
Sari gemetar, dia bingung dengan perkataan Bayu tentang keberadaannya yang diketahui seseorang. Bayu menatap tajam Sari lalu berkata,
"Yang akan kamu hadapi bukan sembarangan orang. Hati-hati, jangan salah langkah!"
"Kamu tahu siapa orangnya?"
Bayu mengangguk, "Dia nggak jauh dari sini, dia juga yang sudah membuat resah para penjaga disini. Kelakuannya sudah diluar batas. Kami meminta bantuanmu Sar, tolong kembalikan tatanan hidup seperti semula." pinta Bayu dengan serius.
"Kenapa harus saya?"
"Dalam darahmu ada trah Siliwangi. Trah bangsawan yang menjaga tatanan hidup murni manusia. Tante kamu menjadi salah satu korban kebiadaban manusia yang lupa akan kodratnya. Tugasmu untuk meluruskan mereka kembali sebagai salah satu penerus trah Siliwangi." Bayu menjelaskan pada Sari dengan penuh penekanan berharap Sari dapat mengemban tugas dari mereka sang penjaga.
Sari masih terdiam, dia bingung karena sepertinya tugasnya lumayan berat. Menghadapi orang dengan kekuatan ilmu hitam bukanlah persoalan mudah apalagi bagi Sari yang tidak mengerti sama sekali tentang hal-hal mistik.
"Tapi, aku nggak paham hal seperti itu Bayu, ya kalau aku menang kalau kalah gimana mati muda dong saya?!" kata Sari, ia bimbang dengan apa yang harus dihadapinya.
Sari sendiri tidak yakin dengan kemampuannya. Bayu menatap Sari lekat lalu tersenyum.
"Kau bisa dan pasti bisa karena itu takdirmu!"
"Eeh, jangan ngarang deh kamu. Saya bahkan nggak punya kemampuan apa-apa dibandingkan dengan mereka lho. Bisa apa saya, mas Bayu?"
__ADS_1
"Mas?" tanya Bayu sambil memiringkan kepalanya, ia sedikit terkejut.
"Kenapa, nggak boleh saya panggil kamu mas? Umur kamu pasti kan jauh diatas saya, ratusan bahkan iya kan?"
"Ah iya, kamu benar tepatnya sekitar 130 tahun." jawab Bayu.
"Eeeh, tua banget? Jadi pantas kan saya panggil mas, atau eyang buyut … ah no, nda cocok kamu terlalu tampan dan muda buat jadi eyang buyut!" sahut Sari dengan tertawa kecil.
Bayu ikut tertawa, sementara dalam hatinya Sari merutuki dirinya yang nekat menggoda sosok gaib tampan di depannya.
Sari … Sari, gila aja Lo Sar demit pake digodain kalo dia jatuh cinta ke saya gimana itu coba? Tapi ganteng juga dia lumayan buat serepnya Bagas … eeh, astagfirullah nyebut … nyebut …,
"Bisa kita serius sekarang?" tanya Bayu pada Sari ketika mereka puas tertawa.
"Yang bakal kamu hadapi itu orang dengan kemampuan ilmu hitam tinggi. Dia membuat perjanjian dengan bangsa jin yang meminta tumbal nyawa wanita."
"Termasuk Tante Danique?"
Bayu terdiam dan mengangguk, "Maaf tapi memang begitu keadaannya. Saya nggak bisa banyak membantu kamu, tapi saya bisa kasih kamu petunjuk."
"Apa itu?"
__ADS_1
"Kaki gunung Ciremai, didasar tebing."
"Maksudnya, Tante Danique ada disana?"
Bayu tidak menjawab dan hanya menunjukkan ekspresi datar. Sari sudah bisa memahami jawaban dari pertanyaan ya sendiri. Tapi sebelumnya ia harus berkunjung ke galeri seni itu.
"Gunakan para penjagamu Sar, mereka bakal bantuin kamu. Latih dirimu untuk bisa menguasai mereka."
"Penjaga?"
"Khodam kamu!"
Sari bingung ia sendiri tidak tahu bagaimana cara menggunakan para penjaganya. Baru saja kemarin ia tahu siapa para penjaganya dan sekarang harus mampu mengendalikan pikiran untuk menggunakan mereka.
...----------------...
"Sar, lo masih lama? Udah sore ini, balik yuk kasian Ahmad ma Rara nungguin kita!" ajak Doni sambil menepuk bahu Sari.
"Eh, Don kamu disini? Bentar lagi aku mau nanya ke … "
Bayu menghilang, rasa bingung bercampur kesal menggelayuti pikiran Sari karena pertanyaan nya belum terjawab tuntas oleh Bayu.
__ADS_1
Iiish, hilang lagi kan dia belum juga selesai nanya … kebiasaan tu demit satu sukanya ngilang begitu aja, untung ganteng coba kalo nggak, aku nggak mau ketemu dia lagi! Sungut Sari dalam hati.