
Sari masih menunggu kabar dari Kang Yani juga Kang Yana. Proses pengumpulan informasi memang tidak mudah dan secepat yang Sari harapkan. Membuka kembali kasus Tante Danique 15 tahun silam harus melalui prosedur yang cukup rumit apalagi menyangkut hukum kedua negara.
Kang Yani fokus pada laporan kehilangan orang yang diduga pernah terlibat dengan Mang usep dan Arjuna. Kang Yani berusaha secepat mungkin mengingat keterbatasan waktu yang dimiliki mom Adeline dan Dad Barend.
Hingga malam tiba, Sari belum juga mendapatkan kabar dari Kang Yani. Ia hanya mengirimkan pesan singkat bahwa dirinya masih melakukan penyelidikan sesuai prosedur. Ia meminta Sari untuk bersabar.
"Lama juga ya Gas, prosesnya." keluh Sari, matanya menatap layar ponsel.
"Belum ada kabar?"
Sari menggeleng pelan. Tadinya ia berharap hari ini bisa pergi ke villa itu bersama Andi tapi prosedur yang rumit memaksanya untuk bersabar.
"Kalian nggak jadi pulang hari ini?" tanya Sari
"Aku dah laporan ke pak Arya, kepulangan kita nunggu masalah sama kamu selesai. Tapi ya itu kita harus cari bahan segera buat next episode."
"Mau kemana kita abis ini Gas?"
"Hhm, gimana kalo ke hatimu aja?" canda Bagas.
"Iiiish orang nanya serius kamu jawab gitu!" Sari kesal.
"Lah iya kan, kamu janji apa tempo hari? Abis liputan sintren mau kasih aku keputusan kan?" Raut wajah terlihat serius menatap Sari.
Mereka saling menatap, Sari memang menaruh hati pada Bagas bahkan jauh sebelum Bagas terang terangan menyatakan rasa sukanya pada Sari.
"Kamu beneran serius sama aku Gas?"
"Kalo nggak ngapain aku disini buat kamu?"
"Terus yang penyanyi itu gimana? Bukannya kamu dulu juga bilang serius ma dia?"
"Ya iseng aja, nungguin kamu."
"Iseng? Tapi cukup bikin anak orang berharap."
__ADS_1
"Terus?" Bagas meraih kedua tangan Sari.
"Nggak, belok kiri apa kanan juga boleh." sahut Sari sedikit kesal.
"Aku serius lho Sar, gimana kalo kita …"
"Sar, dicariin mom tuh!" Tiba-tiba saja Doni muncul dan berteriak memanggil Sari, aura persaingan mulai nampak diantara keduanya.
Bagas tampak kesal karena Doni mengacaukan rencananya untuk mengajak Sari menikah. Ia pun berlalu meninggalkan Doni.
"Eh, Lo mau kemana nih Gas? Sini Lo, gue mau bahas liputan selanjutnya?!"
"Ogah … males, Lo aja mikirin sendiri!"
Bagas berlalu meninggalkan Doni yang kebingungan, "Lah kenapa tu bocah marah begitu? Salah apa gue?"
Sari menemui mom Adeline dan Tante Kurnia di ruang makan. Mereka sedang asyik membuat makanan kecil kesukaan Dad Barend, Lekker Holland.
"Mom cari Sari?"
"Doni?"
"Doni?" Mom Adeline berpikir sejenak, lalu ia mengingat sesuatu, "Ah, iya tadi mom cari kamu buat ambilkan sesuatu di kamar."
"Ambilin apaan?"
"Tolong ambilkan tas Mom bisa?"
"Ccckk, kirain suruh ngapain. Emang nggak bisa ambil sendiri apa mom?" gerutu Sari meninggalkan mom Adeline dan Tante Kurnia.
Sari berjalan dengan malas ke kamar, ia mencari tas milik mommy nya.
Sari …,
Suara yang ia kenali sebagai suara mom Adeline, Sari berbalik dan mendapati Tante Danique berada persis di depannya. Ia tersenyum.
__ADS_1
"Tante …"
"Ik wil naar huis, help me alsjeblieft!"
(Saya mau pulang, tolong bantu saya!)
"Binnenkort zal tante, Sari tante terugbrengen naar Amsterdam."
(Sebentar lagi Tante, Sari bakalan bawa Tante kembali ke Amsterdam.)
Tante Danique menggeleng pelan, wajahnya tampak sedih. Ia berbalik dan menghilang begitu saja. Sari merasa bersalah.
"Tante Danique sudah terlalu lama terikat, dia mau pulang segera."
Sari mengambil ponselnya, tidak ada pesan dari kang Yana dan kang Yani. Ia berpikir sejenak lalu segera keluar mencari kedua sahabatnya. Doni sedang asyik Googling ketika Sari mendekat.
"Don, cari jalan terdekat ke Cigugur lewat mana?" pinta Sari tanpa basa basi membuat Doni terkejut
"Astaghfirullah, Sar kaget gue! Untung gue kagak jantungan! Ngapain sih tau-tau nanya Cigugur, tunggu … Lo mau kita kesana sekarang?!"
Sari mengangguk, "Aku hubungi mas Seno dulu nanya alamat!"
"Hah, jangan gila Sar! Ni dah malem lho?!"
Doni mencoba mengingatkan. "Ssstt … diem!" Sari menghentikan Doni untuk bicara.
Sambungan telepon dengan Seno telah terhubung. Sari menanyakan pada Seno letak villa tersembunyi milik Mang Usep. Cukup lama Sari berbicara dengan Seno, beberapa kali Sari menuliskan sesuatu di buku. Petunjuk arah menuju Villa.
"Don, kita berangkat yuk … Bagas mana?" ajak Sari
"Eh, beneran ini Sar jangan gila lho?!"
"Beresin semuanya, panggil Bagas! Besok pagi kita harus nyampe disana!"
Sari berlalu meninggalkan Doni yang masih menggerutu. Ia tidak peduli meski harus menembus gelapnya malam. Dalam pikiran Sari hanya satu segera menemukan jasad Tante Danique.
__ADS_1