Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 111


__ADS_3

Sari tersenyum sinis tanpa menoleh pada Arjuna. Ia tahu apa yang ada dipikiran Arjuna saat ini. Dengan santai Sari memakan permen karet pemberian Doni, sesuatu yang nakal terbersit di benaknya sesaat.


Pagelaran tari topeng Pandji dilanjutkan dengan keempat tarian sisa yaitu Pamindo Rumyang dan Patih Kelana.


"Mas Juna bisa jelasin tarian tentang tarian ini?" tanya Sari


"Empat tarian terakhir sebenarnya hanya penjabaran dari Sang Hyang Tunggal yang memecahkan dirinya menjadi dua pasangan yang saling bertentangan. Tarian Pamindo - Rumyang gerakannya lebih halus, lembut, bercirikan perempuan sementara Patih - kelana gerakannya gagah lelaki lakian." jawab Arjuna menjelaskan pada Sari.


"Pamindo Rumyang simbol untuk orang dalam yaitu istri dan adik ipar pandji sementara Patih Kelana simbol dari pihak luar." lanjut Arjuna


Tarian topeng kelana mengingatkan Sari pada sosok hantu penari yang sering ia lihat. Dirinya tiba-tiba kembali tertarik dalam dimensi ruang berbeda. Ia kembali melihat mimpinya, seorang penari topeng kelana didorong dengan kasar hingga pingsan oleh seorang wanita dengan umpatan kasar. Penari itu adalah Danique, tantenya.


Hati Sari terasa sakit melihatnya, ia juga melihat Arjuna yang ada di sana begitu juga dengan Dika dan Seno. Sari mengumpat dalam hati mengutuk kejahatan mereka pada Tante Danique. 


"Mbak Sari … mbak, kenapa kok ngelamun?" Arjuna menyadarkan Sari dari dimensi ruang dan kembali ke alam nyata.


"Eh, mas Juna nggak apa-apa kok. Sampai mana tadi, maaf saya nda konsen?" sahut Sari tergagap.


Dengan kurang ajarnya Arjuna memegang bahu Sari dan mendekatkan tubuhnya, membuat wajah mereka begitu dekat. Sari terkejut tapi hatinya bahagia, karena kesempatan untuk menjahili Arjuna akhirnya datang.


"Kamu kenapa ngelamun? Mikirin saya ya?" tanya Arjuna intens sambil menatap wajah Sari.


Sari membalas tatapan Arjuna, dalam hati ia menertawakan sikap Arjuna.

__ADS_1


Buaya dikadalin ya gini nih … Juna, peletmu nggak mempan buat aku!


Sari tidak menjawab pertanyaan Arjuna dan dengan santainya ia membuat balon dari permen karet lalu dengan sengaja memecahkannya tepat di wajah Arjuna.


"Uups, sori?!" 


Arjuna tentu saja terkejut, ia tidak mengira Sari akan bersikap kekanak-kanakan terhadapnya. Sari melepaskan tangan Arjuna dari bahunya, ia tersenyum sinis pada Arjuna.


"Mas Juna sebaiknya jaga sikap, jaga tangan mas Juna juga. Ini nggak sopan!"


Arjuna terkejut, mantranya sama sekali tidak bekerja untuk Sari. Bahkan Sari seolah menantang dirinya. Arjuna mundur selangkah, baru kali ini ia merasa kalah.


Anak ini bisa menahan mantraku? Luar biasa, siapa dia?


"Eeh, maaf kalau sikap saya dirasa kurang ajar. Saya nggak ada maksud lain kok, cuma sedikit khawatir tadi. Sekali lagi maaf ya?!" Arjuna kesal sekali, targetnya kali ini jauh lebih sulit dari perkiraan nya.


"Ik accepteer de excuses van Juna. volgende keer niet meer doen!"


(Saya terima permintaan maaf mas Juna. Lain kali jangan lakukan lagi!)


Arjuna bingung dengan perkataan Sari, dan terus menatapnya tidak percaya. Bagas yang sedari tadi memperhatikan mereka akhirnya memutuskan untuk mendekat. Ia sempat mendengar pembicaraan Sari dan Arjuna.


"Sar, pake bahasa Inggris kasian mas Juna nggak ngerti! Maaf mas, ini anak blasteran Indonesia-Belanda jadi sering kelepasan ngomong bahasa Belanda." kata Bagas berusaha mengurai tatapan tajam Sari pada Arjuna.

__ADS_1


"Oh pantas saja mbak Sari cakep banget, rupanya blasteran ya?" sahut Arjuna berpura-pura tidak masalah dengan sikap Sari.


"Ya gitulah mas, maaf kalo dia sedikit kurang sopan. Bule adatnya beda?!" kata Bagas lagi sambil menunjukkan barisan giginya


"Emang ada apa kalo bule? Saya kurang sopan gimana coba Gas, dia yang kurang ajar ke saya duluan!" Sari tidak terima dirinya dikatakan tidak sopan.


"Ya nggak apa-apa Sar, sudahlah jangan diterusin. Kerja!" 


"Tapi aku nggak terima dia gitukan, That's impolite!" seru Sari mulai emosi.


Bagas mendekati Sari dan berbisik mengingatkan Sari, "Sar, inget jangan emosi. Jangan sampai ni misi kita kebongkar!"


"Aku sengaja memancing emosinya. Udah kamu tenang aja!" jawab Sari


"Gila kamu, jangan macam-macam! Ini wilayah mereka!" bisik Bagas lagi.


"Dan ini area perang aku, Gas!" sahut Sari tegas sambil menatap tajam mata Bagas.


Sari yang tersulut emosi membangunkan macan putih penjaganya. Maung bodas itu mujud dan berada di sebelah Sari, matanya yang kemerahan menatap tajam ke arah Arjuna yang terkejut melihat penjaga Sari. Maung bodas itu mengaum keras menciutkan nyali Arjuna. 


Mang Usep pun tak kalah terkejutnya melihat wujud maung bodas yang telah menampakkan dirinya di depan mereka, bersiap menjaga tuannya. Maung bodas kembali mengaum keras dan berganti menatap Mang Usep menanti perintah Sari.


Mang Usep dan Arjuna kini berhadapan dengan musuh nyata Sari dan penjaganya, sang Maung Bodas.

__ADS_1


__ADS_2