
Mata Andi yang tadinya ketakutan melihat siapa pun tiba-tiba berubah menjadi garang dan beringas. Kilatan matanya menunjukkan amarah dan dendam pada Sari. Seno hendak menarik tubuh Andi tapi ia urung melakukannya saat melihat kode tangan Sari.
"Kamu pembunuh Dika! Aku melihat kamu ada disana!" Teriaknya tepat di wajah Sari.
Sari tersenyum miring, ia menantang Andi dengan memegang tangan Andi agar semakin menekankan pisau tajam itu ke lehernya. Konsentrasi Andi terpecah, ia melirik ke arah tangan Sari yang ganti memegangnya kuat.
"Jadi mas Andi mau balas dendam juga? Seperti yang dilakukan Dika?!" tanya Sari.
Nafas Andi terasa panas dan memburu karena amarahnya. Ia kembali menatap Sari. "Kamu sama seperti mereka yang suka membunuh gadis-gadis sebagai tumbalnya! Kalian semua memanfaatkan saya!"
"Saya? Tidak, saya bukan pembunuh seperti mereka mas Andi, saya hanya mencari keadilan! Orang yang saya sayangi juga mereka bunuh!" sahut Sari mulai terbawa emosi.
"Kamu bohong! Lalu kenapa kamu bunuh Dika!"
"Simpel, dia kaki tangan Arjuna. Lelaki hina yang telah membunuh orang yang saya sayangi!" jawab Sari
"Dimana Dika menguburkan mereka, mas Andi?! Katakan dan kamu mungkin akan selamat!" pinta Sari sekali lagi dengan penuh tekanan.
Mata Andi telah tertutup oleh amarah dan ketakutan yang amat sangat, dia tidak menjawab tapi justru mengayunkan pisau nya untuk dihujamkan ke arah tubuh Sari.
Sari berhasil menangkap tangannya, dan menahannya kuat. Mata mereka beradu.
Sari menggunakan kekuatannya untuk memasuki memori Andi. Lewat matanya, Sari masuk dalam ingatan terdalam Andi. Ia menelusuri dan mencari memori yang berhubungan dengan Tante Danique.
Satu persatu memori yang seperti slide film itu ia cari. Begitu banyak yang harus Sari cari hingga akhirnya ia bisa menemukannya. Sebuah kenangan belasan tahun silam. Memori itu sama persis seperti yang ditunjukkan Tante Danique. Sari memperhatikan setiap jalan yang mengarah pada tempat dimana tubuh Tante Danique dikuburkan.
__ADS_1
Sari rupanya terlalu kuat menggunakan kekuatannya pada Andi. Mata Andi terlihat memutih dari hidungnya keluar darah segar, mulutnya terbuka seolah menahan rasa sakit mendalam.
"Sar, udah! Kasian ni anak orang bisa mati kalo Lo terusin!" Doni berusaha menyadarkan Sari yang masih menatap tajam Andi.
Sari tidak bergeming ia masih berada dalam ingatan Andi. Darah segar semakin deras mengalir dari hidung Andi.
"Sari!" Doni menepuk pipi Sari berusaha menghentikan Sari.
Seno menarik tubuh Andi, sementara Doni melepaskan cengkraman tangan Sari perlahan membuat Sari perlahan kembali menguasai dirinya. Tubuh Andi terkulai lemas. Ia pingsan.
"Lo mau bunuh orang lagi Sar?!" tanya Doni saat Sari mulai tenang.
"Sorry, aku lepas kontrol." jawab Sari memandang tubuh Andi yang tidak sadarkan diri di lantai.
"Maksud lo?"
"Kita ke Cigugur, ada sebuah vila milik Mang Usep disana. Mereka menguburkan sebagian jasad tumbal itu disana." jawab Sari.
Doni tidak percaya begitu saja, ia pun menanyakan hal itu pada Seno.
"Apa Mang Usep punya villa disana?"
"Iya beliau punya, disana juga tempat Kania disembunyikan selama ini."
"Jadi begitu rupanya, meskipun Arjuna akhirnya membunuh Tante Danique tapi dia juga tidak ingin Kania jauh dari ibundanya." gumam Sari.
__ADS_1
"Hubungi polisi, Andi juga harus bertanggung jawab karena membantu mereka." pinta Sari pada Seno.
Sari mendekati tubuh Andi yang masih belum sadar. Tangannya menyentuh kepala Andi dan mulutnya merapalkan sesuatu. Perlahan Andi sadar. Seno dibantu Bagas mengikat kedua tangan Andi sambil menunggu polisi datang.
Bagas mendekati Sari dan memeriksa luka goresan pisau di leher Sari.
"Baru aja kamu sembuh sekarang luka lagi!"
"Nggak apa kok, ini belum seberapa ketimbang luka di hati Gas." jawab Sari kalem.
"Cckk, kamu ini udah terluka gini masih aja becanda Sar!" Bagas sedikit kesal pada sikap Sari.
"Well, this is me Beib!" sahut Sari dengan senyum mengembang.
"Jangan ulangi lagi, ok?!" pinta Bagas sambil menyeka luka Sari yang mengeluarkan darah.
"Pelan-pelan Gas, sakit lho ini!"
"Oh bisa kerasa sakit juga, kirain jagoan anti sakit?" goda Bagas yang langsung mendapat pukulan dari Sari.
Tak berapa lama polisi pun datang. Setelah menjelaskan sedikit perihal yang terjadi Andi pun digelandang ke kantor polisi terdekat. Sari dan yang lainnya juga diminta ikut untuk memberikan keterangan.
"Kayaknya kita harus menunda pulang ke Semarang nih." kata Bagas pada Doni saat berada di mobil.
"Petualangan kita belum selesai, I need you both!"
__ADS_1