Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 30


__ADS_3

Sari sedikit terganggu dengan suara seseorang yang bergumam, suara itu semakin lama semakin terdengar jelas di telinganya. Saking jelasnya suara itu membuatnya terjaga, Sari membuka matanya lebar-lebar berusaha mencari asal suara gumaman. 


Sari melangkah keluar kamar, dilihatnya ruang tamu sudah kosong menandakan semua orang sudah terlelap tidur. Jam berdentang menunjukkan pukul tiga dini hari. Sari pun melangkahkan kakinya kembali menuju kamar karena suara gumaman itu telah menghilang.


Betapa terkejutnya Sari ketika ia berbalik dan melihat seorang wanita dengan pakaian putih yang lusuh sedang duduk sambil membuka sebuah buku tua di ruang tengah tepat di depan kamar yang ditempati Sari dan Rara.


Seingat Sari tadi tidak ada siapa pun saat ia keluar dari kamarnya. Sari yang penasaran pun berjalan perlahan mendekati wanita berambut panjang dan berwajah pucat itu.


"Mbak, siapa ya?" Tanya Sari berhati-hati sambil berusaha melihat ke kanan dan ke kiri mencari seseorang yang mungkin terbangun seperti dirinya.


Wanita itu masih diam seribu bahasa dan tetap membuka buku tua yang ada di depannya dengan perlahan. Sari memberanikan diri untuk melihat buku apa yang sedang dibaca oleh wanita misterius itu.


Ia terkejut karena ternyata buku tua yang sedang dibaca oleh wanita misterius itu adalah buku miliknya.


"Ehm, mbak maaf kok bisa ambil buku saya?" Tanyanya lagi.


"Mbak, tertarik ya sama buku saya?" Sekali lagi Sari bertanya.


Wanita itu masih terdiam, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Sari.


"Mbak, ditanya kok diem aja dosa lho," kata Sari dengan sedikit kesal.


Wanita itu berhenti membuka buku, dan perlahan memperlihatkan wajahnya ke arah Sari. 


Sari terkejut melihat wajah pucat dan dingin tanpa ekspresi yang ditunjukkan wanita misterius itu. Matanya menatap lekat ke arah Sari. Dingin dan hampa.


Sari memperhatikan kulit wanita itu pucat kebiruan seperti orang tenggelam dalam air. Beberapa kulit tangannya bahkan terkelupas dan mengeluarkan bau tidak sedap.

__ADS_1


Perlahan Sari berjalan mundur,


Dia siapa, kenapa tadi aku nda lihat tangannya begitu, wajahnya mengerikan apa dia hantu? Batinnya


"Mbak sakit ya, maaf kalo saya mengganggu diterusin aja deh baca bukunya lagi...saya pinjemin ke mbak," kata Sari sedikit gemetar.


Wanita itu terus menatap ke arah Sari tanpa berkedip, ia bangun dari kursi yang didudukinya dan berjalan mendekati Sari.


Sari semakin gemetar, rasanya ia ingin berlari tapi tidak bisa. Ia hanya bisa berjalan mundur perlahan. 


Ya ampun jangan deketin dong jauh... jauh sana, dosa apa saya ketemu demit. Fix ini mbak nya hantu beneran...kata Sari dalam hati.


Jarak mereka semakin dekat dan dekat hingga akhirnya Sari menabrak dinding di belakangnya yang memaksanya berhenti. Wanita itu terus mendekatinya dan mengikis jarak diantara mereka berdua.


Bau busuk tercium dari tubuh wanita misterius itu. Sari pun hanya bisa pasrah dan memejamkan matanya.


...----------------...


Seseorang menepuk bahu Sari dengan keras, membuatnya tersadar dan membuka matanya,


"Sar, ngapain kamu disini?" tanya suara seseorang yang ia kenal dari arah belakang.


Sari menoleh dan melihat Mas Hendra berdiri di belakangnya,


"Mas Hendra?" gumamnya


"Iya, ini saya kamu pikir siapa?" tanya mas Hendra keheranan.

__ADS_1


Sari mengalihkan pandangannya ke arah dia bertemu dengan wanita misterius tadi.


"I-itu tadi s-siapa ya mas?" tanya Sari kebingungan.


"Siapa, dari tadi kamu sendiri disini mas nda liat siapapun selain kamu?" jawab mas Hendra.


" Hah, serius itu tadi apa perempuan pake baju putih mukanya ngeri pucet banget." sahut Sari masih tidak percaya dengan ucapan mas Hendra.


Mas Hendra mendekati kursi yang dimaksud Sari,


"Heem, kamu ni maksudnya disini?" tanyanya lagi sambil menunjukkan posisi yang dimaksud


" I-iya mas." jawab Sari


Mas Hendra memperhatikan kursi yang dimaksud Sari, sejurus kemudian ia mengerutkan keningnya.


"Ini buku siapa?" tanyanya pada Sari


"Buku Sari tadi perempuan itu membaca buku Sari mas disitu, kemana perginya ya kok hilang?" tanya Sari kebingungan


"Sini deh kamu, lihat apa yang ada di buku kamu." perintah mas Hendra


Sari mendekati mas Hendra dan melihat ke arah buku tua miliknya. Ia terkejut melihat lembaran bukunya terlihat basah seperti habis terkena air. Lebih terkejut lagi ketika halaman yang terbuka menunjukkan catatan harian seseorang tentang kisah cintanya dengan seorang pemuda, dan itu adalah kisah Tante Danique Van Leeuwen.


Sari dan mas Hendra saling berpandangan, berbagai macam rasa berkecamuk dalam pikiran mereka berdua.


Aneh tapi nyata.

__ADS_1


__ADS_2