
Sementara itu di dalam kamar, Sari duduk termangu di tepi ranjang. Ia menatap ke arah buku tua yang ada di atas meja rias. Sari berdiri dan mendekati meja tempat buku itu diletakkan.
Hantu penari, buku tua, Tante Danique, dan tadi penari topeng, apa mereka saling berkaitan? Bikin penasaran aja deh, jadi pengen buka buku ini tapi …,
Sejenak Sari ragu, tapi rasa penasaran membuatnya memberanikan diri untuk membuka buku itu. Sari meraih buku tua itu dan memindahkannya ke atas ranjang. Sari menghela nafas panjang sebelum ia perlahan membuka buku.
Semoga tidak terjadi apa-apa …, batinnya
Halaman pertama mulai ia baca dengan perlahan,
...Amsterdam, 2000 June 12...
...De eerste keer dat ik hem ontmoette was op een seminar over culturele kunst. Hij verbaasde me met de Indonesische cultuur. Knappe man genaamd Imran, met zijn typische Indonesische. Ik werd verliefd op hem vanaf de eerste keer dat we elkaar ontmoetten. ...
...Hij is mijn liefde, één en voor altijd....
...****************...
__ADS_1
...Amsterdam, 12 Juni 2000...
...Pertama kali aku bertemu dengannya dalam seminar seni budaya. Ia membuatku kagum akan budaya Indonesia. Pria tampan dengan aksen Indonesianya yang kental. Pria tampan bernama Imran, dan aku jatuh cinta padanya sejak pertama kali kami bertemu....
...Dialah cintaku satu untuk selamanya....
...****************...
Sari berhenti membacanya sejenak.
"Jadi benar ini buku milik Tante Danique, tapi siapa Imran?" Gumamnya
Sari menemukan sebuah foto yang terselip di balik halaman selanjutnya. Foto seorang pria tampan.
"Inikah yang bernama Imran, not bad."
Beberapa foto kebersamaan mereka berdua juga tertempel dalam buku itu. Momen dinner romantis berdua, makan bersama teman sejawat, saat mereka piknik berdua, dan foto bersama layaknya pasangan dengan memakai Klederdracht lengkap dengan sepatu kayunya.
__ADS_1
"Mereka serasi sekali, mom benar wajah Tante Danique mirip sepertiku hanya saja wajah Tante Danique terlihat lebih bule, matanya juga lebih cantik dan lebar." Gumam Sari
Sari mulai merasakan getaran aneh ketika akan membuka halaman selanjutnya. Ia pun ragu untuk membukanya lagi. Lalu dengan segera menutup buku itu.
"Kok saya takut yaa, bener kata Bagas ni buku dibaca bareng-bareng aja deh. Horor rasanya!"
Sari mengembalikan buku itu ke atas meja, hembusan angin kecil menerpa wajahnya. Sari terkejut,
Eh, angin darimana ini kan nggak ada kipas angin nyala … batinnya bingung
Sari merasakan hembusan nafas yang mengenai tengkuknya. Seketika bulu kuduknya meremang, punggungnya mulai merasakan berat seolah ada sesuatu yang menimpanya.
Hembusan nafas itu kembali ia rasakan. Sari memejamkan matanya, berusaha menguatkan hati. Perlahan ia berbalik dan membuka matanya. Sari lega, tidak ada apapun di belakangnya.
Syukurlah … selamat saya, kirain ada siapa di belakang… batin Sari.
Ia memutuskan untuk segera pergi tidur, dan memaksakan diri untuk memejamkan matanya. Hembusan nafas kembali ia rasakan di tengkuk nya kali ini bahkan terdengar cukup keras dan disertai bisikan tidak jelas. Sari mengepalkan tangannya mencoba mengendalikan dirinya.
__ADS_1
Ya Allah, datang lagi dah dia … bodo amat pura-pura nggak ngerasa ajalah …, batin Sari lagi.
Dengan sekuat tenaga Sari mencoba melawan rasa takutnya. Ia mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dalam hati semampunya hingga akhirnya ia tertidur pulas.