Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 98


__ADS_3

Sementara itu Bagas, Doni, dan Ahmad dengan mantap melangkahkan kaki mereka ke dalam galeri seni. Sebelumnya mereka menyempatkan diri bertanya pada warga sekitar untuk memastikan bahwa galeri seni itu benar milik Mang Usep.


Memasuki halaman depan galeri tampak jajaran hasil karya seni rupa dari beberapa seniman lokal asuhan Mang Usep. Mereka bertiga berusaha untuk tetap waspada. Seorang pria menggunakan totopong beungkeut, ikat kepala khas Sunda,  dengan corak macan Ali Cirebonan, menyambut kedatangan mereka bertiga.


"Selamat siang mas, saya bisa ketemu dengan pemilik galeri ini?" sapa Bagas dengan sopan.


"Siang juga, maaf mas-mas ini darimana ya kalo boleh saya tahu?" tanya pria berkumis tipis berusia sekitar tiga puluhan.


"Kami dari Semarang, saya Bagas ketua tim liputan. Kami dari salah satu stasiun televisi swasta. Kalau diperkenankan kami mau meliput seni khas Cirebonan disini." jawab Bagas.


"Oh dari televisi, sebentar ya mas saya masuk dulu ke dalam. Sementara mas tolong isi buku tamu dulu." Pria dengan ikat kepala khas Sunda itu bergegas masuk ke dalam menemui seseorang.


Doni memperhatikan kemana perginya pria itu sambil melihat keadaan sekitar.


"Gas, semoga aja dia kasih tau langsung ke Mang Usep. Biar kita nggak kelamaan disini, gue kepikiran Sari ni! Perasaan kok kagak enak bener ninggalin dia ndirian di mobil?!" ujar Bagas sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Sama gue juga Don, apa karena kita tegang kali ya? Feeling gue juga nggak enak ini?!" bisik Ahmad sedikit ketakutan.


"Ssstt, jangan berisik takut ada yang denger berantakan nanti rencana kita! Tuh liat ada cctv dimana mana, bahaya! Bersikap senormal mungkin, kalo nggak bisa apes nanti kita!" kata Bagas mengingatkan kedua rekannya.


"Eeh iya, ada cctv Mad! Gue kagak nyadar!" bisik Doni pada Ahmad.


"Sama gue juga, ya udahlah kita main drama aja Don. Kasian Sari kalo ini sampai gagal!"

__ADS_1


"Drakor maksud lo,Mad? Gue jadi babang Song Joong Ki dah yang gantengan dikit!" sahut Doni sambil tersenyum lebar.


"Heem, Don … Song Joong Ki ngenes disamain ma Lo! Sana putih kaya plastik nah elo, item kayak areng!" balas Ahmad 


"Sialan, gue disamain areng!" 


"Udah nggak apa-apa, biarpun areng juga banyak yang nungguin Don." kata Bagas sambil menulis di buku tamu.


"Cakep ni  temen sejati Lo, Gas … tapi siapa yang nungguin gue?!" 


"Nooh, nenek-nenek di pinggiran empang. Nungguin elo buat nyebrang kali!" sahut Bagas tanpa dosa membuat Doni menciut bagai kerupuk terkena air.


Ahmad dan Bagas tertawa melihat ekspresi Doni yang langsung bersungut-sungut. Suara deheman keras dari arah belakang menghentikan tawa mereka bertiga.


"Ehem … "


"Nggak kok mas, cuma takut aja kalian ketawanya nggak bisa berhenti." jawabnya kalem.


Bagas tersenyum lalu menggaruk kepalanya lalu bertanya, "Gimana apa bisa kami ketemu dengan pemiliknya langsung mas?" 


"Mang Usep sedang pergi, tadi kami sudah menghubungi beliau dan semua urusan akan ditangani mas Juna putranya.!" Jawab pria itu yang akhirnya diketahui bernama Dika, dari tag nama yang dipakainya.


"Bisa kami temui dia sekarang mas?" tanya Bagas harap-harap cemas.

__ADS_1


"Bentar lagi mas Juna kesini kok, lagi nerima tamu," jawab Dika.


Mereka bertiga menunggu kedatangan Arjuna sambil melihat-lihat lukisan yang dipasang di dinding. Semua lukisan itu hasil tangan dingin para pelukis lokal yang dibuat langsung diatas kaca dengan metode melukis cermin atau terbalik. 


Teknik melukis dari bagian belakang kaca ini membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan keterampilan. Tidak boleh ada kesalahan sedikitpun pada saat pengecatan. Metode pewarnaannya menganut terang ke gelap dan gelap ke terang. Ketelitian diperlukan disetiap goresan kuas agar tidak menabrak kontur atau garis gambar.


Seni lukis kaca mulai dikenal di Cirebon sejak abad ke 17 Masehi bersamaan dengan perkembangan agama Islam di pulau Jawa. Lukisan kaca digunakan sebagai media dakwah pada masa Panembahan Ratu di Cirebon. 


Lukisan kaca sebagian besar didominasi bentuk wayang dan kaligrafi. Biasanya didalamnya terdapat sentuhan ciri khas bernuansa islami seperti masjid, Ka'bah, dan kaligrafi yang memuat ayat-ayat Qur'an dan Al Hadist.


Bagas dan Doni begitu mengagumi keindahan lukisan yang tergores diatas kaca, hingga tidak menyadari kehadiran Arjuna orang yang mereka tunggu sedari tadi.


"Selamat siang mas-mas semua? Ada yang bisa saya bantu?" sapanya dengan ramah.


Mereka bertiga secara refleks menoleh ke arah suara berat yang menyapa, dan seketika terperangah melihat Arjuna.


"Edyaaan … lanang kok ngguantenge konyok ngene Gas, luput … luput!" bisik Doni pada Bagas.


(Gilaaa … cowok kok ganteng banget kayak gini Gas!)


 


"Ho oh ik, Mas e oplas kayae Don!"

__ADS_1


( Iya, masnya oplas kayaknya Don!)


"Apalah kita yang cuma remahan rengginang?!" sahut Ahmad.


__ADS_2