
Sari terkulai lemas, sesekali ia memuntahkan darah segar dari mulutnya. Doni dengan cekatan membersihkan mulut Sari dari sisa darah dengan tisu. Luka yang diakibatkan serangan Dika cukup dalam, memar parah dan lebam di beberapa bagian tubuh Sari tampak jelas terlihat. Doni menggendong Sari keluar dari ruangan Mang Aa.
Doni berteriak membangunkan Bagas yang tertidur di ruang keluarga. Ia terkejut mendengar suara Doni yang memanggilnya dan melihat Sari terkulai lemas dengan sisa darah di mulutnya.
"Astaghfirullah … kenapa Sari Don?"
"Sari terluka di dimensi lain, dilihat dari memar di badannya ini luka parah Gas!" Doni menurunkan tubuh Sari di sofa panjang.
Ia berusaha memanggil Sari agar tersadar, Doni memeriksa denyut nadinya. Lemah.
"Kita harus bawa dia ke rumah sakit Don, gue takut ada apa-apa?!" saran Bagas.
"Lo bangunin Tante juga mommy dah, gue kasih Sari energi dulu biar dia kuatan dikit mpe rumah sakit."
Bagas segera berlalu meninggalkan Doni dan mengetuk pintu kamar Tante Kurnia dan juga mom Adeline. Pagi masih cukup gelap, sang mentari bahkan belum muncul di ufuk timur tapi kehebohan sudah melanda rumah Tante Kurnia.
"Astaghfirullah … Sari, wat is er gebeurd?!" (Apa yang terjadi?!)
Mom Adeline tampak histeris melihat keadaan putrinya. Ia hendak mendekati Sari tapi melihat Doni sedang memberikan energi untuknya, Mom Adeline memberikan ruang sejenak untuk Sari.
Doni tampak berkonsentrasi menyalurkan energi miliknya pada Sari. Doni membuka sedikit kaos yang dikenakan Sari, tampak memar parah memanjang sekitar 10 centimeter di perutnya. Sari mengerang lirih saat Doni menyentuhnya memar itu.
__ADS_1
"Ya Allah kenapa itu Mas Doni … perut Sari …?!" Mom Adeline menangis melihat kondisi putrinya.
"Sari terluka Tante, sepertinya parah! Dia harus dibawa ke rumah sakit, nadinya semakin melemah!" sahut Doni tanpa memandang ke arah Mom Adeline, ia fokus dengan penyembuhan Sari sementara.
"Mobil dah siap Don, kita bawa Sari sekarang gimana?" seru Bagas dari kejauhan, dengan setengah berlari ia mendekati Sari dan Doni.
"Bentar Gas, dikit lagi." jawab Doni dengan tangan sedikit gemetar.
Bagas memperhatikan sahabatnya itu, ia tidak menyangka jika Doni yang dia kenal tidak pernah serius, konyol ,dan terkadang sedikit tulalit justru menyimpan kemampuan yang bisa dibilang setara dengan mas Hendra dan Mang Aa.
"Tante tolong hubungi mas Hendra, Sari butuh bantuan dari dia juga?!" pinta Doni pada Tante Kurnia.
"Kita bawa sekarang Gas, Tante sama Om bisa ikut kami kan?" tanya Doni pada kedua orang tua Sari.
Doni tersenyum, "Dia kuat Tante, cuma butuh sedikit istirahat."
Dad Barend dan mom Adeline mengikuti langkah Doni yang menggendong tubuh Sari. Mereka membawa Sari ke rumah sakit terdekat. Sepanjang jalan mom Adeline terus menangis dan mengusap lembut kepala Sari yang ditidurkan di bangku tengah. Doni masih terus mengalirkan energinya pada Sari agar ia bisa bertahan.
Setibanya di rumah sakit Sari segera mendapatkan penanganan intensif. Setelah menunggu seharian di ruang perawatan, denyut nadi Sari semakin menguat seiring dengan kembalinya kesadaran Sari. Selang oksigen dan jarum infus masih menancap di tangan putihnya. Ia berhasil melewati masa kritis.
...----------------...
__ADS_1
Dalam dimensi lain, Sari berada di kediaman Bayu. Luka-luka Sari sedang diobati abdi dalem Keraton Kasepuhan. Ramuan obat-obatan kuno yang diracik dari tumbuh-tumbuhan liar tampak menutupi bagian tubuh Sari yang terluka.
Dengan sabar dua orang abdi dalem wanita itu menutup dan mengikat kuat luka Sari agar cepat pulih. Sesekali Sari meringis kesakitan karena kuatnya tarikan yang dilakukan abdi dalem itu untuk mengikat luka.
"Aaaw … ini sakit lho, bisa pelan dikit nggak ngikatnya?!" pinta Sari
"Ini harus diiket kuat Nok, kalo nggak ramuan obatnya nda ngeresap sampai dalam." sahut salah satu abdi dalem.
Sementara abdi dalem yang lainnya kembali sibuk meracik ramuan yang ditumbuknya dengan tradisional. Dedaunan dari tanaman liar dan berbagai jenis rimpang yang Sari tidak ketahui jenisnya menjadi bahan-bahan utama dari ramuan kuno milik sang Prabu.
Seorang abdi dalem meminta Sari untuk tidur terlentang. Luka dipunggungnya membuat Sari sedikit kesulitan, dengan sabar abdi dalem itu membantu Sari merebahkan tubuhnya diatas dipan kayu dengan sebuah bantal empuk untuk menyangga kepalanya.
Ramuan yang baru saja ditumbuk itu langsung dibalurkan merata ke seluruh tubuh Sari. Sari merasakan sensasi dingin dan hangat yang menggelitik tubuhnya, membuat tubuhnya yang lelah dan sakit terasa sedikit rileks.
"Istirahat Nok, obatnya biar meresap baik ke tubuh kamu. Setelah satu jam, kami kembali lagi."
"Satu jam ya, jangan lebih?!" sahut Sari membuat kedua abdi dalem itu saling berpandangan dan tersenyum.
Setelah ditinggalkan keduanya Sari berusaha bangun, ia ingin duduk. Tapi rasa nyeri membuat Sari mengurungkan niatnya, ia hanya menatap seluruh tubuhnya dan menggeleng ringan.
Ya ampun, ini badan kenapa jadi hijau semua gini … berasa jadi lontong dah saya mana bau bumbu dapur lagi, nggak keren amat siih!
__ADS_1
Bayu apa nggak bisa kamu sewain saya spa disini?!