Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 127


__ADS_3

Jam menunjukkan waktu lewat tengah malam Sari, Mas Hendra, Pak Koswara ditemani Bagas dan Doni masih betah berada di ruang tamu yang telah dibersihkan. Kopi panas dan cemilan ringan baru saja disuguhkan oleh asisten rumah tangga Tante Kurnia.


Sari sebenarnya sangat lelah, setelah melewati malam panjang yang mengharu biru baginya. Tapi kehadiran Pak Koswara telah membuatnya terusik, meski kantuk mulai menyerangnya.


"Hen, saya ikut berduka atas meninggalnya Mamang kamu. Nggak nyangka dia pergi secepat ini." Pak Koswara meminum kopinya mengenang Mang Aa.


"Mohon dimaafkan semua kesalahan Mamang ya pak!" pinta mas Hendra


"Justru saya yang harusnya minta maaf sama kalian. Saya atas nama keluarga mohon maaf atas kelakuan saudara kami yang tidak pantas. Saya sebenarnya malu dengan kelakuan si Usep dan Juna. Tapi … nasi sudah jadi bubur, mereka juga sudah mendapatkan balasannya." sesal Pak Koswara.


Mas Hendra menghela nafas panjang, kejadian tragis yang menimpa kedua keluarga memang tidak disangka sangka. Tapi jalan takdir telah ditentukan Yang Kuasa.


"Sudah takdir harus begini pak, kami hanya bisa mengikhlaskan kepergian Mang Aa."


Sari masih terdiam, bayangan kematian Mang Usep dan Arjuna kembali menari di benaknya. Sari menjelma menjadi Dewi kematian mereka malam itu, sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


"Mbak Sari kenapa, kok ngelamun?" tanya Pak Koswara.


"Eh, nggak apa-apa pak. Cuma capek aja, sehari semalam belum istirahat." jawab Sari.


"Silakan kalo mau istirahat, saya juga mau pulang sudah larut malam sekali." Pak Koswara lalu berpamitan pada mereka.


"Beneran ini pak nggak tambah kopi lagi, mumpung saya pengen begadang ni?!" Doni menyindir Pak Koswara.


"Mas Doni bisa aja, klo mau begadang besok temenin saya gimana mau nggak?!" tanya pak Koswara sambil mengerlingkan matanya sebelah.


"Eeh, nemenin kemana nih pak cari cewek bukan?" tanya Doni dengan gayanya yang konyol.


"Ngibing nyok, ada pentas seni di desa saya. Katanya ada penari baru cantik lagi, mau ikutan?" 


"Waduh kenapa sekarang pak, lagi berduka niih temen saya … kalo Minggu depan mau dah. Saya angkatin kesana demi …"

__ADS_1


"Demi apa Don?" tanya Bagas dengan menaikkan alisnya sebelah membuat Doni ciut nyalinya.


"Demikian pak Bos!"


Pak Koswara tertawa, "Saya juga bercanda mas Bagas, mana mungkin saya bersenang senang sementara masih berduka. Lagi pula ada hal yang harus saya urus, benar kan mbak Sari?!" 


Sari terkejut mendapati pertanyaan dari Pak Koswara, "Eeh, ada apaan nih maksudnya pak?


Pak Koswara tersenyum, lalu kembali bicara. "Besok siang saya tunggu mbak Sari di galeri, bisa kan?!"


"Besok siang ya? Ok, saya pasti datang!" jawab Sari


Pak Koswara pun berpamitan untuk kembali ke galeri seni Mang Usep. Ia harus mengurus beberapa hal yang berkaitan dengan peninggalan Mang Usep baik harta benda ataupun kewajibannya.


"Istirahat sana, kamu belum tidur kan dari kemarin. Kita obrolin semua ini besok biar segeran dikit pikiran sama badan kamu!" perintah Mas Hendra pada Sari.


Sari menuruti mas Hendra, ia berlalu meninggalkan yang lainnya tanpa banyak bicara. Sari lelah. Tubuhnya sudah tidak mampu lagi menopang badannya. Setelah mengganti pakaiannya, ia pun tertidur lelap.


Sari masuk ke dalam alam bawah sadarnya. Ia berada di tempat yang dirasa tidak asing baginya, 


Sari menoleh ke arah suara itu, senyumnya mengembang. "Waalaikumusaalam … Bayu!"


Bayu tersenyum dan ia menyambut kedatangan Sari di alamnya. "Selamat datang Sari di rumah saya."


"Ini rumah kamu?" tanya Sari seraya mengedarkan pandangannya. 


"Anggap saja begitu." jawabnya dengan senyuman khasnya yang manis.


Sebuah rumah besar dengan halaman luas nan asri. Saung kecil berada tak jauh dari tempat mereka berdiri. Hari sepertinya menunjukkan waktu senja terlihat dari semburat warna jingga yang menghiasi langit.


Bayu mengajak Sari duduk di saung. Ia menuangkan air untuk Sari dalam gelas yang terbuat dari tanah liat.

__ADS_1


"Minumlah!" 


Sari yang memang merasa haus segera meminumnya. Bayu tersenyum lagi. Lelembut tampan satu ini memang sangat ramah dan suka sekali tersenyum. Tapi jangan ditanya ketika amarah menguasai Bayu ia akan berubah menjadi sosok yang menakutkan.


"Saya ikut berduka atas meninggalnya Mamang kamu."


"Rupanya kamu juga tahu berita ini?!"


"Tentu saja, berita kematian beliau langsung tersebar di kalangan kami bangsa jin. Dia orang baik terkadang beliau juga membantu kami menyelesaikan masalah." jawab Bayu.


Sari tersenyum datar, membahas kepergian Mang Aa adalah hal yang menyakitkan baginya. Ia masih merasa ini kegagalannya.


"Seandainya waktu itu …"


"Tidak ada kata seandainya Sari, semua sudah ketentuan Illahi. Manusia tidak bisa menentangnya, demikian juga dengan kami yang hanya bisa melihat tanpa bisa menyentuh takdir." tukas Bayu.


"Maung bodas membantuku membunuh dua manusia hina itu."


"Tugasnya memang menjagamu dan sudah kewajibannya mereka melindungimu meski itu harus membunuh."


"Tapi …"


"Sari, ada hal besar yang menantimu di depan! Kamu mau menemukan Danique bukan?"


"Itu memang tujuan aku kesini Bayu?!"


"Seperti yang sudah aku katakan, dia ada di kaki gunung Ciremai. Datanglah kesana dengan bantuan penjagamu. Aku akan memberimu bantuan jika saatnya tiba." 


"Bantuan apa? Bukannya ada keempat penjaga disisiku itu sudah cukup?"


Bayu menggelengkan kepalanya, "Yang kamu hadapi besok bukan sembarangan jin, dia sudah hidup ribuan tahun lalu."

__ADS_1


Sari menatap Bayu skeptis,


Ribuan tahun lalu, yang benar saja Bayu?! Waaaah ... luar biasa semoga kami nggak tanding suit!


__ADS_2