
Sari terkejut dan berusaha membuka matanya lebar-lebar. Ia penasaran siapa lelaki bersorban itu. Dengan penuh takjub dirinya memandang ke arah pria paruh baya itu.
Siapa lagi ini, datang dari mana kok tiba-tiba ada disini? Apa aku tidur tadi? Batinnya penuh dengan tanya tentang pria bersorban putih itu.
"Jangan takut, saya penjaga mu." Kata si pria itu lembut
"Eh, penjaga apa nih maaf saya nggak paham,"
Lelaki ramah itu kembali tersenyum,
"Nanti juga kamu tahu setelah semua ini selesai, jangan tertidur, dzikir, minta perlindungan Allah."
Sari bahkan tidak bisa berkata apa pun, ia hanya mengangguk dan mengikuti perintah lelaki bersorban putih itu dengan patuh. Sari menutup matanya agar bisa berkonsentrasi sembari terus berdzikir.
Suara-suara aneh kembali terdengar dari luar rumah, suara gaduh seperti ada perkelahian di luar sana, suara jeritan dan lolongan mengerikan pun terdengar di telinga nya. Sari berusaha mengabaikan suara-suara itu. Ia terus melafazkan nama-nama Allah dan meminta perlindungannya.
Beberapa saat kemudian suhu ruangan perlahan kembali normal. Suara jangkrik kembali terdengar, dan tekanan berat yang tadi Sari rasakan kini telah hilang.
" Alhamdulillah … " ucap Mang Aa dan Mas Hendra bersamaan.
Sari baru berani membuka matanya setelah mendengar ucapan syukur mereka.
__ADS_1
"Sudah selesaikah?" Tanya Sari sedikit ketakutan.
"Sudah, semoga tidak ada lagi serangan kedua." Jawab Mang Aa
Sari mencari sosok pria bersorban yang tadi duduk di sebelahnya. Ia bingung kemana perginya pria itu.
"Cari siapa kamu?" Tanya Mang Aa
"Tadi ada orang disini, di sebelah Sari pake sorban putih kemana dia?" Tanya Sari penasaran.
"Pria pake sorban putih?" Tanya Mang Aa lagi ke Sari sambil mengerutkan keningnya.
"Iya, dia bilang dia penjaga Sari muncul tiba-tiba aja. Apa mungkin Sari ketiduran terus mimpi ya Mang?"
"Penjaga kamu, khodam maksudnya?" Tanya mas Hendra
"Khodam? Sari kayak pernah dengar tapi dimana ya?" Gumam Sari sambil mengingat-ingat
"Khodam itu ya penjagamu Sari!" Jawab Mang Aa singkat
"Eeh, … " Sari menatap Mang Aa bingung.
__ADS_1
"Rupanya dia mulai menampakkan dirinya buat njagain kamu, baguslah memang sudah waktunya buat kamu mengerti." Kata Mang Aa
Jam menunjukkan pukul 2 dini hari, Mang Aa mengambil bungkusan daun yang berisi bunga lalu memberikannya pada Sari.
"Ini mandi sana, taruh bunga ini ke dalam ember besar yang sudah Mamang siapin di dalam." Perintah Mang Aa
"Apa ini mang?" Tanya Sari
"Udah jangan kebanyakan nanya, tadi kan dah dijelasin buat buka mata batin kamu. Tinggal mandi aja ribet banget sih, apa mau dimandiin mas Hendra?" Seru mas Hendra
"Ya kalau boleh request mah dimandiin sama yang lain boleh nggak?" Jawab Sari bercanda
"Siapa, Bagas? Heeem, halalin dulu baru kalian mandi mandian sono?!" Kata Mas Hendra dengan ekspresi kesal.
Andai bukan sepupu tersayangnya pasti Sari sudah kena pukulan maut ala Bruce Lee darinya. Mang Aa tertawa melihat kekesalan Mas Hendra sementara Sari segera berlalu sambil mengejek mas Hendra.
"Sar, Mamang lupa baca ini dulu sebelum dan sesudah kamu mandi ya!"
Sari menerima secarik kertas dengan tulisan bacaan tertentu dari Mang Aa. Setelah membacanya Sari pun masuk ke kamar mandi dan memulai ritualnya, meski jauh dalam hatinya Sari sedikit ragu dan takut menghadapi apa yang akan terjadi setelah mata batinnya terbuka.
"Semoga abis mandi nggak liat penampakan, ngeri ngeri sedap kalo begini caranya demi … demi dah. Demi Tante Danique ni ceritanya … Daddy, kita berhitung di belakang yaaa doain Sari kuat," keluh Sari dalam kamar mandi sendiri.
__ADS_1
Dit is het gekste wat ik ooit in mijn leven heb besloten.
( Ini adalah hal tergila yang pernah kuputuskan seumur hidupku. )