Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari
Bab 106


__ADS_3

Obrolan mereka berlanjut hingga menjelang dini hari. Sari yang dipaksa untuk mengikuti akhirnya harus kalah dengan rasa kantuknya. Ia pun tertidur dengan posisi masih terduduk. Sementara Bagas dan Doni masih berdiskusi dengan Mang Aa dan Mas Hendra.


Sari masuk dalam mimpi terdalamnya. Rasa lelah dan letih yang mendera membuat dirinya tidur lelap.


Sari … Sari …,


Suara wanita dengan suara sedikit parau memanggilnya. Sari terbangun dan mendapati dirinya hanya seorang diri di pendopo. Ia melihat semuanya tertidur lelap, tidak ada Mang Aa dan mas Hendra lagi.


Sari … Sari …,


Suara itu kembali memanggilnya, Sari mencari sumber suara itu. Matanya menyapu seluruh ruangan, sejurus kemudian seorang wanita dengan topeng kelana seperti dalam mimpinya telah berdiri tak jauh dari kamar kosong yang difungsikan sebagai gudang.


Sari terkesiap, jantungnya berdetak sangat kencang karena terkejutnya. Hantu penari itu datang lagi tapi dengan topeng yang utuh. Ia melambaikan tangannya pada Sari, memintanya mendekat. Awalnya Sari ragu, tapi kemudian ia memberanikan diri untuk mendekati sosok bertopeng itu.

__ADS_1


Perlahan dengan langkah berat Sari mendekati sang penari, satu … dua … tiga …, kini jarak mereka hanya menyisakan beberapa jengkal saja. Sari berdiri terpaku ia merasa tidak ingin lagi mendekat.


Penari itu pun seolah menatap Sari dari balik topeng kelananya. Mereka berhadapan tanpa ada reaksi selama beberapa saat. Perlahan tangan sang penari meraih topeng yang dikenakannya.


Sari takut. Ia membayangkan wajah seperti apa yang ada dibalik topeng, karena selama ini sosok gaib yang ada di depannya selalu datang dalam wujud mengerikan.


Perlahan topeng itu terlepas sempurna dari wajahnya. Penari itu menunjukkan wajah dibalik topengnya.


Danique Van Leeuwen, ia menampakkan dirinya pada Sari. Wajahnya masih secantik dulu tapi lebih pucat, ia tersenyum pada Sari. Tidak ada wajah mengerikan dan penuh darah seperti yang biasa ditujukan padanya. Tidak ada kengerian dalam suara yang didengarkannya. 


Sari, maafin Tante …,


Sari kembali mendengar suara itu, tapi bibir Tante Danique bahkan tidak bergerak sedikitpun, ia hanya tersenyum. Mata Sari terasa panas dan tak terasa air mata menetes membasahi pipinya, ia sangat terharu bisa melihat tantenya lagi. 

__ADS_1


Sari mendekati sosok yang menyerupai Tante Danique, ia ingin memeluknya. Sari merindukan Tante Danique. Namun, kakinya terasa kaku dan berat untuk melangkah. 


Berkali-kali ia mencoba mengangkat kaki tetap saja tidak berhasil, seolah ada yang memegang kuat kaki bagian bawahnya. Ia melihat ke arah kakinya dan benar saja tangan-tangan berwarna hitam legam yang keluar dari tanah telah mencengkeram kuat kakinya. Sari bergidik ngeri melihatnya. Tangan itu bukan saja memegangnya kuat tapi seolah menariknya masuk ke dalam tanah. 


Sari melihat ke arah sosok Tante Danique, ia hanya tersenyum ketika Sari terus memanggilnya. Sosok yang tadinya berwajah cantik berubah perlahan menjadi mengerikan. Wajahnya mengelupas, darah keluar dari sela-sela matanya, mulutnya menyeringai menunjukkan gigi kecil tajam kehitaman. 


Sari terus tertarik masuk ke dalam tanah, dirinya seolah berdiri diatas pasir hisap yang terus menelannya bulat-bulat. Semakin ia meronta semakin cepat ia terhisap. Sari pasrah.


Sosok itu tiba-tiba saja sudah berada di depan wajah Sari. Ia kembali menunjukkan barisan gigi kehitamannya. Bau anyir dan busuk tercium begitu menyengat, Sari menangis dan memberanikan dirinya untuk terus menatap sosok mengerikan di depannya. 


Sari yakin Tante Danique mendengar suaranya, dan ia pun yakin masih ada jiwa Tante Danique yang terbelenggu berada di dalam sosok penari topeng itu. 


"Tante, tolong Sari … bertahanlah Tante Danique!"

__ADS_1


__ADS_2