunggu kamu di depan. Silahkan ikuti kami?!"
Sari pun kembali mengikuti keduanya menuju ke sebuah saung. Rupanya Bayu yang menunggunya disana.
"Apa semuanya sudah selesai dilakukan?" tanya nya pada kedua abdi dalem itu.
Keduanya menunduk tanpa mengatakan apa pun. Bayu mengerti dan menyuruh keduanya pergi meninggalkan mereka berdua.
"Duduklah Sar!"
Mereka duduk berhadapan, Bayu menuangkan air dari kendi seperti biasanya dan minta Sari untuk meminumnya segera. "Minumlah!"
Sari menurut, air itu rasanya lain ada rasa manis dan juga sedikit sepat saat ditelan. "Air apa ini kenapa rasanya berbeda?"
"Air itu untuk mengobati lukamu dari dalam, tenang itu aman kok! Saya kan nggak mungkin meracuni kamu?!"
"Oh begitu, jadi apalagi yang harus aku lakukan sekarang?!" tanya Sari.
"Pulang, sudah waktunya kamu kembali?!"
"Iya, terus?"
"Hadiah saya mana? Kamu kan janji lho kasih saya hadiah?!" Sari mulai merajuk
"Saya kira kamu lupa Sar?!"
"Mana mungkin saya lupa Bayu, taruhan saya nyawa lho kemarin! Segala sesuatu itu harus berhitung kan?!" sahutnya dengan menaikkan alisnya sebelah.
Bayu tertawa mendengarnya, "Kamu berani berbisnis dengan saya?"
"Bisnis sama kamu harusnya lebih menguntungkan lho, betul nggak?"
"Menguntungkan memang tapi … kamu mau tinggal selamanya disini bareng saya?!"
Sari terkejut, ia baru menyadari kekonyolannya, "Eh, big no of course not! Bisa jadi demit saya kalo tinggal disini!"
__ADS_1
Mereka saling berpandangan dan kemudian tertawa bersama. Setelah puas tertawa, Bayu kemudian menyodorkan kain putih yang berbau sangat wangi pada Sari.
"Ini hadiah yang saya janjikan untuk kamu, jaga baik-baik karena ini warisan leluhur mu!"
"Apa ini?" Sari menerima dan membuka bungkusan putih itu. Ia terkejut karena pernah melihat benda yang serupa.
"Kujang Siliwangi?"
Bayu mengangguk, "Kamu pantas menerimanya, suatu saat kamu akan memerlukannya lagi.
Bayu memberikan Sari beberapa petunjuk yang harus dilakukan dan dipahami sebagai bagian dari trah Siliwangi. Setelah dirasa cukup Sari pun berpamitan untuk kembali ke tubuhnya.
...----------------...
Sari masih belum tersadar, Mom Adeline tampak setia menemani di sisi Sari bersama dengan Dad Barend. Doni dan Bagas juga tampak ada disana menemani kedua orang tua Sari.
Sari kembali ke tubuhnya, perlahan ia mulai membuka matanya.
"Mom … Dad … " panggilnya dengan lemah.
"Sari … eindelijk ben je terug schat!"
(Sari … akhirnya kamu kembali sayang!)
Mom Adeline memeluk Sari dengan erat begitu juga dengan Dad Barend.
"Ik mis je, mom … dad!"
(Aku merindukan kalian mom … dad!)
Bagas dan Doni ikut merasakan kebahagiaan kedua orang tua Sari. Mereka senang sahabat cantiknya itu telah kembali.
"Welcome home Beib?!" Bagas mencium kedua pipi Sari.
"Yaelah, baru melek udah main sosor aja Gas! Gantian ya ambil kesempatan dalam dana umum?!" sindir Doni yang ditanggapi santai oleh Bagas.
"Hei Sar, dah on aja nih? Darimana lo, lama amat pulangnya?!" tanya Doni dengan gayanya yang khas.
__ADS_1
"Abis syuting sinetron ma nyai Sekar Arum!"
" …. "